Dalam percakapan sehari-hari,
pemakaian kata JIWA sering tercampur dengan kata NYAWA. Sebagai misal,
“Kecelakaan di jalan tol Cikampek merenggut lima jiwa.” Kalimat ini lazim pula diucapkan
“Lima nyawa melayang ketika terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan tol
Cikampek.” Padahal jika diperhatikan secara teliti makna kata JIWA tidak persis
sama dengan NYAWA. Pemakaian kata JIWA dan NYAWA yang kadangkala tumpang tindih
atau tidak konsisten membuat makna kedua kata ini menjadi ambigu.
Kehadiran NYAWA di jasad ditandai
dengan adanya NAFAS. Orang yang tidak bernafas, yakni udara tidak lagi keluar
masuk melalui hidungnya berarti ia sudah tidak bernyawa. Orang yang demikian dikatakan
mati yang dalam bahasa sopan disebut ‘wafat’. Jasad yang tadinya dihidupkan Allah
setelah tidak bernafas lagi disebut ‘mayat’. Hal ini sedikit berbeda dengan JIWA
yang kehadirannya ditandai dengan pikiran. Buktinya orang yang mengalami
gangguan jiwa adalah orang yang juga mengalami gangguan pikiran. Namun dapat dipastikan
selagi seseorang masih dihidupkan sebagai manusia, tidak ada JIWA jika tidak
ada NYAWA.
Telah disinggung bahwa yang
dikatakan DIRI adalah JASAD dan JIWA. Dengan kata lain, jasad dan jiwa adalah
bagian dari diri. Jasad terdiri dari kepala, badan, anggota badan dan organ-organ
dalam lainnya seperti hati, paru-paru dan jatung. Sedangkan JIWA terdiri dari
pikiran dan perasaan. Berbeda dengan jiwa, jasad disebut juga tubuh kasar
karena jasad tersebut dapat dilihat dan disentuh. Tidak demikian halnya dengan
jiwa yang karena tidak terlihat dan tidak pula dapat disentuh secara fisik disebut
tubuh halus.
Yang dapat dipahami tentang JIWA umumnya
adalah sebatas PIKIRAN dan PERASAAN, tidak lebih dari itu. Jadi berbicara soal
JIWA berarti berbicara tentang PIKIRAN dan PERASAAN. Sebagai contoh, orang yang
berjiwa KASAR antara lain adalah orang yang pikiran dan perasaannya tidak peka
terhadap keadaan orang lain. Ia dapat saja mengucapkan kata-kata atau melakukan
tindakan mengganggu ketenangan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, orang berjiwa
BESAR adalah orang yang sabar dan bijaksana sehingga orang-orang yang di
sekelilingnya merasa nyaman dengan kehadirannya di dekat mereka.
Perbedaan lain yang jelas dan masuk
akal antara jasad dan jiwa adalah orang yang mengalami gangguan pada jasad
dirawat di Rumah Sakit Umum dan ditangani oleh dokter umum. Hal ini berbeda
dengan orang yang mengalami gangguan pada mental atau jiwa dirawat di Rumah
Sakit Jiwa dan ditangani oleh dokter jiwa atau psikolog. Yang menarik adalah
bahwa berbeda dengan jasad dan jiwa, nyawa sebagai tanda dari keberadaan RUH
tidak pernah mengalami gangguan. Ini artinya jiwa dan nyawa tidak sama. Baik
jasad berupa badan maupun jiwa berupa pikiran dan perasaan sama-sama aktif
karena keberadaan dari RUH.
Disebabkan PIKIRAN dan PERASAAN
tidak terlihat melalui mata zahir, maka pikiran dan perasaan hanya dikenali
oleh pemilik pikiran dan pemilik perasaan itu saja. Itupun terjadi ketika
pikiran dan perasaan berada dalam kendali pemilik pikiran dan pemilik perasaan.
Pengendalian pikiran dan perasaan berlangsung ketika pemilik pikiran dan pemilik
perasaan sedang dalam keadaan TENANG dan WASPADA. Dalam keadaan kalut, pemilik
pikiran dan pemilik perasaan biasanya tidak mengenal dirinya yang notabene
adalah pikiran dan perasaan atau jiwanya. Jika hal ini terjadi, bukan tidak
mungkin tindakan nekat dan berbahaya bisa saja terjadi karena dalam keadaan
seperti ini pikiran dan perasaan mengambil alih pimpinan.
Selain juga telah disinggung di
atas, karena pikiran dan perasaan tidak dapat dilihat, maka yang dapat diamati
dari pikiran dan perasaan seseorang adalah REAKSI dari pikiran dan perasaannya.
Tanpa memperhatikan REAKSI, seseorang kesulitan mengenali pikiran dan perasaan
orang lain secara akurat, kecuali memprediksi atau menduga-duga saja. Orang
yang berpikiran kotor terlihat dari ucapan dan tindakannya. Ia akan sering berbicara
dan bertingkahlaku jorok.
Demikian pula halnya orang baru
jatuh cinta kondisi kejiwaannya dapat dikenali dari ucapan dan tindakan-nya. Dari
sisi ucapan, ia akan sering bercerita tentang kekasihnya dan dari sisi tindakan
ia akan sering terlihat berdandan dan mematut-matut dirinya di depan kaca.
Bahkan, kadang kala ia tersenyum sendiri. Semua yang dilakukannya adalah REAKSI
atau MANIFESTASI dari yang sedang ia pikirkan dan rasakan, karena itulah
gambaran dari keadaan kejiwaannya saat itu. Dengan kata lain, itulah yang
terlihat sehingga dapat dikenali.
Selanjutnya, JASAD dan JIWA tidak
dapat berfungsi tanpa Ruh karena dari keberadaan Ruh inilah jasad dan jiwa menjadi
aktif. Tanpa diaktifkan oleh Ruh, jasad adalah mayat. Pun tanpa diaktifkan oleh
Ruh maka pikiran dan perasaan tidak berfungsi. Jika diibaratkan dengan sebuah
telepon genggam (handphone), JASAD
adalah casing, perangkat lunaknya yang terdiri dari program atau aplikasi
adalah JIWA. Tanpa baterai, perangkat lunak (software) tidak berfungsi. Singkatnya, JASAD dan JIWA dihidupkan
karena RUH. Ruhlah yang mengaktifkan tubuh halus seperti pikiran dan perasaan
sehingga jasad pun aktif. Dengan memahami keberadaan RUH yang mengaktifkan
pikiran dan perasaan dapat dipahami bahwa JIWA dihidupkan karena keberadaan RUH.
Untuk mendapatkan pemahaman lebih jelas
tentang JIWA yang terdiri dari PIKIRAN dan PERASAAN yang teraktifkan karena
RUH, berikut ini akan dibahas serba-serbi pikiran dan perasaan. Selain dari semakin
memperjelas pemahaman JIWA, pembahasan ini dapat pula dijadikan dasar memahami makna
KESUCIAN JIWA yang memiliki peran PENTING dalam mencapai ketenangan jiwa.“Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS
asy Syams (91) : 9 dan 10). Secara singkat, salah satu dari keberuntungan dimaksud adalah
tercapainya KETENANGAN JIWA.
KEHIDUPAN YANG KERUH diyakni terjadi
karena ketiadaan kesucian jiwa. Jiwa yang kotor akan menjadi pemicu seseorang
berpikir dan berucap serta bertindak kotor. Orang yang memakai kacamata
berlensa hitam akan melihat dunia dengan segala pernak-pernik isinya tampak
gelap. Bahkan ucapan seperti sumpah serapah atau ucapan hinaan hanya keluar
dari mulut orang yang pikirannya kotor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar