Mengenal
Allah itu sangat penting. Beragama tanpa mengenal Allah, yakni tanpa mengenal
Pemilik Nama hanya menjadikan kegiatan peribadatan semu atau bahkan sia-sia.
Bukankah awal dari beragama itu mengenal Allah?
Tanpa
mengenal Allah, apa saja bentuk pengabdian yang dikerjakan tidak mencapai kesem-purnaan.
Sebab, pengabdian harus karena Allah saja. Ibadah yang dikerjakan bukan karena
Allah akan tertolak. Hanya Allah yang dapat mengaruniai ganjaran yang baik atas
orang yang secara tulus mengabdi kepadaNya.
Seseorang
dikatakan mengenal Allah adalah setelah pertemuan dengan Dia. Namun, pertemuan
dengan Allah di dunia ini oleh mayoritas pemeluk Islam masih didustakan.
Beramal
saleh sebagai perwujudan peribadatan kepada Allah pun barulah sebatas salah
satu syarat untuk menemuiNya. Sedangkan, supaya mengenal Allah dengan
sebenar-benarnya, setiap insan yang ingin mengenalNya harus bertemu dengan
Allah terlebih dahulu. Tidak ada pengenalan yang lebih sempurna, kecuali hanya
setelah pertemuan.
“.... Barangsiapa mengharap perjumpaan
dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
(QS: 18 : 110)
Mengenal
Allah bukan hanya mengenal namaNya atau hanya mengetahui Dia adalah Pencipta
langit dan bumi. Pengenalan sebatas ini belum cukup bagi orang yang benar-benar
ingin mengenalNya. Pengenalan yang demikian lebih tidak cukup lagi bagi orang
yang tidak ingin kafir dan mati dalam kekafiran. Secara berulang kali Allah mengingatkan
akan pentingnya pertemuan denganNya.
Menurut
salah satu ayat di dalam al Qur’an, orang kafir adalah orang yang (1) tidak
beriman kepada ayat-ayat Allah dan (2) tidak beriman kepada pertemuan
denganNya.
“Dan orang-orang yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmatKu, dan
mereka mendapat azab yang pedih”. (QS 29 : 23).
Supaya
tidak kafir, setiap orang harus beriman kepada al Qur’an dan pertemuan dengan
Allah. Lalai terhadap hal ini menyebabkan kerugian yang tidak terhingga, yakni
mati dalam kekafiran.
“Sesungguhnya orang-orang kafir dan
mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para
malaikat dan manusia seluruhnya”. (QS 2 : 161)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir
dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima
dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri
dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan
sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.”
(QS 3 : 91)
Dalam
al Qur’an disebutkan bahwa amal ibadah orang yang mengingkari ayat-ayat Allah
dan pertemuan dengan Dia tidak dinilai oleh Allah sedikitpun.
“Katakanlah: "Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu
orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur
terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami
tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan
disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.”
(QS 18 : 103 sd 106)
Ayat
di atas mengandung makna yang sangat tegas. Walaupun berbagai ibadah dilakukan
seperti bolak balik ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, berpuasa puluhan
Ramadhan, berzakat dan sholat lima waktu di masjid, maka semua itu tidak
dinilai sama sekali jika dua hal kekafiran yang disebutkan di atas masih
diingkari.
Pengenalan
Allah itu diawali dari mengenal Af’al, Asma, Sifat dan kemudian mengenal
DzatNya. Yang dimaksud dengan Af’al adalah tanda-tanda kekuasaan Allah di
langit dan di bumi serta pada diri sendiri. Asma adalah Nama. Allah memiliki
sejumlah nama yang indah. Sifat adalah atribut yang melekat pada Dzat Allah
sesuai AsmaNya. Jika Asma Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
SifatNya pun adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dzat adalah Yang Hidup
dan Kuasa mengatur segala urusan di langit dan di bumi, termasuk kuasa pula
mengkaruniai rasa kasih sayang. Setiap saat Dzat ini dalam kesibukan mengurus
makhlukNya karena semuanya meminta kepadaNya.
“Semua yang ada di langit dan bumi
selalu meminta kepadanya, setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
(QS 55 : 29)
Pertemuan
dengan Allah didasarkan atas janjiNya yang dapat dipahami di dalam al Qur’an.
Pertemuan itu bukan hasil pikiran, rekayasa atau cerita para tokoh sufi yang
terkesan mabuk atau gila Tuhan. Di dalam al Qur’an disebutkan juga bahwa Allah
tidak menyalahi janjiNya.
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan
Allah, sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah
Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 29 : 5)
Pada
ayat ini tampak jelas, bahwa janji Allah yang dimaksud diawali dengan
pernyataan, bahwa janji itu hanya untuk orang yang mengharapkan pertemuan
dengan Dia. Dengan kata lain, janji tersebut tidak berlaku bagi orang yang
tidak mengharapkan atau tidak meyakini pertemuan denganNya, apalagi mengingkari
pertemuan. Bagi pendusta ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, Allah telah
menetapkan ketentuan bagi dirinya.
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak
mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan
kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang
melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa
yang selalu mereka kerjakan.” (QS 10 : 7 dan 8)
Dari
pemahaman ayat ini dapat dipahami bahwa bagi orang yang tidak meyakini al
Qur’an dan pertemuan dengan Allah adalah orang yang berputus asa yang nantinya
menempati neraka. Padahal pertemuan denganNya telah diberitahukan oleh Allah
melalui ayat-ayat yang jelas. Oleh karena itu, siapa tidak meyakini
ayat-ayatNya, mana mungkin akan meyakini pertemuan dengan tersebut.
Demikian
sekilas bahasan tentang pertemuan dengan Allah di dunia ini. Komentar, saran
positif dan perbaikan dari rekan sejiwa sangat diharapkan.Mengenal
Allah itu sangat penting. Beragama tanpa mengenal Allah, yakni tanpa mengenal
Pemilik Nama hanya menjadikan kegiatan peribadatan semu atau bahkan sia-sia.
Bukankah awal dari beragama itu mengenal Allah?
Tanpa
mengenal Allah, apa saja bentuk pengabdian yang dikerjakan tidak mencapai kesem-purnaan.
Sebab, pengabdian harus karena Allah saja. Ibadah yang dikerjakan bukan karena
Allah akan tertolak. Hanya Allah yang dapat mengaruniai ganjaran yang baik atas
orang yang secara tulus mengabdi kepadaNya.
Seseorang
dikatakan mengenal Allah adalah setelah pertemuan dengan Dia. Namun, pertemuan
dengan Allah di dunia ini oleh mayoritas pemeluk Islam masih didustakan.
Beramal
saleh sebagai perwujudan peribadatan kepada Allah pun barulah sebatas salah
satu syarat untuk menemuiNya. Sedangkan, supaya mengenal Allah dengan
sebenar-benarnya, se-tiap insan yang ingin mengenalNya harus bertemu dengan
Allah terlebih dahulu. Tidak ada pengenalan yang lebih sempurna, kecuali hanya
setelah pertemuan.
“.... Barangsiapa mengharap perjumpaan
dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
(QS: 18 : 110)
Mengenal
Allah bukan hanya mengenal namaNya atau hanya mengetahui Dia adalah Pencipta
langit dan bumi. Pengenalan sebatas ini belum cukup bagi orang yang benar-benar
ingin mengenalNya. Pengenalan yang demikian lebih tidak cukup lagi bagi orang
yang tidak ingin kafir dan mati dalam kekafiran. Secara berulang kali Allah mengingatkan
akan pentingnya pertemuan denganNya.
Menurut
salah satu ayat di dalam al Qur’an, orang kafir adalah orang yang (1) tidak
beriman kepada ayat-ayat Allah dan (2) tidak beriman kepada pertemuan
denganNya.
“Dan orang-orang yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmatKu, dan
mereka mendapat azab yang pedih”. (QS 29 : 23).
Supaya
tidak kafir, setiap orang harus beriman kepada al Qur’an dan pertemuan dengan
Allah. Lalai terhadap hal ini menyebabkan kerugian yang tidak terhingga, yakni
mati dalam kekafiran.
“Sesungguhnya orang-orang kafir dan
mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para
malaikat dan manusia seluruhnya”. (QS 2 : 161)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir
dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima
dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri
dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan
sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.”
(QS 3 : 91)
Dalam
al Qur’an disebutkan bahwa amal ibadah orang yang mengingkari ayat-ayat Allah
dan pertemuan dengan Dia tidak dinilai oleh Allah sedikitpun.
“Katakanlah: "Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu
orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur
terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami
tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan
disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.”
(QS 18 : 103 sd 106)
Ayat
di atas mengandung makna yang sangat tegas. Walaupun berbagai ibadah dilakukan
seperti bolak balik ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, berpuasa puluhan
Ramadhan, berzakat dan sholat lima waktu di masjid, maka semua itu tidak
dinilai sama sekali jika dua hal kekafiran yang disebutkan di atas masih
diingkari.
Pengenalan
Allah itu diawali dari mengenal Af’al, Asma, Sifat dan kemudian mengenal
DzatNya. Yang dimaksud dengan Af’al adalah tanda-tanda kekuasaan Allah di
langit dan di bumi serta pada diri sendiri. Asma adalah Nama. Allah memiliki
sejumlah nama yang indah. Sifat adalah atribut yang melekat pada Dzat Allah
sesuai AsmaNya. Jika Asma Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
SifatNya pun adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dzat adalah Yang Hidup
dan Kuasa mengatur segala urusan di langit dan di bumi, termasuk kuasa pula
mengkaruniai rasa kasih sayang. Setiap saat Dzat ini dalam kesibukan mengurus
makhlukNya karena semuanya meminta kepadaNya.
“Semua yang ada di langit dan bumi
selalu meminta kepadanya, setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
(QS 55 : 29)
Pertemuan
dengan Allah didasarkan atas janjiNya yang dapat dipahami di dalam al Qur’an.
Pertemuan itu bukan hasil pikiran, rekayasa atau cerita para tokoh sufi yang
terkesan mabuk atau gila Tuhan. Di dalam al Qur’an disebutkan juga bahwa Allah
tidak menyalahi janjiNya.
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan
Allah, sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah
Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 29 : 5)
Pada
ayat ini tampak jelas, bahwa janji Allah yang dimaksud diawali dengan
pernyataan, bahwa janji itu hanya untuk orang yang mengharapkan pertemuan
dengan Dia. Dengan kata lain, janji tersebut tidak berlaku bagi orang yang
tidak mengharapkan atau tidak meyakini pertemuan denganNya, apalagi mengingkari
pertemuan. Bagi pendusta ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, Allah telah
menetapkan ketentuan bagi dirinya.
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak
mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan
kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang
melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa
yang selalu mereka kerjakan.” (QS 10 : 7 dan 8)
Dari
pemahaman ayat ini dapat dipahami bahwa bagi orang yang tidak meyakini al
Qur’an dan pertemuan dengan Allah adalah orang yang berputus asa yang nantinya
menempati neraka. Padahal pertemuan denganNya telah diberitahukan oleh Allah
melalui ayat-ayat yang jelas. Oleh karena itu, siapa tidak meyakini
ayat-ayatNya, mana mungkin akan meyakini pertemuan dengan tersebut.
Demikian
sekilas bahasan tentang pertemuan dengan Allah di dunia ini. Komentar, saran
positif dan perbaikan dari rekan sejiwa sangat diharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar