Senin, 20 Februari 2017

PROGRAM MENATA JIWA (PMJ)

Menata jiwa sebagai suatu KONSEP sebenarnya bukan hal baru, melainkan sudah diterapkan oleh banyak orang dari masa ke masa, dari suatu generasi ke generasi berikutnya di berbagai penjuru dunia. Sebab, dapat dipastikan setiap orang dari zaman dulu sampai sekarang selalu menginginkan ketenangan atau kedamaian dalam kehidupannya. Konsep ini bahkan terus berlangsung untuk masa yang akan datang. Namun sebagai suatu PROGRAM, menata jiwa kalaupun ada masih jarang diterapkan, khususnya untuk menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Berbeda dengan KONSEP, menata jiwa sebagai suatu PROGRAM lebih menitikberatkan kepada SISTEM yang ditata secara profesional, sehingga hasil capaian penerapannya dalam kehidupan sehari-hari lebih dirasakan. Dalam tulisan ini, penulis menyusun PENATAAN JIWA menjadi sebuah program yang disebut PROGRAM MENATA JIWA (PMJ).

Tujuan dari PROGRAM MENATA JIWA adalah untuk mencapai KETENANGAN JIWA melalui perbaikan watak atau karakter sehingga terbentuk akhlak yang baik. Sedangkan perbaikan watak yang baik mesti diawali dengan cara berpikir yang lebih baik pula, yaitu dimulai dengan membersihkan cara berpikir lama yang tidak baik dan diganti dengan cara berpikir benar dengan berdasarkan ayat-ayat Allah di dalam al Quran. Karena ayat-ayat Allah adalah pedoman bagi seluruh manusia dan di sisi lain manusia adalah makhluk yang berpikir, maka berpikir benar adalah berpikir berlandaskan al Quran. Jika al Quran digunakan sebagai pedoman berpikir, dapat dipastikan ucapan dan tindakan orang yang mempedomaninya menjadi lebih baik. Sebab, tidak ada pedoman yang lebih baik dari ayat-ayat Allah, khususnya bagi yang meyakininya.

Diyakini bahwa dengan menggunakan kekuatan bahasa dari Firman Allah sebagai acuan utama, maka perbaikan watak dapat dilakukan karena tidak ada kata-kata atau kalimat yang lebih benar dan lebih kuat daripada Firman Allah S.w.t. Dengan cara memahami ayat-ayat al Quran dan secara bertahap dapat pula mengingat ayat-ayat tersebut diharapkan nantinya banyak orang yang berpikir berdasarkan al Quran. Sekaligus dengan cara ini diharapkan juga pemahaman tentang kehidupan dari sumber yang keliru tergantikan dengan pemahaman yang bersumber dari ayat-ayat al Quran. Diyakini bahwa tidak sedikit orang yang terlanjur memperoleh nilai-nilai kehidupan secara sembarangan yang mengakibatkan mereka menjadi terombang-ambing dalam kehidupan ini.

Dasar pemahaman dalam PROGRAM MENATA JIWA adalah bahwa pikiran mesti dikelola supaya dapat diberdayakan dan pada saat yang sama tidak membahayakan. Pikiran sebagai alat berpikir dapat diumpamakan seperti sebilah pisau dapur yang jika tidak digunakan secara hati-hati untuk mengiris bawang atau sayur boleh jadi akan berfungsi sebagai alat mengiris jari. Ungkapan ‘the power of mind’ atau kekuatan pikiran mengisyaratkan bahwa pikiran memiliki kekuatan. Kekuatan pikiran ini jika tidak dikendalikan maka pikiranlah yang justru mengambil alih kendali. Dengan perumpamaan lain, jika diibaratkan dengan pengendara mobil, perbedaan antara sang supir mengendalikan mobil atau sebaliknya si supir dikendalikan oleh mobil mengakibatkan hasil yang jauh berbeda. Akibat yang pertama diyakini berakhir dengan keselamatan dan tentunya berakibat berbeda dengan kasus yang kedua dimana sang supir dikuasai oleh kendaraannya. Demikian sekadar perumpamaan.

Sebenarnya memang ironis jika seseorang dikuasai oleh pikirannya sendiri, padahal pikiran itu adalah pikirannya. Artinya, pikiran tersebut adalah kepunyaannya yang dapat ia gunakan untuk kepentingannya menjalani kehidupan supaya ia tetap dalam keselamatan. Untuk menyadari hal ini, mau tidak mau seseorang mesti keluar dari kungkungan pikiran yang memberatinya. Agaknya tidaklah berlebihan mengumpamakan seseorang yang dikuasai oleh pikiran itu ibarat orang yang terpenjara di balik teralis besi. Bahkan lebih parah lagi karena orang yang terpenjara dalam kerangkeng besi masih ada yang dapat meloloskan diri, namun tidak demikin dengan yang terpenjara oleh pikiran yang boleh jadi hanya berakhir dengan kematian.

Adalah merupakan ungkapan umum seseorang mengatakan sesuatu dengan menyampaikan pembicaraannya berdasarkan ‘menurut pikiranku’. Sedikit yang menyadari bahwa ungkapan ‘menurut pikiranku’ tersebut ADA KALANYA berarti ‘penguasaian’. Maknanya, pikiran sudah mendikte si pemilik pikiran. Padahal semestinya si pemilik pikiran benar-benar menyadari bahwa dialah yang mengendalikan pikirannya itu. Kenyataannya ternyata tidak sedikit orang yang dikuasai oleh pikiran yang menyebabkan ia terperangkap dalam berbagai masalah yang sebenarnya dapat diatasi jika pengendalian pikiran dilakukan lebih dini. Dengan adanya PROGRAM MENATA JIWA hal yang dikhawatirkan ini dapat dihindari. Sehingga pikiran-pikiran yang memang bersifat liar dapat diatur.


Di dalam PROGRAM MENATA JIWA terdapat beberapa tahapan proses yang mesti dilalui. Proses tersebut adalah PENGENALAN, PEMBERSIHAN dan PENATAAN JIWA. Pengenalan jiwa adalah tahapan mengenali diri sendiri karena jiwa adalah bagian dari diri. Tanpa pengenalan jiwa, proses membersihkannya belum dapat dilaksanakan. Demikian pula, proses penataan jiwa belum dapat dilakukan sebelum pembersihan jiwa. Secara singkat, jiwa adalah bagian dari diri yang terdiri dari pikiran dan perasaan. Kehadiran perasaan timbul karena kehadiran pikiran. Jika pikiran tenang, perasaanpun tenang. Sebaliknya, jika pikiran kacau, perasaanpun galau. Dengan mengenal jiwa diketahui keadaan jiwa, yakni apakah jiwa itu kotor atau tidak. Jika keadaan jiwa kotor, jiwa tersebut mesti dibersihkan terlebih dahulu. Selanjutnya jika sudah bersih jiwa tersebut mesti ditata ulang. Proses ini dapat diumpamakan seperti komputer yang tercemar virus yang mesti dibersihkan dan diformat ulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar