Selasa, 28 Maret 2017

MENGENALI PERASAAN

MENGENALI PERASAAN tidak persis sama dengan MENGENAL PERASAAN. Tujuan dari membedakan kedua istilah ini adalah agar tampak pembatas antara kedua ungkapan. “Mengenali perasaan” bermakna bahwa yang mengenali lebih besar daripada perasaan itu sendiri. Pemahaman ini tentunya tidak benar-benar sama dengan “mengenal perasaan” yang menyisakan kemungkinan makna bahwa perasaan lebih besar dari yang mengenal perasaan tersebut. Jika perasaan lebih besar, maka pengendaliannya menjadi sulit atau bahkan mustahil. Pengertian ini berlaku juga terhadap ungkapan mengenali pikiran dan mengenali jiwa serta mengenali diri’.


Pikiran dan perasaan tidak dapat dipisahkan, keduanya saling terkait karena saling mempengaruhi. Keadaan pikiran yang kacau berdampak pada perasaan, karena kekacauan pikiran itu menyebabkan ketidaknyamanan pada area perasaan. Sebaliknya, perasaan yang nyaman memungkinkan terkondisinya pikiran yang juga baik. Pikiran yang berupa sejumlah informasi tersimpan di jaringan syarat-syaraf otak dan disebut dengan istilah ‘memori’ karena sesuatu atau lain hal berupa stimulus atau rangsangan dari luar dapat menimbulkan perasaan. Sebagai misal, orang yang dibesarkan di lingkungan keluarga atau masyarakat yang sopan dan lembut akan bereaksi saat ia bertemu dengan orang yang berprilaku kasar terhadap dirinya. Reaksi yang timbul karena terjadinya benturan nilai-nilai kehidupan yang ia anut dapat menjadikan dirinya tertekan. Akibatnya, ia bisa saja menjadi emosional karena tekanan perasaan yang dipicu melalui pikirannya. Emosi yang dipicu pikiran ini disebut PERASAAN yang karena tidak terkendali memungkinkan timbulnya rasa benci, dan bahkan rasa dendam dan penyakit hati lainnya.

Pada satu sisi, perasaan adalah RASA yang boleh jadi berupa rasa baik maupun buruk. Rasa yang baik, antara lain adalah rasa kasih sayang dan senang, sedangkan rasa buruk adalah rasa iri dan dengki. Rasa seperti ini disebut PERASAAN. Jadi mengenali perasaan adalah mengenali rasa baik dan buruk yang timbul dari pikiran dan dipicu oleh rangsangan dari luar diri. Di sisi lain, PERASAAN tidak sama dengan RASA walaupun kata dasar pe-RASA-an berasal dari kata RASA. Makna dari kata PERASAAN itu lebih terarah ke diri batin seperti perasaan sedih, dengki, gembira atau perasaan jengkel. Ungkapan “Hatiku sedih” hanya bermakna perasaan yang terluka, bukan berarti luka dibagian hati yang terdiri dari segumpal daging.

Makna kata RASA mencakup rasa pada diri jasad dan diri batin atau jiwa. Perih karena terluka pisau adalah RASA di jasad. Sedangkan perih terluka karena kata-kata yang menyakitkan lebih cenderung ke RASA yang bermakna PERASAAN. Kepahaman memaknai perbe-daan makna kata PERASAAN dan kata RASA akan memudahkan pemahaman kata JIWA yang menjadi salah satu fokus dari pembahasan saat ini.

Sejauh ini dapat dipahami PERASAAN berhubungan erat dengan PIKIRAN, pikiranlah pemicu reaksi pada perasaan. Dengan memahami hal ini, maka SUPAYA DAPAT MENENANGKAN PERASAAN seseorang mesti terlebih dahulu MENENANGKAN DIRI atau PIKIRANNYA. Ketika pikiran tenang, perasaan pun tenang. Pertanyaan yang mungkin timbul, “Semudah itukah?” Memang mudah menenangkan pikiran karena kehilangan uang dalam jumlah yang kecil, sehingga perasaanpun segera tenang. Namun tidak demikian ketika uang yang hilang dalam jumlah agak besar. Kemelekatan terhadap benda-benda duniawi membuat sulit untuk mencapai ketenangan atau kedamaian. Kalaupun seseorang dapat melepaskan pikirannya dari kemelekatan, maka hal ini hanya dapat terjadi apabila dikehendaki Allah yang mengaruniai seseorang dengan sifat ikhlas karena mau BERSERAH DIRI, yakni MENERIMA KETETAPAN ALLAH.

Telah disinggung bahwa berpikir adalah suatu proses yang terjadi apabila dalam otak telah terinstal memori sebelumnya. Tanpa memori seperti butiran informasi sebagai dasar berpikir, proses berpikir tersebut belum dapat berlangsung karena berpikir adalah pengaktifan latar belakang pengetahuan yang dipicu oleh stimulus dari luar. Semakin banyak informasi yang tersedia di syaraf-syaraf otak, semakin baik dan lancar pula proses berpikir. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Informasi yang didapati dari pengalaman dan pendidikan sangat menentukan kemampuan berpikir. Seorang nelayan yang dalam kesehariannya bergelut dengan menangkap ikan di laut mengalami kesulitan apabila ditanyakan tentang cara membedah otak yang biasanya dilakukan oleh dokter ahli bedah. Di dalam otak nelayan itu tidak tersimpan memori atau latar belakang pengetahuan cara membedah otak manusia.

Selain KUANTITAS informasi yang tersimpan di otak, KUALITAS informasi juga sangat menentukan proses berpikir. Apabila informasi negatif lebih dominan dari pada informasi yang positif, maka kemungkinan untuk berpikir buruk akan mendominasi pemikiran. Sehingga, setiap muncul stimulus dari luar diri, kecenderungan berpikir buruklah yang akan terjadi. Sedangkan pikiran negatif itu sedikit banyaknya mengganggu ketenangan jiwa. Oleh karena itu, bagi yang mempunyai memori negatif yang lebih dominan, maka pembersihan latar belakang pengetahuan yang negatif ini mesti dilakukan terlebih dahulu. Melalui beberapa latihan yang efektif, memori negatif ini dapat di-DELETE dan di-INSTAL dengan nilai-nilai yang jauh lebih baik sebagai bekal menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Jika tidak demikian, sulit baginya untuk mencapai ketenangan.

Sebagai contoh, seorang remaja yang mempunyai latar belakang pengetahuan berupa informasi negatif bahwa bunuh diri adalah solusi bagi orang yang putus cinta seperti pernah ia saksikan melalui pemberitaan surat kabar atau televisi cenderung melakukan hal yang sama seperti yang ia lihat dari media massa tersebut. Bukan tidak mungkin ketika ia sendiri mengalami putus cinta akan memilih meminum racun nyamuk sebagai pilihan menyelesaikan masalah. Atau saat terlihat tali jemuran, ia berpikir bahwa bunuh diri dengan menggantungkan leher adalah sebuah cara mengakhiri penderitaan yang sedang ia tanggung atau alami.

Tidak demikian halnya, jika di dalam otak remaja tadi telah pernah diinstal nilai-nilai kehidupan yang positif bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang dimurkai oleh Allah, maka kekuatan memori positif tadi akan timbul sebagai tameng untuk tidak melakukan tindakan nekat bunuh diri. Nah, karena perasaan timbul dipicu oleh pikiran, maka pikiran negatif menimbulkan perasaan yang tidak tenang. Hal ini tentunya berlaku sebaliknya, apabila pikiran positif yang lebih dominan, ketenangan pun akan mudah dicapai. Dari penjelasan ini, maka benarlah Firman Allah bahwa beruntung orang yang menjaga kesucian jiwanya.

Sebagai kesimpulan sementara dari sub MENGENAL PERASAAN ini, dapat disampaikan bahwa sebenarnya tidak terlalu sulit memahami yang dimaksud dengan PERASAAN karena kata ini sering diucapkan dalam kegiatan sehari-hari. Sedih, gembira, gusar dan senang adalah contoh dari kata-kata yang mengungkapkan kehadiran perasaan pada seseorang. Sedih berpasangan dengan gembira dan gusar berpasangan dengan senang. Dari contoh tersebut sekaligus terlihat bahwa perasaan seperti halnya pikiran adalah dualitas yaitu berpasang-pasangan. Pikiran terdiri dari pikiran yang baik dan pikiran buruk. Perasaan yang tidak tentram timbul dari pikiran negatif atau buruk.“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yaasiin (36) :36)


MENGENALI PIKIRAN

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa manusia adalah pikirannya, karena tanpa kemampuan berpikir manusia tidak berarti apa-apa sama sekali. Makhluk lain seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tidak dikaruniai kemampuan berpikir ternyata dengan mudah dikuasai manusia. Dengan kata lain, karena kehadiran PIKIRAN manusia menjadi makhluk berkuasa. Bahkan, dengan menggunakan kekuatan pikiran, apalagi salah menggunakannya, manusia akan menguasai sesamanya yang berujung pada tindakan dimana yang kuat menindas yang lemah. Dari bahasan singkat ini tampak jelas, sekalipun pemahaman kata JIWA sangat sederhana, yakni terdiri dari PIKIRAN, namun apabila tidak dapat dikendalikan, pikiran tersebut akan menjelma menjadi MONSTER, alat PEMBUNUH dan PENGHANCUR. Sebaliknya, jika semakin banyak orang yang berpikiran benar karena mampu mengendalikan pikirannya, maka semakin banyak manfaat yang diperoleh dari pikiran benar tersebut.

Pentingnya peranan pikiran bagi manusia terlihat juga pada orang gila yang karena mengalami gangguan di pikiran dapat membuatnya bertingkah laku layaknya seperti hewan. Adalah pemandangan lumrah melihat orang gila telanjang atau mengais makanan di tempat sampah, bahkan mengganggu orang-orang yang berada di dekatnya. Ganguan pikiran telah menjadikannya kehilangan kesadaran sebagai makhluk yang lebih tinggi derajadnya dibandingkan dengan dari makhluk lain. Dalam makna yang lebih luas, gangguan pikiran bukan hanya bagi orang yang gila, pikiran kotor juga merupakan indikator gangguan pikiran karena dari pikiran yang kotor timbul ucapan dan tindakan yang tentunya juga kotor.

Membahas apa yang dimaksud dengan PIKIRAN tidak dapat dilepaskan dari pembahasan OTAK MANUSIA, sebab otak adalah tumpuan pikiran sebagaimana badan, kaki dan tangan menjadi tumpuan gerakan. Tanpa otak, manusia tidak dapat berpikir. Orang yang mengalami gangguan di otak umumnya juga mengalami kelainan berpikir. Kebenaran hal ini lagi-lagi tampak pada orang gila yang rata-rata mengalami kerusakan dibagian otak. Gangguan pada otak tersebut dapat membuat susunan informasi yang telah menjadi nilai-nilai kehidupan di dalamnya mengalami kekacauan, sehingga pikiranpun menjadi kacau atau tidak berfungsi secara normal.

Sebagaimana mata berfungsi sebagai alat melihat dan telinga berfungsi sebagai alat untuk mendengar, otak berfungsi sebagai alat untuk berpikir. Otak yang terdiri dari sejenis lemak di dalam batok kepala dengan syaraf yang tak terhitung merupakan wadah penyimpanan beragam informasi. Informasi berupa nilai atau norma tentang kehidupan karena keberadaan Ruh menjadi dapat disimpan di dalam otak dan dapat pula diaktifkan ketika dikehendaki. Dengan aktifnya pikiran berupa informasi di dalam otak terjadilah proses berpikir yang ditandai dengan adanya aktivitas seperti mengingat, menilai dan membandingkan serta memformulasikan.

Disebabkan agar dapat berpikir baik sangat tergantung pada informasi yang tersimpan di dalam otak berupa memori, maka penginstalan butir-butir informasi ke dalam otak menjadi sangat penting sebagai dasar untuk dapat berpikir. Informasi demi informasi yang diterima otak akan berakumulasi dan berkembang menjadi latar belakang pengetahuan. Semakin banyak dan semakin baik informasi yang terserap dan tersimpan di syaraf-syaraf otak seseorang berdasarkan pengalaman dan pendidikannya, maka semakin baik pula daya pikirnya. Buktinya, bayi dan anak-anak yang masih memiliki keterbatasan informasi yang diperoleh dari pengalaman memiliki keterbatasan berpikir dibandingkan dengan orang dewasa. Demikian juga halnya bagi orang yang berpendidikan rendah dan yang berpendidikan tinggi memiliki kemampuan berpikir berbeda. Dengan kata lain, kemampuan berpikir terkait dengan pengaktifan latar belakang pengetahuan yang disebut memori.

Selain dari latar belakang pengetahuan berupa hasil pengalaman dan pendidikan, cara mengolah informasi yang sudah mengendap di otak berupa memori juga menentukan kemampuan berpikir seseorang. Orang yang terlatih berpikir runtut atau sistematis memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kemampuan berpikir sistematis. Berdasarkan pengalaman, sering ditemukan orang yang cara berpikirnya melompat-lompat bahkan tidak terhubung dari satu ide ke ide lainnya. Sehingga orang yang mendengarnya kesulitan mengikuti pokok-pokok pembicaraannya. Sedangkan cara berpikir yang baik ditandai dengan, selain kejelasan informasi juga ditandai dengan keteraturan pesan yang disampaikan sehingga pembicaraannya menjadi mudah diikuti atau dipahami.

Kemampuan berpikir akan terbentuk setelah terjadinya penyimpanan informasi berupa nilai-nilai kehidupan yang diperoleh melalui proses mengalami dan proses belajar (pengalaman dan pendidikan) seperti sempat disinggung di atas. Hasil dari proses mengalami dan belajar ini akan tersimpan dalam bentuk memori yang menjadi bagian dari pikiran. Tanpa memori berupa informasi-informasi yang telah mengendap di dalam otak, seseorang tidak dapat berpikir. Anak seorang petani biasanya mudah berpikir tentang cara bercocok tanam jika dibandingkan dengan anak pedagang yang dalam kesehariannya sibuk melayani para pelanggan di toko. Anak petani memiliki pengalaman cara bercocok tanam karena ia juga mendapatkan pendidikan tentang bercocok tanam sekalipun pendidikan tersebut bersifat informal. Hal ini juga berlaku sebaliknya terhadap anak pedagang. Dengan ungkapan lain, pembentukan proses berpikir berlangsung melalui proses pengalaman dan pendidikan yang dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan.

Proses berpikir seperti telah dijelaskan belum memadai untuk dijadikan landasan bagi seseorang supaya dapat BERPIKIR BENAR. Sebab, hasil dari berpikir adalah BENAR dan SALAH. Orang yang memiliki kekuatan berpikir tidak berarti bahwa ia juga senantiasa berpikir benar. Pencuripun mesti berpikir sebelum melakukan aksinya. Walaupun ia mengetahui bahwa tindakannya salah, namun pencuri mesti terlebih dahulu memikirkan cara menyelamatkan diri jika seandainya ia ketahuan atau tertangkap ketika sedang mencuri. Oleh karena itu, selain dari berpikir seseorang hendaknya juga meng-gunakan akalnya. Jika seorang pencuri menggunakan AKALNYA, maka ia tidak akan mencuri. Disebabkan tidak menggunakan akal inilah pencuri nekad mencuri. Dengan kata lain, orang yang BERPIKIR belum tentu menggunakan AKAL. Inilah alasan ditemukan istilah AKAL PIKIR dalam pembicaraan sehari-hari karena kata PIKIR saja belum cukup untuk mengungkapkan hal seperti yang dijelaskan, sehingga kata AKAL tetap ditambahkan agar makna ujaran lebih jelas lagi.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, bahwa yang dimaksud dengan PIKIRAN itu sebenarnya adalah HASIL dari pengolahan informasi di dalam otak yang dipicu oleh stimulus dari luar. Artinya, pikiran itu tidak saja terdiri dari memori yang tersimpan di dalam jaringan syaraf-syaraf otak, tetapi juga dipengaruhi oleh rangsangan dari luar. Memori tanpa rangsangan sebagai pemicu, maka memori tersebut tidak ubahnya seperti data atau informasi di GOOGLE yang tentunya tidak bermanfaat jika tidak diakses terlebih dahulu. Melalui rangsangan dari luar, memori di dalam otak dapat diaktifkan dan terjadilah proses berpikir yang antara lain adalah proses penyaringan dan pengolahan informasi.

Berbeda dengan proses berpikir yang menghasilkan perkiraan benar atau salah, masih adalagi bagian dari pikiran yang diterangi Cahaya dari keberadaan Ruh. Pikiran yang demikian dapat melahirkan tindakan yang lebih baik. Bagian pikiran yang terterangi ini disebut dengan AKAL. Orang yang memilih menggunakan akal dalam kehidupannya akan berada dalam lingkupan KESADARAN sehingga dapat dikatagorikan sebagai orang yang TERCERAHKAN. Dengan kata lain, orang yang pikirannya disinari Cahaya dari Ruh tadi dapat membedakan antara benar dan salah.



MENGENALI JIWA

Dalam percakapan sehari-hari, pemakaian kata JIWA sering tercampur dengan kata NYAWA. Sebagai misal, “Kecelakaan di jalan tol Cikampek merenggut lima jiwa.” Kalimat ini lazim pula diucapkan “Lima nyawa melayang ketika terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan tol Cikampek.” Padahal jika diperhatikan secara teliti makna kata JIWA tidak persis sama dengan NYAWA. Pemakaian kata JIWA dan NYAWA yang kadangkala tumpang tindih atau tidak konsisten membuat makna kedua kata ini menjadi ambigu.

Kehadiran NYAWA di jasad ditandai dengan adanya NAFAS. Orang yang tidak bernafas, yakni udara tidak lagi keluar masuk melalui hidungnya berarti ia sudah tidak bernyawa. Orang yang demikian dikatakan mati yang dalam bahasa sopan disebut ‘wafat’. Jasad yang tadinya dihidupkan Allah setelah tidak bernafas lagi disebut ‘mayat’. Hal ini sedikit berbeda dengan JIWA yang kehadirannya ditandai dengan pikiran. Buktinya orang yang mengalami gangguan jiwa adalah orang yang juga mengalami gangguan pikiran. Namun dapat dipastikan selagi seseorang masih dihidupkan sebagai manusia, tidak ada JIWA jika tidak ada NYAWA.

Telah disinggung bahwa yang dikatakan DIRI adalah JASAD dan JIWA. Dengan kata lain, jasad dan jiwa adalah bagian dari diri. Jasad terdiri dari kepala, badan, anggota badan dan organ-organ dalam lainnya seperti hati, paru-paru dan jatung. Sedangkan JIWA terdiri dari pikiran dan perasaan. Berbeda dengan jiwa, jasad disebut juga tubuh kasar karena jasad tersebut dapat dilihat dan disentuh. Tidak demikian halnya dengan jiwa yang karena tidak terlihat dan tidak pula dapat disentuh secara fisik disebut tubuh halus.

Yang dapat dipahami tentang JIWA umumnya adalah sebatas PIKIRAN dan PERASAAN, tidak lebih dari itu. Jadi berbicara soal JIWA berarti berbicara tentang PIKIRAN dan PERASAAN. Sebagai contoh, orang yang berjiwa KASAR antara lain adalah orang yang pikiran dan perasaannya tidak peka terhadap keadaan orang lain. Ia dapat saja mengucapkan kata-kata atau melakukan tindakan mengganggu ketenangan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, orang berjiwa BESAR adalah orang yang sabar dan bijaksana sehingga orang-orang yang di sekelilingnya merasa nyaman dengan kehadirannya di dekat mereka.

Perbedaan lain yang jelas dan masuk akal antara jasad dan jiwa adalah orang yang mengalami gangguan pada jasad dirawat di Rumah Sakit Umum dan ditangani oleh dokter umum. Hal ini berbeda dengan orang yang mengalami gangguan pada mental atau jiwa dirawat di Rumah Sakit Jiwa dan ditangani oleh dokter jiwa atau psikolog. Yang menarik adalah bahwa berbeda dengan jasad dan jiwa, nyawa sebagai tanda dari keberadaan RUH tidak pernah mengalami gangguan. Ini artinya jiwa dan nyawa tidak sama. Baik jasad berupa badan maupun jiwa berupa pikiran dan perasaan sama-sama aktif karena keberadaan dari RUH.

Disebabkan PIKIRAN dan PERASAAN tidak terlihat melalui mata zahir, maka pikiran dan perasaan hanya dikenali oleh pemilik pikiran dan pemilik perasaan itu saja. Itupun terjadi ketika pikiran dan perasaan berada dalam kendali pemilik pikiran dan pemilik perasaan. Pengendalian pikiran dan perasaan berlangsung ketika pemilik pikiran dan pemilik perasaan sedang dalam keadaan TENANG dan WASPADA. Dalam keadaan kalut, pemilik pikiran dan pemilik perasaan biasanya tidak mengenal dirinya yang notabene adalah pikiran dan perasaan atau jiwanya. Jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin tindakan nekat dan berbahaya bisa saja terjadi karena dalam keadaan seperti ini pikiran dan perasaan mengambil alih pimpinan.

Selain juga telah disinggung di atas, karena pikiran dan perasaan tidak dapat dilihat, maka yang dapat diamati dari pikiran dan perasaan seseorang adalah REAKSI dari pikiran dan perasaannya. Tanpa memperhatikan REAKSI, seseorang kesulitan mengenali pikiran dan perasaan orang lain secara akurat, kecuali memprediksi atau menduga-duga saja. Orang yang berpikiran kotor terlihat dari ucapan dan tindakannya. Ia akan sering berbicara dan bertingkahlaku jorok.

Demikian pula halnya orang baru jatuh cinta kondisi kejiwaannya dapat dikenali dari ucapan dan tindakan-nya. Dari sisi ucapan, ia akan sering bercerita tentang kekasihnya dan dari sisi tindakan ia akan sering terlihat berdandan dan mematut-matut dirinya di depan kaca. Bahkan, kadang kala ia tersenyum sendiri. Semua yang dilakukannya adalah REAKSI atau MANIFESTASI dari yang sedang ia pikirkan dan rasakan, karena itulah gambaran dari keadaan kejiwaannya saat itu. Dengan kata lain, itulah yang terlihat sehingga dapat dikenali.

Selanjutnya, JASAD dan JIWA tidak dapat berfungsi tanpa Ruh karena dari keberadaan Ruh inilah jasad dan jiwa menjadi aktif. Tanpa diaktifkan oleh Ruh, jasad adalah mayat. Pun tanpa diaktifkan oleh Ruh maka pikiran dan perasaan tidak berfungsi. Jika diibaratkan dengan sebuah telepon genggam (handphone), JASAD adalah casing, perangkat lunaknya yang terdiri dari program atau aplikasi adalah JIWA. Tanpa baterai, perangkat lunak (software) tidak berfungsi. Singkatnya, JASAD dan JIWA dihidupkan karena RUH. Ruhlah yang mengaktifkan tubuh halus seperti pikiran dan perasaan sehingga jasad pun aktif. Dengan memahami keberadaan RUH yang mengaktifkan pikiran dan perasaan dapat dipahami bahwa JIWA dihidupkan karena keberadaan RUH.

Untuk mendapatkan pemahaman lebih jelas tentang JIWA yang terdiri dari PIKIRAN dan PERASAAN yang teraktifkan karena RUH, berikut ini akan dibahas serba-serbi pikiran dan perasaan. Selain dari semakin memperjelas pemahaman JIWA, pembahasan ini dapat pula dijadikan dasar memahami makna KESUCIAN JIWA yang memiliki peran PENTING dalam mencapai ketenangan jiwa.“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS asy Syams (91) : 9 dan 10). Secara singkat, salah satu dari keberuntungan dimaksud adalah tercapainya KETENANGAN JIWA.

KEHIDUPAN YANG KERUH diyakni terjadi karena ketiadaan kesucian jiwa. Jiwa yang kotor akan menjadi pemicu seseorang berpikir dan berucap serta bertindak kotor. Orang yang memakai kacamata berlensa hitam akan melihat dunia dengan segala pernak-pernik isinya tampak gelap. Bahkan ucapan seperti sumpah serapah atau ucapan hinaan hanya keluar dari mulut orang yang pikirannya kotor.


Senin, 20 Februari 2017

PROGRAM MENATA JIWA (PMJ)

Menata jiwa sebagai suatu KONSEP sebenarnya bukan hal baru, melainkan sudah diterapkan oleh banyak orang dari masa ke masa, dari suatu generasi ke generasi berikutnya di berbagai penjuru dunia. Sebab, dapat dipastikan setiap orang dari zaman dulu sampai sekarang selalu menginginkan ketenangan atau kedamaian dalam kehidupannya. Konsep ini bahkan terus berlangsung untuk masa yang akan datang. Namun sebagai suatu PROGRAM, menata jiwa kalaupun ada masih jarang diterapkan, khususnya untuk menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Berbeda dengan KONSEP, menata jiwa sebagai suatu PROGRAM lebih menitikberatkan kepada SISTEM yang ditata secara profesional, sehingga hasil capaian penerapannya dalam kehidupan sehari-hari lebih dirasakan. Dalam tulisan ini, penulis menyusun PENATAAN JIWA menjadi sebuah program yang disebut PROGRAM MENATA JIWA (PMJ).

Tujuan dari PROGRAM MENATA JIWA adalah untuk mencapai KETENANGAN JIWA melalui perbaikan watak atau karakter sehingga terbentuk akhlak yang baik. Sedangkan perbaikan watak yang baik mesti diawali dengan cara berpikir yang lebih baik pula, yaitu dimulai dengan membersihkan cara berpikir lama yang tidak baik dan diganti dengan cara berpikir benar dengan berdasarkan ayat-ayat Allah di dalam al Quran. Karena ayat-ayat Allah adalah pedoman bagi seluruh manusia dan di sisi lain manusia adalah makhluk yang berpikir, maka berpikir benar adalah berpikir berlandaskan al Quran. Jika al Quran digunakan sebagai pedoman berpikir, dapat dipastikan ucapan dan tindakan orang yang mempedomaninya menjadi lebih baik. Sebab, tidak ada pedoman yang lebih baik dari ayat-ayat Allah, khususnya bagi yang meyakininya.

Diyakini bahwa dengan menggunakan kekuatan bahasa dari Firman Allah sebagai acuan utama, maka perbaikan watak dapat dilakukan karena tidak ada kata-kata atau kalimat yang lebih benar dan lebih kuat daripada Firman Allah S.w.t. Dengan cara memahami ayat-ayat al Quran dan secara bertahap dapat pula mengingat ayat-ayat tersebut diharapkan nantinya banyak orang yang berpikir berdasarkan al Quran. Sekaligus dengan cara ini diharapkan juga pemahaman tentang kehidupan dari sumber yang keliru tergantikan dengan pemahaman yang bersumber dari ayat-ayat al Quran. Diyakini bahwa tidak sedikit orang yang terlanjur memperoleh nilai-nilai kehidupan secara sembarangan yang mengakibatkan mereka menjadi terombang-ambing dalam kehidupan ini.

Dasar pemahaman dalam PROGRAM MENATA JIWA adalah bahwa pikiran mesti dikelola supaya dapat diberdayakan dan pada saat yang sama tidak membahayakan. Pikiran sebagai alat berpikir dapat diumpamakan seperti sebilah pisau dapur yang jika tidak digunakan secara hati-hati untuk mengiris bawang atau sayur boleh jadi akan berfungsi sebagai alat mengiris jari. Ungkapan ‘the power of mind’ atau kekuatan pikiran mengisyaratkan bahwa pikiran memiliki kekuatan. Kekuatan pikiran ini jika tidak dikendalikan maka pikiranlah yang justru mengambil alih kendali. Dengan perumpamaan lain, jika diibaratkan dengan pengendara mobil, perbedaan antara sang supir mengendalikan mobil atau sebaliknya si supir dikendalikan oleh mobil mengakibatkan hasil yang jauh berbeda. Akibat yang pertama diyakini berakhir dengan keselamatan dan tentunya berakibat berbeda dengan kasus yang kedua dimana sang supir dikuasai oleh kendaraannya. Demikian sekadar perumpamaan.

Sebenarnya memang ironis jika seseorang dikuasai oleh pikirannya sendiri, padahal pikiran itu adalah pikirannya. Artinya, pikiran tersebut adalah kepunyaannya yang dapat ia gunakan untuk kepentingannya menjalani kehidupan supaya ia tetap dalam keselamatan. Untuk menyadari hal ini, mau tidak mau seseorang mesti keluar dari kungkungan pikiran yang memberatinya. Agaknya tidaklah berlebihan mengumpamakan seseorang yang dikuasai oleh pikiran itu ibarat orang yang terpenjara di balik teralis besi. Bahkan lebih parah lagi karena orang yang terpenjara dalam kerangkeng besi masih ada yang dapat meloloskan diri, namun tidak demikin dengan yang terpenjara oleh pikiran yang boleh jadi hanya berakhir dengan kematian.

Adalah merupakan ungkapan umum seseorang mengatakan sesuatu dengan menyampaikan pembicaraannya berdasarkan ‘menurut pikiranku’. Sedikit yang menyadari bahwa ungkapan ‘menurut pikiranku’ tersebut ADA KALANYA berarti ‘penguasaian’. Maknanya, pikiran sudah mendikte si pemilik pikiran. Padahal semestinya si pemilik pikiran benar-benar menyadari bahwa dialah yang mengendalikan pikirannya itu. Kenyataannya ternyata tidak sedikit orang yang dikuasai oleh pikiran yang menyebabkan ia terperangkap dalam berbagai masalah yang sebenarnya dapat diatasi jika pengendalian pikiran dilakukan lebih dini. Dengan adanya PROGRAM MENATA JIWA hal yang dikhawatirkan ini dapat dihindari. Sehingga pikiran-pikiran yang memang bersifat liar dapat diatur.


Di dalam PROGRAM MENATA JIWA terdapat beberapa tahapan proses yang mesti dilalui. Proses tersebut adalah PENGENALAN, PEMBERSIHAN dan PENATAAN JIWA. Pengenalan jiwa adalah tahapan mengenali diri sendiri karena jiwa adalah bagian dari diri. Tanpa pengenalan jiwa, proses membersihkannya belum dapat dilaksanakan. Demikian pula, proses penataan jiwa belum dapat dilakukan sebelum pembersihan jiwa. Secara singkat, jiwa adalah bagian dari diri yang terdiri dari pikiran dan perasaan. Kehadiran perasaan timbul karena kehadiran pikiran. Jika pikiran tenang, perasaanpun tenang. Sebaliknya, jika pikiran kacau, perasaanpun galau. Dengan mengenal jiwa diketahui keadaan jiwa, yakni apakah jiwa itu kotor atau tidak. Jika keadaan jiwa kotor, jiwa tersebut mesti dibersihkan terlebih dahulu. Selanjutnya jika sudah bersih jiwa tersebut mesti ditata ulang. Proses ini dapat diumpamakan seperti komputer yang tercemar virus yang mesti dibersihkan dan diformat ulang.

Selasa, 07 Februari 2017

CARA MUDAH MENGENAL ALLAH

A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim Bismillaahir rahmaanir rahiim


Pendahuluan
Beragama adalah bertuhan. Sebab, tidak ada agama tanpa Tuhan. Oleh karena itu, pengenalan Tuhan dalam beragama mesti diutamakan. Artinya, semua kegiatan keagamaan menjadi sia-sia tanpa pengenalan Tuhan dengan sebenar-benarnya. Bagaimana bershahadat jika Tuhan yang diyakini belum jelas keber-ADA-anNya, sedangkan shahadat ditempatkan di posisi pertama dalam Rukun Islam.

Tuhan bernama “Allah”
Manusia mengenal Nama Allah karena Dia sendiri memperkenalkan NamaNya. Dalam Surat Muhammad (47) ayat 19 dapat dibaca, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah ….”. Jadi, Tuhan bernama “Allah”. Banyak keterangan di dalam al Quran yang menyatakan bahwa Tuhan bernama “Allah”. Hal ini tidak diragukan. Namun, perlu dipahami bahwa suatu Nama adalah Nama, yakni sebutan. Nama bukan Tuhan, tetapi adalah nama dari Tuhan. Jika nama itu ditulis dengan menggunakan tinta, maka ia adalah tinta. Demikian pula jika ditulis dengan menggunakan kapur, ia adalah kapur. Tegasnya, tinta dan kapur bukan Allah, Tuhan manusia.

3. Nama-nama lain dari Allah
Selain ‘Allah’, Tuhan juga memperkenalkan Nama-namaNya yang lain. Di dalam al Quran dan hadis dapat ditemukan 99 nama lain dari Allah, diantaranya: ar-Rahman, Yang Maha Pemurah (al Faatihah (1) : 3); ar-Rahim, Yang Maha Pengasih (al Faatihah (1) : 3) al-Malik, Yang Maha Berkuasa (al Mu’minuun (23) : 116); al-Quddus, Yang Maha Suci (al Jumu’ah (62) : 1); as-Salam, Yang Maha Sejahtera (al Hasyr (59) : 23); al-Mu’min, Yang Maha Terpercaya (al Hasyr (59) : 23); al-Muhaimin, Yang Maha Memelihara (Al Hasyr (59) : 23); al-‘Aziz, Yang Maha Perkasa (Ali ‘Imran (3) : 62); al-Jabbar, Yang Maha Berkehendak, (al Hasyr (59) : 23); dan seterusnya.

4. Keinginan mengenal Allah
Supaya dapat mengenal Allah secara lebih baik, yaitu bukan sekadar mengenal Nama saja, umat beragama mesti mengawali kegiatan beragamanya dengan kesadaran bahwa pengetahuannya tentang Allah masih sangat terbatas. Kesadaran seperti ini dapat memicu keinginan untuk meningkatkan pengenalan Allah secara lebih baik lagi. Belum cukup mengenal Allah hanya dengan meyakini bahwa Dia adalah Penguasa langit dan bumi sambil menunjuk ke langit. Orang yang merasa puas dan merasa telah mengenal Allah cenderung salah mengenaliNya. Rasa puas dapat menghalangi upaya untuk lebih mengenalNya. Padahal, boleh jadi Allah yang dikenal selama ini masih sebatas Tuhan bayang-bayang, yakni Tuhan hasil ciptaan pikiran. Idealnya, pengenalan terhadap Allah harus diupayakan semaksimal mungkin.

Selanjutnya, perlu disadari bahwa pengenalan terhadap Allah hanya dapat sampai pada tahap yang dikehendakiNya. Manusia tidak mampu menguak rahasia ketuhanan lebih dari yang telah ditentukanNya, walaupun ia menggunakan kekuatan akal yang dikaruniakan kepadanya. Allah adalah Dzat Yang Maha Halus, (al-An‘aam (6) : 103), dan Yang Batin atau Maha Gaib, (al-Hadid (57) : 3). Sedangkan manusia itu makhluk yang lemah dan tak berdaya.

5. Mengenal versus mengetahui
Dalam hal pengenalan Allah, perlu dibedakan antara makna kata ‘mengenal’ dan ‘mengetahui’. Mengenal dimaksudkan sebatas kemampuan membedakan. Sedangkan mengetahui tidak saja pada kemampuan membedakan, tetapi juga memiliki pengetahuan tentang hakikat Allah. Oleh sebab itu, tujuan yang hendak dicapai dalam bahasan ini hanyalah sebatas mengenal Allah. Dengan kemampuan membedakan antara Allah dan yang bukan Allah diharapkan pemahaman tentang keberadaanNya menjadi semakin terang. Manusia tidak mampu mengetahui hakikat Dzat Allah. Dzat itu adalah Dzat Mutlak di luar jangkauan penglihatan zhahir dan pengetahuan. Manusia hanya dapat mengenali Nama (Asma), Sifat dan Perbuatan (Af’al)¬Nya. Itupun atas kehendakNya.

6. Peran akal dalam mengenal Allah
Dalil pengenalan Allah telah disampaikan melalui para Nabi dan Rasul yang dapat ditelusuri kebenarannya melalui ayat-ayat di dalam al Quran. Dalil itu bahkan telah pula dijabarkan dengan jelas. Tinggal manusia memperhatikannya dengan sungguh-sungguh dan dengan menggunakan akal (Saad (38) : 29). Artinya, peran akal dalam mengenal Allah adalah untuk memahami keterangan tentang Dia. Sebagai contoh, di dalam Surat al-Baqarah (2) : 186 diterangkan bahwa Tuhan bernama Allah itu dekat. Pertanyaan yang mesti dijawab dengan menggunakan akal adalah: ‘Sedekat apakah keberadaan antara Dia dengan makhlukNya?’ Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat diperhatikan melalui Surat Qaaf (50) : 16, bahwa keberadaan Allah lebih dekat dari pada urat leher.

Dari pengertian ini, perlu dipahami bahwa makna mendekatkan diri kepada Allah seperti yang sering disebutkan dalam al Quran (al Maa’idah (5) : 35), bukan dalam makna jarak. Manusia tidak mungkin lebih dekat lagi dengan Allah dalam makna demikian. Allah itu Gaib. Dia adalah Dzat Yang Maha Suci, maka makna mendekatkan diri dalam konteks ini adalah mensucikan diri dari perbuatan syirik dan tercela. Allah itu Maha Sabar, maka makna mendekatkan diri adalah menaati ketentuanNya dengan sabar. Dia Maha Penyayang, maka arti mendekatkan diri adalah menyebarkan kasih sayang kepada sesama makhlukNya, dan seterusnya. Singkatnya, berbuat baik atau beramal saleh adalah salah satu syarat untuk menemui Allah, (al-Kahfi (18) : 110).

Dalam Surat al-Hajj (22) : 16 tertera: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan al Quran beberapa ayat yang terang, dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”. Adapun orang yang dikehendaki untuk memperoleh petunjuk dimaksudkan dalam ayat ini pada dasarnya adalah semua manusia tanpa kecuali. Maha Suci Allah dari membedakan hambaNya. Dia hanya menilai ketakwaan si hamba, (al-Hujaraat (49) : 13). Al Quran telah diturunkan untuk semua manusia, yakni peringatan bagi semesta alam, (at-Takwir (81) : 27). Jika kenyataannya bahwa manusia tidak mengenal Tuhan, hal itu disebabkan oleh kelalaian dari dirinya sendiri dalam memahami Firman Allah. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (Saba’ (34) : 50).

Lalai atau tidaknya seseorang disebabkan oleh kehidupannya yang belum seimbang. Sedangkan keseimbangan yang dimaksud adalah antara kebutuhan jasad (perut: makan), mental (otak: pengetahuan) dan emosional (hati: sabar) serta spiritual (ruh: mengenal Allah). Orang yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan jasadnya tertinggal dalam kebutuhan lain: mental, emosional dan spiritual. Sedangkan yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan mentalnya tertinggal dalam kebutuhan lainnya: jasad, emosional, spiritual dan seterusnya. Pengabaian salah satu dari kebutuhan itulah yang dimaksud dengan ketidakseimbangan. Tidak mengenal Tuhan terjadi akibat dari pengabaian kebutuhan spiritual.

Al Quran telah diturunkan sebagai pedoman bagi manusia dan petunjuk bagi yang beriman, (al-Jaasyiah (45) : 20). Selanjutnya manusia yang beriman diharapkan menjadikan al Quran sebagai pedoman. Namun disebabkan kelalaian manusia, al Quran justru difungsikan sebagai koleksi, syair yang disenandungkan dan penangkal santet, bahkan tidak jarang al Quran dibacakan kepada mayat. “Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang yakin” (al-Jassiyah (45) : 20).

7. Kelalaian mengenal Allah
Kelalaian memahami al Quran dalam rangka mengenal Allah bermula dari kelalaian perorangan atau individu. Kelalaian demikian adalah kelalaian dari seseorang yang terjadi karena ia tidak berusaha mengenal Allah secara bersungguh-sungguh. Selain kelalaian perorangan adalagi kelalaian kolektif, atau kelalaian bersama pendakwah dan umat yang didakwahi. Kelalaian tersebut tampak dari materi dakwah yang secara umum hanya berkisar soal pahala-dosa yang diramu dengan politik praktis untuk mendapatkan kekuasaan. Akibatnya, pengenalan tentang Allah yang merupakan titik awal beragama jarang disentuh, apalagi untuk sampai pada tahap merasakan keberadaan Allah. Oleh sebab itu, untuk mengenal Allah manusia mesti kembali kepada al Quran, karena “Siapa berpaling dari al Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat” (Taahaa (20) : 100).

8. Peran usaha dan doa menuju Allah
Al Quran mesti dikembalikan kepada fungsinya sebagai pedoman untuk dipahami, khususnya untuk mengenal Allah. Sudah semestinya secara ikhlas setiap orang mengakui dari lubuk hatinya yang paling dalam, bahwa ia memang tidak akan mampu mengenal Allah, kecuali atas petunjukNya. Untuk itu, selain dengan berusaha memahami ayat-ayat al Quran, yakni menggali makna terkandung di dalamnya secara terus-menerus, setiap orang mesti juga memohon pertolongan Allah dengan bersungguh-sungguh supaya dapat mengenaliNya secara benar. Di sinilah letak perpaduan antara usaha dan doa. Sebagai khalifah di muka bumi manusia mesti bekerja, yakni dimulai dengan memahami ayat-ayat al Quran yang tertulis dan tersirat. Sedangkan sebagai hamba yang lemah ia mesti banyak berdoa. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (al-‘Ankabuut (29) : 69).

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (al Maa’idah (5) : 35).

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Ku perkenankan bagimu, ….” (al-Mu’min (40) : 60).

“... Dan barangsiapa beriman kepada Allah, Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu” (at-Taghaabun (64) : 11).

“Dan orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (Muhammad (47) : 17). “Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti benar” (az-Zaariyaat (51) : 5).

Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa, jika manusia beriman dan berupaya serta berdoa sungguh-sungguh, Allah menunjukinya cara mengenaliNya. Janji Allah pasti dipenuhiNya. Tanpa memahami Firman Allah secara benar, yakni pemahaman dengan mengharapkan petunjukNya, manusia tidak dapat mengenal Allah. Dengan kata lain, mengenalNya hanya berhasil atas petunjukNya. Sedangkan Tuhan tidak menunjuki seseorang jika ia tidak beriman kepada ayat-ayatNya (an-Nahl (16) : 104). Orang yang demikian adalah orang yang diazab (al-Ankabuut (29) : 23).

9. Mengenal Allah melalui ayat Kursi
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menunjuk ke atas atau langit jika yang ia maksudkan dalam pembicaraannya adalah Allah. Ucapan seperti: ‘Terserah kepada yang di atas’ adalah salah satu bentuk pernyataan yang dapat dimaknai bahwa Allah berada jauh dari makhlukNya, yakni di langit. Persangkaan seperti ini bertentangan dengan keterangan tentang Allah seperti dijelaskanNya melalui firman yang terang. Allah itu berada dimana saja manusia berada (al-Hadid (57) : 4), Dia Maha Dekat (Saba’ (34) : 50), Dia lebih dekat dari pada urat leher (Qaaf (50) : 16) dan sebagainya. Makna kata langit, seperti Allah berada di langit untuk diartikan keagungan atau ketinggian dalam pengertian derajad, bukan tempat.

10. Allah versus manusia
Apakah manusia itu Tuhan? Tidak! Manusia hanyalah kehidupan, karena ia tidak kekal. Manusia hanya mengaku hidup, padahal sesungguhnya ia dihidupkan oleh Dzat, Yang Hidup. Pada suatu saat ia akan dimatikan (an-Najm (53) : 44). Karena keberadaan Yang Hidup Kekal sangat dekat dengan manusia, maka manusia dapat beraktivitas seperti: melihat, tidur, makan, mandi dan bekerja. Rangkaian aktivitas demikian disebut kehidupan. Alasan lain yang membantah manusia bukan Allah adalah bahwa Allah, Yang Hidup Kekal tidak dapat dicapai mata (al An’aam (6) : 103). Sedangkan manusia berada dalam jangkauan penglihatan mata.
“Allah tidak dapat dicapai penglihatan, sedangkan Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”, (al-An‘aam (6) : 103).

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya)….” (Taahaa (20) : 111).

“Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan” (an-Najm (53) : 44).

Selain bersifat kekal, Pemilik nama Allah atau Yang Hidup Kekal tersebut senantiasa mengurus makhlukNya. Dengan demikian, manusia sebagai salah satu makhlukNya diurus dan diatur oleh Yang Hidup Kekal. Siapakah yang melangkahkan kaki dan mengayunkan tangannya ketika manusia diperjalankan? Siapakah yang mengedipkan mata? Siapakah yang memperdengarkan bunyi? Siapakah yang mengatur segala urusan? Jawabnya, Yang Hidup Kekal bernama Allah.
“….dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’ ” (Yuunus (10) : 31).

Dari ayat di atas dapat pula dipahami bahwa Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup Kekal itu tidak mengantuk dan tidak tidur. Tanda bahwa Dia terus menerus mengurus makhlukNya, tidak tidur dan Maha Dekat terlihat pada naik turunnya nafas ketika seseorang sedang tidur. Dalam ayat tersebut tertera keterangan batasan yang jelas antara manusia dan Allah. Manusia itu tidur sedangkan Allah tidak tidur apalagi mengantuk. Manusia bukan Tuhan termasuk Fir’aun, karena manusia dan juga Fir’aun mengalami tidur dan mengantuk. Allah selalu dalam kesibukan namun tidak pernah lelah.

11. Dzat adalah Yang Hidup
Siapakah Yang Hidup, Pengatur dan selalu mengurus makhlukNya? Jawabnya adalah ‘Dzat’. Dialah yang mengatur segala urusan. Dialah Tuhan manusia. Tidak ada lagi Tuhan selain Dzat Yang Hidup Kekal itu. Selain itu adalah kesesatan. “Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yuunus (10) : 32).

Itulah Dia Tuhan manusia. Kata “Dzat” seperti ditemukan dalam terjemahan di atas adalah kata tambahan yang dipakai sebagai tempat melekatkan sebutan Yang Hidup Kekal dan Maha Pengatur. Dengan kata lain, Dzat adalah Yang Hidup. Dzat yang dimaksud bukan berarti zat kimia seperti zat arang atau kapur. Maha Suci Tuhan Yang Hidup Kekal dari semua persangkaan. Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup itu Gaib dan Maha Suci. Keterangan Dzat dimaksudkan Surat Yuunus (10) : 32 tertera pada ayat sebelumnya.

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’” (Yuunus (10) : 31).

12. Allah mengurus makhlukNya
Dari penjelasan di atas, Allah adalah Dzat Yang Hidup Kekal yang selalu mengurus makhlukNya, seperti:
menjadikan manusia mengantuk, (al-Anfaal (8) : 11)
menidurkan dan membangunkan manusia, (al-An’aam (6) : 60)
menyembuhkan ketika sakit, (asy-Syu’araa (26) : 80) 4. menjadikan manusia tertawa dan menangis, (an-Najm (53) : 43)
melapangkan dan menyempitkan rezeki, (az-Zumar (39) : 52)
memberi makan dan minum, (asy-Syu’araa (26) : 79)
mematikan dan menghidupkan, (an-Najm (53) : 44)
menjadikan manusia dari segumpal darah (al-‘Alaq (96) : 2)
mengajar manusia berbicara, (ar-Rahmaan (55) : 4), dan seterusnya.

13. Mengenal Allah melalui perumpamaan
Sangat penting disadari bahwa perumpamaan apapun untuk mengenal Allah adalah upaya mendekatkan kepada pemahaman, bukan mengumpamakan Allah. Dia, Yang Hidup tidak dapat diumpamakan. Sebab, Pemilik nama Allah tidak ada duanya, keberadaan-Nya Tunggal. Sebagai ilustrasi, penjelasan dari pengenalan Allah dapat diumpamakan seperti penjemputan seorang tamu baru mendarat di bandara. Tanpa ciri yang cukup dari tamu yang dijemput, dipastikan sulit menemukan tamu itu. Tetapi jika salah satu ciri dari tamu diketahui seorang pria, kesulitan akan berkurang. Si penjemput tidak perlu menanyai semua penumpang wanita. Kesulitan akan lebih berkurang jika usia tamu diketahui di atas 70 tahun. Sehingga, semua tamu pria di bawah usia itu tidak perlu ditanyai. Semakin lengkap ciri yang dikenal, semakin mudah menemukan. Maka sebelum menemui Tuhan, semua ciri tentang Tuhan mesti dikenal, sehingga pada saat pertemuan denganNya seperti yang telah dijanjikan (al-Ankabuut (29) : 5), semua keraguan dapat dihindari.

14. Keberadaan Allah
Dimanakah keberadaan Yang Hidup? Dzat itu ‘akrab’ dengan makhlukNya (Qaaf (50) : 16). Ayat berikut adalah keterangan akrabnya Dzat Allah pada hambaNya.

“Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat….” (al-Baqarah (2) : 186).

Sedekat apakah Dzat Yang Hidup itu? Dzat Yang Hidup menurut keterangan di dalam al Quran lebih dekat dari pada urat leher.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (Qaaf (50) : 16).

“…. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat” (Surat Saba’ (34) : 50)

“….dan Dia beserta kamu di mana saja kamu berada… .” (Al-Hadid (57) : 4).

Kata dekat apalagi Maha Dekat dimaksudkan sebagai dekat yang tidak berjarak. Hal ini dapat diibaratkan seperti gula dan manisnya yang tidak dapat dipisahkan.
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (az-Zaariyaat (51) : 20 dan 21).

Lebih lanjut perlu dibedakan antara Dzat Yang Hidup dan makhlukNya. Dzat tersebut adalah Yang Hidup Kekal, Yang Tidak Mati (al-Furqaan (25) : 58). Tetapi tidak demikian dengan hamba atau makhlukNya. Pemahaman di atas lebih jelas jika dihubungkan dengan Surat Al-Hadid (57) : 3.

15. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Hadid (57) : 3). Siapa Yang Awal, Akhir, Zhahir dan Batin. Apakah yang Yang Awal itu? Yang Awal adalah bahwa Dzat Yang Hidup telah ada sebelum jasad manusia diadakan. Tidak ada segala sesuatu yang mendahuluiNya.

Apakah Yang Akhir itu? Yang Akhir adalah bahwa Dzat Yang Hidup itu akan tetap ada walaupun jasad manusia telah lenyap. Jasad manusia yang dijadikan oleh Dzat Yang Hidup dari sari pati tanah akan kembali menjadi tanah. Yang Awal dan Akhir adalah kekekalan dari Dzat Yang Hidup. Dalam hal ini, Yang Awal adalah Yang Akhir, yakni Dzat Hidup Kekal bernama Allah. Dengan kata lain, Yang Awal adalah persis sama dengan Yang Akhir. Allah tidak dibatasi oleh demensi ruang dan waktu. Dia meliputi segala sesuatu.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahmaan (55) : 26 dan 27).

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal....” (An-Nahl (16) : 96).

16. Yang Zhahir dan Yang Batin
Apakah Yang Zhahir? Yang Zhahir adalah Af’al, yakni tindakan, perbuatan atau kekuasaan dari Dzat Yang Hidup yang dapat dipersepsi melalui panca indera. Dengan kata lain, Yang Zhahir adalah perwujudan atau manifestasi dari keberadaan Dzat Yang Batin. Keberadaan Yang Zhahir tanda adanya Yang Batin. Tidak ada Yang Zhahir jika tidak ada Yang Batin. Kemana manusia menghadap, maka di situlah wajah Allah, (Lihat al-Baqarah (2) : 115).

Apakah Yang Batin? Yang Batin adalah Dzat Yang Hidup Kekal dan tidak terlihat. Manusia selamanya tidak pernah melihat Dzat Allah Yang Hidup dengan mata zhahir (al-An‘aam (6) : 103). Yang terlihat mata zhahir adalah tanda-tanda kekuasaanNya (Az-Zaariyaat (51) : 20 dan 21). Dzat Allah, Yang Hidup adalah rahasia bagi manusia. Manusia cukup sebatas mengenal Af’al, Asma dan Sifat dari Dzat Yang Hidup Kekal serta meyakini keberadaan Dzat itu dan kemudian mematuhiNya. Yang Batin dapat diyakini keberadaanNya melalui Yang Zhahir, yaitu tanda adanya Dzat Yang Hidup pada alam dan makhluk seperti difirmankanNya.

“Dan kepunyaan Allah Timur dan Barat, maka kemana saja kamu menghadap disitu wajah Allah ….” (Al-Baqarah (2) : 115).

“Wajah Allah” yang dimaksudkan pada ayat, Al-Baqarah (2) : 115 adalah tanda dari keberadaan, kebesaran atau kekuasaan sebagai manifestasi perbuatanNya. Itulah bukti dari keberadaan Yang Batin. Namun yang zhahir, yakni yang terlihat melalui mata zhahir di setiap ufuk bukanlah Dia yang sedang ditelusuri keberadaanNya. Wajah Allah pada ayat di atas tidak sama dengan wajah manusia. Wajah itu, antara lain untuk diartikan sebagai Af’al, seperti pohon melambai, burung beterbangan, hujan turun dan ombak memecah di pantai. Semua itu menandakan keberadaan Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Menggerakkan. Itulah kehidupan.

Konsep di atas mudah dipahami dengan memperhatikan air yang beriak dalam kolam yang menandakan di dalam kolam tersebut ada ikan. Tetapi riak air bukanlah ikan, melainkan hanya tanda. Sebab, ikan bukan air. Dzat Yang Hidup bernama Allah tidak menyerupai siapa dan apa pun. Tiada yang setara dengan Dia.

“….Tidak sesuatupun yang serupa dengan Dia….” (Asy-Syuuraa (42) : 11).

Keberadaan alam ini menandakan adanya Dzat Yang Menjadikan dan Memelihara. Pohon yang terlihat hidup adalah tanda bahwa pada pohon itu ada kehidupan yang hanya dapat dihidupkan oleh Dzat Yang Maha Hidup. Demikian juga pada makhluk lain, seperti nyamuk dapat terbang karena pada nyamuk terdapat kehidupan yang hanya dapat ditimbulkan oleh Dzat Yang Hidup.

17. Asma, Af’al, Sifat dan Dzat Allah
Allah, Dzat Yang Hidup Kekal memiliki Asma (Nama), Af’al dan Sifat. Sedangkan DzatNya adalah Gaib, yakni Yang Batin. Yang dapat dikenali terlebih dahulu adalah Af’alNya, seperti langit ditinggikan tanpa tiang dan matahari digantung tanpa tali. Itulah perbuatan atau kekuasaanNya (Af’al-Nya). Dari Af’al ini dapat dikenali AsmaNya seperti al-Muqtadir, Maha Kuasa (al-Qamar (54) : 42).

Disebabkan Asma dan Sifat berhubungan, maka dari Asma Allah: ‘Maha Kuasa’ dapat pula dikenali SifatNya, yakni juga Maha Kuasa. Dia kuasa meninggikan langit, menghamparkan bumi dan menjadikan matahari bersinar.

Sifat Allah tidak terpisah dari AsmaNya. Sebagai misal, ketika seseorang menyebut sebongkah batu es, secara langsung dapat dihubungkan antara nama dan sifat. Batu es adalah nama dari sebongkah benda keras dan dingin. Demikian pula apabila disebut api, maka langsung akan tergambar di dalam pikiran benda kemerah-merahan yang sifatnya panas membakar.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al Quran itu adalah benar. …” (Fussilat (41) : 53).

Mengenal dan meyakini keberadaan Dzat Yang Hidup Kekal pada sekujur tubuh hendaklah sampai dirasakan keberadaanNya, sampai dipersaksikan NurNya dan sampai diperdengarkan KalamNya. Manusia sebaiknya tidak membahas Dzat Allah secara berlarut, sebab manusia tidak akan mampu. Asma adalah Nama Allah; Sifat adalah Sifat Allah dan Af’al adalah Af’al Allah. “Allah tidak dapat dicapai penglihatan, sedangkan Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”, (Al-An‘aam (6) : 103).

Perlu dipahami sekali lagi, bahwa Dzat Allah itu Gaib. Dan disebabkan oleh kegaiban, maka Dzat tersebut tidak dapat dicapai mata zhahir. Lebih lanjut dapat pula dijelaskan, tidak terlihatnya Dzat itu dikarenakan Dzat itulah yang mengaruniai penglihatan saat manusia melihat.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”, (Al-Insaan (76) : 2).

Dzat Allah tidak untuk dipahami bertengger secara fisik pada hati di dalam dada, namun keberadaanNya dapat diyakini melalui hati yang di dalam dada. Seperti kegaiban Dzat Allah, maka demikian pula halnya dengan hati atau kalbu yang disebut di atas, ia bukan hanya untuk diartikan secara sempit, yakni sekadar sepotong daging yang di rongga dada. Hati memiliki arti sangat luas, bagaikan sebuah cermin yang dapat memantulkan dunia lain.

Untuk memahami betapa luas pandangan mata hati, terlebih dahulu perhatikan betapa luasnya pandangan yang terlihat melalui mata zhahir. Bola mata bergaris tengah lebih kurang dua senti meter ternyata dengan izinNya dapat melihat sebuah meja walaupun ukuran meja itu jauh melebihi besar bola mata. Apabila pandangan mata diarahkan jauh ke depan, maka bola mata yang kecil tadi bahkan dapat memuat alam yang luasnya sekian kilo meter. Dapat dibayangkan jika pandangan diarahkan ke langit, pandangan itu dapat mencapai jarak puluhan kilo meter.
Sebaliknya kemampuan mata batin atau mata hati yang dikaruniai untuk melihat, ternyata jauh melebihi kemampuan mata zhahir. Penglihatan mata hati tidak terhalang kebendaan, seperti dinding beton, pagar dan lain-lain.

Selanjutnya melalui FirmanNya, Dzat Yang Hidup memperkenalkan keberadaanNya melalui ayat: “Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa; tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah (2) : 163).

18. Ke-Esaan Allah
Dzat Yang Hidup itu Esa, tiada duanya. Salah satu cara memahami ke-Esa-an-Nya adalah dengan memperhatikan warna langit yang tetap biru walaupun langit tersebut dilihat oleh satu, dua, tiga, seratus, atau seribu orang lebih, bahkan untuk jumlah yang tak terhingga. Warna biru adalah perumpamaan atau cara untuk memahami ke-Esa-an Dzat Yang Hidup.

Contoh lain dari memahami konsep keesaan adalah dengan memperhatikan refleksi diri di dalam beberapa buah kaca. Walaupun diri itu hanya satu, namun keesaan diri tersebut dapat terefleksi dalam beberapa bentuk dalam bayangan kaca. Dari uraian ini, maka timbul pertanyaan yang tidak kalah pentingnya. Jika Dzat itu Esa, bagaimanakah pemahaman akrabnya Dzat pada makhlukNya, yakni pada manusia? Dzat Yang Hidup itu Esa, yaitu keesaan dari Dzat Yang Hidup. Yang banyak adalah tempat Dia menampakkan keberadaanNya. Keterangan tentang keesaan Dzat dapat digambarkan dengan istilah “Melihat Yang Satu dalam yang banyak”. Dalam hal ini, yang perlu dilihat adalah hakikat dari yang banyak itu sendiri. Sebagai contoh, hakikat dari ombak, gelombang, riak dan buih sebenarnya adalah air. Jadi Dzat sesungguhnya adalah hakikat, yang sebenarnya atau Yang Haq.
Memahami konsep ketunggalan dapat pula digambarkan dengan memberikan sebutan 01 (kosong satu) terhadap angka nol di depan angka satu, dan sebutan 10 (satu kosong atau sepuluh) terhadap angka satu di depan angka nol. Tetapi ketunggalan Dzat tidak memiliki sebutan, yakni seperti angka satu di dalam angka nol. Ia bukan 01 dan bukan pula 10. Angka nol (0) lambang jasad, sedangkan angka satu (1) adalah ketunggalan Dzat Yang Hidup. Jika Dzat Yang Tunggal, Hidup Kekal dan lebih dekat dari urat leher itu berpisah dengan wadah (jasad), maka jasad itu tidak lebih adalah setumpuk daging yang tidak berdaya.