Menata jiwa sebagai suatu KONSEP sebenarnya bukan hal baru, melainkan sudah
diterapkan oleh banyak orang dari masa ke masa, dari suatu generasi ke generasi
berikutnya di berbagai penjuru dunia. Sebab, dapat dipastikan setiap orang dari
zaman dulu sampai sekarang selalu menginginkan ketenangan atau kedamaian dalam
kehidupannya. Konsep ini bahkan terus berlangsung untuk masa yang akan datang.
Namun sebagai suatu PROGRAM, menata jiwa kalaupun ada masih jarang diterapkan,
khususnya untuk menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Berbeda dengan
KONSEP, menata jiwa sebagai suatu PROGRAM lebih menitikberatkan kepada SISTEM yang
ditata secara profesional, sehingga hasil capaian penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari lebih dirasakan. Dalam tulisan ini, penulis menyusun PENATAAN JIWA
menjadi sebuah program yang disebut PROGRAM MENATA JIWA (PMJ).
Tujuan dari PROGRAM MENATA JIWA adalah untuk mencapai
KETENANGAN JIWA melalui perbaikan watak atau karakter sehingga terbentuk akhlak
yang baik. Sedangkan perbaikan watak yang baik mesti diawali dengan cara
berpikir yang lebih baik pula, yaitu dimulai dengan membersihkan cara berpikir
lama yang tidak baik dan diganti dengan cara berpikir benar dengan berdasarkan
ayat-ayat Allah di dalam al Quran. Karena ayat-ayat Allah adalah pedoman bagi
seluruh manusia dan di sisi lain manusia adalah makhluk yang berpikir, maka
berpikir benar adalah berpikir berlandaskan al Quran. Jika al Quran digunakan
sebagai pedoman berpikir, dapat dipastikan ucapan dan tindakan orang yang
mempedomaninya menjadi lebih baik. Sebab, tidak ada pedoman yang lebih baik
dari ayat-ayat Allah, khususnya bagi yang meyakininya.
Diyakini bahwa dengan menggunakan kekuatan bahasa dari
Firman Allah sebagai acuan utama, maka perbaikan watak dapat dilakukan karena tidak
ada kata-kata atau kalimat yang lebih benar dan lebih kuat daripada Firman
Allah S.w.t. Dengan cara memahami ayat-ayat al Quran dan secara bertahap dapat
pula mengingat ayat-ayat tersebut diharapkan nantinya banyak orang yang
berpikir berdasarkan al Quran. Sekaligus dengan cara ini diharapkan juga pemahaman
tentang kehidupan dari sumber yang keliru tergantikan dengan pemahaman yang
bersumber dari ayat-ayat al Quran. Diyakini bahwa tidak sedikit orang yang
terlanjur memperoleh nilai-nilai kehidupan secara sembarangan yang
mengakibatkan mereka menjadi terombang-ambing dalam kehidupan ini.
Dasar
pemahaman dalam PROGRAM MENATA JIWA adalah bahwa pikiran mesti dikelola supaya dapat
diberdayakan dan pada saat yang sama tidak membahayakan. Pikiran sebagai alat
berpikir dapat diumpamakan seperti sebilah pisau dapur yang jika tidak
digunakan secara hati-hati untuk mengiris bawang atau sayur boleh jadi akan berfungsi
sebagai alat mengiris jari. Ungkapan ‘the
power of mind’ atau kekuatan pikiran mengisyaratkan bahwa pikiran memiliki
kekuatan. Kekuatan pikiran ini jika tidak dikendalikan maka pikiranlah yang justru
mengambil alih kendali. Dengan perumpamaan lain, jika diibaratkan dengan
pengendara mobil, perbedaan antara sang supir mengendalikan mobil atau
sebaliknya si supir dikendalikan oleh mobil mengakibatkan hasil yang jauh
berbeda. Akibat yang pertama diyakini berakhir dengan keselamatan dan tentunya
berakibat berbeda dengan kasus yang kedua dimana sang supir dikuasai oleh
kendaraannya. Demikian sekadar perumpamaan.
Sebenarnya
memang ironis jika seseorang dikuasai oleh pikirannya sendiri, padahal pikiran
itu adalah pikirannya. Artinya, pikiran tersebut adalah kepunyaannya yang dapat
ia gunakan untuk kepentingannya menjalani kehidupan supaya ia tetap dalam keselamatan.
Untuk menyadari hal ini, mau tidak mau seseorang mesti keluar dari kungkungan
pikiran yang memberatinya. Agaknya tidaklah berlebihan mengumpamakan seseorang yang
dikuasai oleh pikiran itu ibarat orang yang terpenjara di balik teralis besi. Bahkan
lebih parah lagi karena orang yang terpenjara dalam kerangkeng besi masih ada
yang dapat meloloskan diri, namun tidak demikin dengan yang terpenjara oleh pikiran
yang boleh jadi hanya berakhir dengan kematian.
Adalah
merupakan ungkapan umum seseorang mengatakan sesuatu dengan menyampaikan
pembicaraannya berdasarkan ‘menurut pikiranku’. Sedikit yang menyadari bahwa
ungkapan ‘menurut pikiranku’ tersebut ADA KALANYA berarti ‘penguasaian’.
Maknanya, pikiran sudah mendikte si pemilik pikiran. Padahal semestinya si
pemilik pikiran benar-benar menyadari bahwa dialah yang mengendalikan pikirannya
itu. Kenyataannya ternyata tidak sedikit orang yang dikuasai oleh pikiran yang
menyebabkan ia terperangkap dalam berbagai masalah yang sebenarnya dapat
diatasi jika pengendalian pikiran dilakukan lebih dini. Dengan adanya PROGRAM
MENATA JIWA hal yang dikhawatirkan ini dapat dihindari. Sehingga
pikiran-pikiran yang memang bersifat liar dapat diatur.
Di dalam PROGRAM MENATA JIWA terdapat beberapa tahapan proses yang mesti
dilalui. Proses tersebut adalah PENGENALAN, PEMBERSIHAN dan PENATAAN JIWA. Pengenalan
jiwa adalah tahapan mengenali diri sendiri karena jiwa adalah bagian dari diri.
Tanpa pengenalan jiwa, proses membersihkannya belum dapat dilaksanakan. Demikian
pula, proses penataan jiwa belum dapat dilakukan sebelum pembersihan jiwa. Secara
singkat, jiwa adalah bagian dari diri yang terdiri dari pikiran dan perasaan. Kehadiran
perasaan timbul karena kehadiran pikiran. Jika pikiran tenang, perasaanpun
tenang. Sebaliknya, jika pikiran kacau, perasaanpun galau. Dengan mengenal jiwa
diketahui keadaan jiwa, yakni apakah jiwa itu kotor atau tidak. Jika keadaan
jiwa kotor, jiwa tersebut mesti dibersihkan terlebih dahulu. Selanjutnya jika
sudah bersih jiwa tersebut mesti ditata ulang. Proses ini dapat diumpamakan
seperti komputer yang tercemar virus yang mesti dibersihkan dan diformat ulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar