Selasa, 07 Februari 2017

CARA MUDAH MENGENAL ALLAH

A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim Bismillaahir rahmaanir rahiim


Pendahuluan
Beragama adalah bertuhan. Sebab, tidak ada agama tanpa Tuhan. Oleh karena itu, pengenalan Tuhan dalam beragama mesti diutamakan. Artinya, semua kegiatan keagamaan menjadi sia-sia tanpa pengenalan Tuhan dengan sebenar-benarnya. Bagaimana bershahadat jika Tuhan yang diyakini belum jelas keber-ADA-anNya, sedangkan shahadat ditempatkan di posisi pertama dalam Rukun Islam.

Tuhan bernama “Allah”
Manusia mengenal Nama Allah karena Dia sendiri memperkenalkan NamaNya. Dalam Surat Muhammad (47) ayat 19 dapat dibaca, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah ….”. Jadi, Tuhan bernama “Allah”. Banyak keterangan di dalam al Quran yang menyatakan bahwa Tuhan bernama “Allah”. Hal ini tidak diragukan. Namun, perlu dipahami bahwa suatu Nama adalah Nama, yakni sebutan. Nama bukan Tuhan, tetapi adalah nama dari Tuhan. Jika nama itu ditulis dengan menggunakan tinta, maka ia adalah tinta. Demikian pula jika ditulis dengan menggunakan kapur, ia adalah kapur. Tegasnya, tinta dan kapur bukan Allah, Tuhan manusia.

3. Nama-nama lain dari Allah
Selain ‘Allah’, Tuhan juga memperkenalkan Nama-namaNya yang lain. Di dalam al Quran dan hadis dapat ditemukan 99 nama lain dari Allah, diantaranya: ar-Rahman, Yang Maha Pemurah (al Faatihah (1) : 3); ar-Rahim, Yang Maha Pengasih (al Faatihah (1) : 3) al-Malik, Yang Maha Berkuasa (al Mu’minuun (23) : 116); al-Quddus, Yang Maha Suci (al Jumu’ah (62) : 1); as-Salam, Yang Maha Sejahtera (al Hasyr (59) : 23); al-Mu’min, Yang Maha Terpercaya (al Hasyr (59) : 23); al-Muhaimin, Yang Maha Memelihara (Al Hasyr (59) : 23); al-‘Aziz, Yang Maha Perkasa (Ali ‘Imran (3) : 62); al-Jabbar, Yang Maha Berkehendak, (al Hasyr (59) : 23); dan seterusnya.

4. Keinginan mengenal Allah
Supaya dapat mengenal Allah secara lebih baik, yaitu bukan sekadar mengenal Nama saja, umat beragama mesti mengawali kegiatan beragamanya dengan kesadaran bahwa pengetahuannya tentang Allah masih sangat terbatas. Kesadaran seperti ini dapat memicu keinginan untuk meningkatkan pengenalan Allah secara lebih baik lagi. Belum cukup mengenal Allah hanya dengan meyakini bahwa Dia adalah Penguasa langit dan bumi sambil menunjuk ke langit. Orang yang merasa puas dan merasa telah mengenal Allah cenderung salah mengenaliNya. Rasa puas dapat menghalangi upaya untuk lebih mengenalNya. Padahal, boleh jadi Allah yang dikenal selama ini masih sebatas Tuhan bayang-bayang, yakni Tuhan hasil ciptaan pikiran. Idealnya, pengenalan terhadap Allah harus diupayakan semaksimal mungkin.

Selanjutnya, perlu disadari bahwa pengenalan terhadap Allah hanya dapat sampai pada tahap yang dikehendakiNya. Manusia tidak mampu menguak rahasia ketuhanan lebih dari yang telah ditentukanNya, walaupun ia menggunakan kekuatan akal yang dikaruniakan kepadanya. Allah adalah Dzat Yang Maha Halus, (al-An‘aam (6) : 103), dan Yang Batin atau Maha Gaib, (al-Hadid (57) : 3). Sedangkan manusia itu makhluk yang lemah dan tak berdaya.

5. Mengenal versus mengetahui
Dalam hal pengenalan Allah, perlu dibedakan antara makna kata ‘mengenal’ dan ‘mengetahui’. Mengenal dimaksudkan sebatas kemampuan membedakan. Sedangkan mengetahui tidak saja pada kemampuan membedakan, tetapi juga memiliki pengetahuan tentang hakikat Allah. Oleh sebab itu, tujuan yang hendak dicapai dalam bahasan ini hanyalah sebatas mengenal Allah. Dengan kemampuan membedakan antara Allah dan yang bukan Allah diharapkan pemahaman tentang keberadaanNya menjadi semakin terang. Manusia tidak mampu mengetahui hakikat Dzat Allah. Dzat itu adalah Dzat Mutlak di luar jangkauan penglihatan zhahir dan pengetahuan. Manusia hanya dapat mengenali Nama (Asma), Sifat dan Perbuatan (Af’al)¬Nya. Itupun atas kehendakNya.

6. Peran akal dalam mengenal Allah
Dalil pengenalan Allah telah disampaikan melalui para Nabi dan Rasul yang dapat ditelusuri kebenarannya melalui ayat-ayat di dalam al Quran. Dalil itu bahkan telah pula dijabarkan dengan jelas. Tinggal manusia memperhatikannya dengan sungguh-sungguh dan dengan menggunakan akal (Saad (38) : 29). Artinya, peran akal dalam mengenal Allah adalah untuk memahami keterangan tentang Dia. Sebagai contoh, di dalam Surat al-Baqarah (2) : 186 diterangkan bahwa Tuhan bernama Allah itu dekat. Pertanyaan yang mesti dijawab dengan menggunakan akal adalah: ‘Sedekat apakah keberadaan antara Dia dengan makhlukNya?’ Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat diperhatikan melalui Surat Qaaf (50) : 16, bahwa keberadaan Allah lebih dekat dari pada urat leher.

Dari pengertian ini, perlu dipahami bahwa makna mendekatkan diri kepada Allah seperti yang sering disebutkan dalam al Quran (al Maa’idah (5) : 35), bukan dalam makna jarak. Manusia tidak mungkin lebih dekat lagi dengan Allah dalam makna demikian. Allah itu Gaib. Dia adalah Dzat Yang Maha Suci, maka makna mendekatkan diri dalam konteks ini adalah mensucikan diri dari perbuatan syirik dan tercela. Allah itu Maha Sabar, maka makna mendekatkan diri adalah menaati ketentuanNya dengan sabar. Dia Maha Penyayang, maka arti mendekatkan diri adalah menyebarkan kasih sayang kepada sesama makhlukNya, dan seterusnya. Singkatnya, berbuat baik atau beramal saleh adalah salah satu syarat untuk menemui Allah, (al-Kahfi (18) : 110).

Dalam Surat al-Hajj (22) : 16 tertera: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan al Quran beberapa ayat yang terang, dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”. Adapun orang yang dikehendaki untuk memperoleh petunjuk dimaksudkan dalam ayat ini pada dasarnya adalah semua manusia tanpa kecuali. Maha Suci Allah dari membedakan hambaNya. Dia hanya menilai ketakwaan si hamba, (al-Hujaraat (49) : 13). Al Quran telah diturunkan untuk semua manusia, yakni peringatan bagi semesta alam, (at-Takwir (81) : 27). Jika kenyataannya bahwa manusia tidak mengenal Tuhan, hal itu disebabkan oleh kelalaian dari dirinya sendiri dalam memahami Firman Allah. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (Saba’ (34) : 50).

Lalai atau tidaknya seseorang disebabkan oleh kehidupannya yang belum seimbang. Sedangkan keseimbangan yang dimaksud adalah antara kebutuhan jasad (perut: makan), mental (otak: pengetahuan) dan emosional (hati: sabar) serta spiritual (ruh: mengenal Allah). Orang yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan jasadnya tertinggal dalam kebutuhan lain: mental, emosional dan spiritual. Sedangkan yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan mentalnya tertinggal dalam kebutuhan lainnya: jasad, emosional, spiritual dan seterusnya. Pengabaian salah satu dari kebutuhan itulah yang dimaksud dengan ketidakseimbangan. Tidak mengenal Tuhan terjadi akibat dari pengabaian kebutuhan spiritual.

Al Quran telah diturunkan sebagai pedoman bagi manusia dan petunjuk bagi yang beriman, (al-Jaasyiah (45) : 20). Selanjutnya manusia yang beriman diharapkan menjadikan al Quran sebagai pedoman. Namun disebabkan kelalaian manusia, al Quran justru difungsikan sebagai koleksi, syair yang disenandungkan dan penangkal santet, bahkan tidak jarang al Quran dibacakan kepada mayat. “Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang yakin” (al-Jassiyah (45) : 20).

7. Kelalaian mengenal Allah
Kelalaian memahami al Quran dalam rangka mengenal Allah bermula dari kelalaian perorangan atau individu. Kelalaian demikian adalah kelalaian dari seseorang yang terjadi karena ia tidak berusaha mengenal Allah secara bersungguh-sungguh. Selain kelalaian perorangan adalagi kelalaian kolektif, atau kelalaian bersama pendakwah dan umat yang didakwahi. Kelalaian tersebut tampak dari materi dakwah yang secara umum hanya berkisar soal pahala-dosa yang diramu dengan politik praktis untuk mendapatkan kekuasaan. Akibatnya, pengenalan tentang Allah yang merupakan titik awal beragama jarang disentuh, apalagi untuk sampai pada tahap merasakan keberadaan Allah. Oleh sebab itu, untuk mengenal Allah manusia mesti kembali kepada al Quran, karena “Siapa berpaling dari al Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat” (Taahaa (20) : 100).

8. Peran usaha dan doa menuju Allah
Al Quran mesti dikembalikan kepada fungsinya sebagai pedoman untuk dipahami, khususnya untuk mengenal Allah. Sudah semestinya secara ikhlas setiap orang mengakui dari lubuk hatinya yang paling dalam, bahwa ia memang tidak akan mampu mengenal Allah, kecuali atas petunjukNya. Untuk itu, selain dengan berusaha memahami ayat-ayat al Quran, yakni menggali makna terkandung di dalamnya secara terus-menerus, setiap orang mesti juga memohon pertolongan Allah dengan bersungguh-sungguh supaya dapat mengenaliNya secara benar. Di sinilah letak perpaduan antara usaha dan doa. Sebagai khalifah di muka bumi manusia mesti bekerja, yakni dimulai dengan memahami ayat-ayat al Quran yang tertulis dan tersirat. Sedangkan sebagai hamba yang lemah ia mesti banyak berdoa. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (al-‘Ankabuut (29) : 69).

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (al Maa’idah (5) : 35).

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Ku perkenankan bagimu, ….” (al-Mu’min (40) : 60).

“... Dan barangsiapa beriman kepada Allah, Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu” (at-Taghaabun (64) : 11).

“Dan orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (Muhammad (47) : 17). “Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti benar” (az-Zaariyaat (51) : 5).

Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa, jika manusia beriman dan berupaya serta berdoa sungguh-sungguh, Allah menunjukinya cara mengenaliNya. Janji Allah pasti dipenuhiNya. Tanpa memahami Firman Allah secara benar, yakni pemahaman dengan mengharapkan petunjukNya, manusia tidak dapat mengenal Allah. Dengan kata lain, mengenalNya hanya berhasil atas petunjukNya. Sedangkan Tuhan tidak menunjuki seseorang jika ia tidak beriman kepada ayat-ayatNya (an-Nahl (16) : 104). Orang yang demikian adalah orang yang diazab (al-Ankabuut (29) : 23).

9. Mengenal Allah melalui ayat Kursi
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menunjuk ke atas atau langit jika yang ia maksudkan dalam pembicaraannya adalah Allah. Ucapan seperti: ‘Terserah kepada yang di atas’ adalah salah satu bentuk pernyataan yang dapat dimaknai bahwa Allah berada jauh dari makhlukNya, yakni di langit. Persangkaan seperti ini bertentangan dengan keterangan tentang Allah seperti dijelaskanNya melalui firman yang terang. Allah itu berada dimana saja manusia berada (al-Hadid (57) : 4), Dia Maha Dekat (Saba’ (34) : 50), Dia lebih dekat dari pada urat leher (Qaaf (50) : 16) dan sebagainya. Makna kata langit, seperti Allah berada di langit untuk diartikan keagungan atau ketinggian dalam pengertian derajad, bukan tempat.

10. Allah versus manusia
Apakah manusia itu Tuhan? Tidak! Manusia hanyalah kehidupan, karena ia tidak kekal. Manusia hanya mengaku hidup, padahal sesungguhnya ia dihidupkan oleh Dzat, Yang Hidup. Pada suatu saat ia akan dimatikan (an-Najm (53) : 44). Karena keberadaan Yang Hidup Kekal sangat dekat dengan manusia, maka manusia dapat beraktivitas seperti: melihat, tidur, makan, mandi dan bekerja. Rangkaian aktivitas demikian disebut kehidupan. Alasan lain yang membantah manusia bukan Allah adalah bahwa Allah, Yang Hidup Kekal tidak dapat dicapai mata (al An’aam (6) : 103). Sedangkan manusia berada dalam jangkauan penglihatan mata.
“Allah tidak dapat dicapai penglihatan, sedangkan Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”, (al-An‘aam (6) : 103).

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya)….” (Taahaa (20) : 111).

“Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan” (an-Najm (53) : 44).

Selain bersifat kekal, Pemilik nama Allah atau Yang Hidup Kekal tersebut senantiasa mengurus makhlukNya. Dengan demikian, manusia sebagai salah satu makhlukNya diurus dan diatur oleh Yang Hidup Kekal. Siapakah yang melangkahkan kaki dan mengayunkan tangannya ketika manusia diperjalankan? Siapakah yang mengedipkan mata? Siapakah yang memperdengarkan bunyi? Siapakah yang mengatur segala urusan? Jawabnya, Yang Hidup Kekal bernama Allah.
“….dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’ ” (Yuunus (10) : 31).

Dari ayat di atas dapat pula dipahami bahwa Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup Kekal itu tidak mengantuk dan tidak tidur. Tanda bahwa Dia terus menerus mengurus makhlukNya, tidak tidur dan Maha Dekat terlihat pada naik turunnya nafas ketika seseorang sedang tidur. Dalam ayat tersebut tertera keterangan batasan yang jelas antara manusia dan Allah. Manusia itu tidur sedangkan Allah tidak tidur apalagi mengantuk. Manusia bukan Tuhan termasuk Fir’aun, karena manusia dan juga Fir’aun mengalami tidur dan mengantuk. Allah selalu dalam kesibukan namun tidak pernah lelah.

11. Dzat adalah Yang Hidup
Siapakah Yang Hidup, Pengatur dan selalu mengurus makhlukNya? Jawabnya adalah ‘Dzat’. Dialah yang mengatur segala urusan. Dialah Tuhan manusia. Tidak ada lagi Tuhan selain Dzat Yang Hidup Kekal itu. Selain itu adalah kesesatan. “Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yuunus (10) : 32).

Itulah Dia Tuhan manusia. Kata “Dzat” seperti ditemukan dalam terjemahan di atas adalah kata tambahan yang dipakai sebagai tempat melekatkan sebutan Yang Hidup Kekal dan Maha Pengatur. Dengan kata lain, Dzat adalah Yang Hidup. Dzat yang dimaksud bukan berarti zat kimia seperti zat arang atau kapur. Maha Suci Tuhan Yang Hidup Kekal dari semua persangkaan. Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup itu Gaib dan Maha Suci. Keterangan Dzat dimaksudkan Surat Yuunus (10) : 32 tertera pada ayat sebelumnya.

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’” (Yuunus (10) : 31).

12. Allah mengurus makhlukNya
Dari penjelasan di atas, Allah adalah Dzat Yang Hidup Kekal yang selalu mengurus makhlukNya, seperti:
menjadikan manusia mengantuk, (al-Anfaal (8) : 11)
menidurkan dan membangunkan manusia, (al-An’aam (6) : 60)
menyembuhkan ketika sakit, (asy-Syu’araa (26) : 80) 4. menjadikan manusia tertawa dan menangis, (an-Najm (53) : 43)
melapangkan dan menyempitkan rezeki, (az-Zumar (39) : 52)
memberi makan dan minum, (asy-Syu’araa (26) : 79)
mematikan dan menghidupkan, (an-Najm (53) : 44)
menjadikan manusia dari segumpal darah (al-‘Alaq (96) : 2)
mengajar manusia berbicara, (ar-Rahmaan (55) : 4), dan seterusnya.

13. Mengenal Allah melalui perumpamaan
Sangat penting disadari bahwa perumpamaan apapun untuk mengenal Allah adalah upaya mendekatkan kepada pemahaman, bukan mengumpamakan Allah. Dia, Yang Hidup tidak dapat diumpamakan. Sebab, Pemilik nama Allah tidak ada duanya, keberadaan-Nya Tunggal. Sebagai ilustrasi, penjelasan dari pengenalan Allah dapat diumpamakan seperti penjemputan seorang tamu baru mendarat di bandara. Tanpa ciri yang cukup dari tamu yang dijemput, dipastikan sulit menemukan tamu itu. Tetapi jika salah satu ciri dari tamu diketahui seorang pria, kesulitan akan berkurang. Si penjemput tidak perlu menanyai semua penumpang wanita. Kesulitan akan lebih berkurang jika usia tamu diketahui di atas 70 tahun. Sehingga, semua tamu pria di bawah usia itu tidak perlu ditanyai. Semakin lengkap ciri yang dikenal, semakin mudah menemukan. Maka sebelum menemui Tuhan, semua ciri tentang Tuhan mesti dikenal, sehingga pada saat pertemuan denganNya seperti yang telah dijanjikan (al-Ankabuut (29) : 5), semua keraguan dapat dihindari.

14. Keberadaan Allah
Dimanakah keberadaan Yang Hidup? Dzat itu ‘akrab’ dengan makhlukNya (Qaaf (50) : 16). Ayat berikut adalah keterangan akrabnya Dzat Allah pada hambaNya.

“Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat….” (al-Baqarah (2) : 186).

Sedekat apakah Dzat Yang Hidup itu? Dzat Yang Hidup menurut keterangan di dalam al Quran lebih dekat dari pada urat leher.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (Qaaf (50) : 16).

“…. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat” (Surat Saba’ (34) : 50)

“….dan Dia beserta kamu di mana saja kamu berada… .” (Al-Hadid (57) : 4).

Kata dekat apalagi Maha Dekat dimaksudkan sebagai dekat yang tidak berjarak. Hal ini dapat diibaratkan seperti gula dan manisnya yang tidak dapat dipisahkan.
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (az-Zaariyaat (51) : 20 dan 21).

Lebih lanjut perlu dibedakan antara Dzat Yang Hidup dan makhlukNya. Dzat tersebut adalah Yang Hidup Kekal, Yang Tidak Mati (al-Furqaan (25) : 58). Tetapi tidak demikian dengan hamba atau makhlukNya. Pemahaman di atas lebih jelas jika dihubungkan dengan Surat Al-Hadid (57) : 3.

15. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Hadid (57) : 3). Siapa Yang Awal, Akhir, Zhahir dan Batin. Apakah yang Yang Awal itu? Yang Awal adalah bahwa Dzat Yang Hidup telah ada sebelum jasad manusia diadakan. Tidak ada segala sesuatu yang mendahuluiNya.

Apakah Yang Akhir itu? Yang Akhir adalah bahwa Dzat Yang Hidup itu akan tetap ada walaupun jasad manusia telah lenyap. Jasad manusia yang dijadikan oleh Dzat Yang Hidup dari sari pati tanah akan kembali menjadi tanah. Yang Awal dan Akhir adalah kekekalan dari Dzat Yang Hidup. Dalam hal ini, Yang Awal adalah Yang Akhir, yakni Dzat Hidup Kekal bernama Allah. Dengan kata lain, Yang Awal adalah persis sama dengan Yang Akhir. Allah tidak dibatasi oleh demensi ruang dan waktu. Dia meliputi segala sesuatu.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahmaan (55) : 26 dan 27).

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal....” (An-Nahl (16) : 96).

16. Yang Zhahir dan Yang Batin
Apakah Yang Zhahir? Yang Zhahir adalah Af’al, yakni tindakan, perbuatan atau kekuasaan dari Dzat Yang Hidup yang dapat dipersepsi melalui panca indera. Dengan kata lain, Yang Zhahir adalah perwujudan atau manifestasi dari keberadaan Dzat Yang Batin. Keberadaan Yang Zhahir tanda adanya Yang Batin. Tidak ada Yang Zhahir jika tidak ada Yang Batin. Kemana manusia menghadap, maka di situlah wajah Allah, (Lihat al-Baqarah (2) : 115).

Apakah Yang Batin? Yang Batin adalah Dzat Yang Hidup Kekal dan tidak terlihat. Manusia selamanya tidak pernah melihat Dzat Allah Yang Hidup dengan mata zhahir (al-An‘aam (6) : 103). Yang terlihat mata zhahir adalah tanda-tanda kekuasaanNya (Az-Zaariyaat (51) : 20 dan 21). Dzat Allah, Yang Hidup adalah rahasia bagi manusia. Manusia cukup sebatas mengenal Af’al, Asma dan Sifat dari Dzat Yang Hidup Kekal serta meyakini keberadaan Dzat itu dan kemudian mematuhiNya. Yang Batin dapat diyakini keberadaanNya melalui Yang Zhahir, yaitu tanda adanya Dzat Yang Hidup pada alam dan makhluk seperti difirmankanNya.

“Dan kepunyaan Allah Timur dan Barat, maka kemana saja kamu menghadap disitu wajah Allah ….” (Al-Baqarah (2) : 115).

“Wajah Allah” yang dimaksudkan pada ayat, Al-Baqarah (2) : 115 adalah tanda dari keberadaan, kebesaran atau kekuasaan sebagai manifestasi perbuatanNya. Itulah bukti dari keberadaan Yang Batin. Namun yang zhahir, yakni yang terlihat melalui mata zhahir di setiap ufuk bukanlah Dia yang sedang ditelusuri keberadaanNya. Wajah Allah pada ayat di atas tidak sama dengan wajah manusia. Wajah itu, antara lain untuk diartikan sebagai Af’al, seperti pohon melambai, burung beterbangan, hujan turun dan ombak memecah di pantai. Semua itu menandakan keberadaan Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Menggerakkan. Itulah kehidupan.

Konsep di atas mudah dipahami dengan memperhatikan air yang beriak dalam kolam yang menandakan di dalam kolam tersebut ada ikan. Tetapi riak air bukanlah ikan, melainkan hanya tanda. Sebab, ikan bukan air. Dzat Yang Hidup bernama Allah tidak menyerupai siapa dan apa pun. Tiada yang setara dengan Dia.

“….Tidak sesuatupun yang serupa dengan Dia….” (Asy-Syuuraa (42) : 11).

Keberadaan alam ini menandakan adanya Dzat Yang Menjadikan dan Memelihara. Pohon yang terlihat hidup adalah tanda bahwa pada pohon itu ada kehidupan yang hanya dapat dihidupkan oleh Dzat Yang Maha Hidup. Demikian juga pada makhluk lain, seperti nyamuk dapat terbang karena pada nyamuk terdapat kehidupan yang hanya dapat ditimbulkan oleh Dzat Yang Hidup.

17. Asma, Af’al, Sifat dan Dzat Allah
Allah, Dzat Yang Hidup Kekal memiliki Asma (Nama), Af’al dan Sifat. Sedangkan DzatNya adalah Gaib, yakni Yang Batin. Yang dapat dikenali terlebih dahulu adalah Af’alNya, seperti langit ditinggikan tanpa tiang dan matahari digantung tanpa tali. Itulah perbuatan atau kekuasaanNya (Af’al-Nya). Dari Af’al ini dapat dikenali AsmaNya seperti al-Muqtadir, Maha Kuasa (al-Qamar (54) : 42).

Disebabkan Asma dan Sifat berhubungan, maka dari Asma Allah: ‘Maha Kuasa’ dapat pula dikenali SifatNya, yakni juga Maha Kuasa. Dia kuasa meninggikan langit, menghamparkan bumi dan menjadikan matahari bersinar.

Sifat Allah tidak terpisah dari AsmaNya. Sebagai misal, ketika seseorang menyebut sebongkah batu es, secara langsung dapat dihubungkan antara nama dan sifat. Batu es adalah nama dari sebongkah benda keras dan dingin. Demikian pula apabila disebut api, maka langsung akan tergambar di dalam pikiran benda kemerah-merahan yang sifatnya panas membakar.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al Quran itu adalah benar. …” (Fussilat (41) : 53).

Mengenal dan meyakini keberadaan Dzat Yang Hidup Kekal pada sekujur tubuh hendaklah sampai dirasakan keberadaanNya, sampai dipersaksikan NurNya dan sampai diperdengarkan KalamNya. Manusia sebaiknya tidak membahas Dzat Allah secara berlarut, sebab manusia tidak akan mampu. Asma adalah Nama Allah; Sifat adalah Sifat Allah dan Af’al adalah Af’al Allah. “Allah tidak dapat dicapai penglihatan, sedangkan Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”, (Al-An‘aam (6) : 103).

Perlu dipahami sekali lagi, bahwa Dzat Allah itu Gaib. Dan disebabkan oleh kegaiban, maka Dzat tersebut tidak dapat dicapai mata zhahir. Lebih lanjut dapat pula dijelaskan, tidak terlihatnya Dzat itu dikarenakan Dzat itulah yang mengaruniai penglihatan saat manusia melihat.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”, (Al-Insaan (76) : 2).

Dzat Allah tidak untuk dipahami bertengger secara fisik pada hati di dalam dada, namun keberadaanNya dapat diyakini melalui hati yang di dalam dada. Seperti kegaiban Dzat Allah, maka demikian pula halnya dengan hati atau kalbu yang disebut di atas, ia bukan hanya untuk diartikan secara sempit, yakni sekadar sepotong daging yang di rongga dada. Hati memiliki arti sangat luas, bagaikan sebuah cermin yang dapat memantulkan dunia lain.

Untuk memahami betapa luas pandangan mata hati, terlebih dahulu perhatikan betapa luasnya pandangan yang terlihat melalui mata zhahir. Bola mata bergaris tengah lebih kurang dua senti meter ternyata dengan izinNya dapat melihat sebuah meja walaupun ukuran meja itu jauh melebihi besar bola mata. Apabila pandangan mata diarahkan jauh ke depan, maka bola mata yang kecil tadi bahkan dapat memuat alam yang luasnya sekian kilo meter. Dapat dibayangkan jika pandangan diarahkan ke langit, pandangan itu dapat mencapai jarak puluhan kilo meter.
Sebaliknya kemampuan mata batin atau mata hati yang dikaruniai untuk melihat, ternyata jauh melebihi kemampuan mata zhahir. Penglihatan mata hati tidak terhalang kebendaan, seperti dinding beton, pagar dan lain-lain.

Selanjutnya melalui FirmanNya, Dzat Yang Hidup memperkenalkan keberadaanNya melalui ayat: “Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa; tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah (2) : 163).

18. Ke-Esaan Allah
Dzat Yang Hidup itu Esa, tiada duanya. Salah satu cara memahami ke-Esa-an-Nya adalah dengan memperhatikan warna langit yang tetap biru walaupun langit tersebut dilihat oleh satu, dua, tiga, seratus, atau seribu orang lebih, bahkan untuk jumlah yang tak terhingga. Warna biru adalah perumpamaan atau cara untuk memahami ke-Esa-an Dzat Yang Hidup.

Contoh lain dari memahami konsep keesaan adalah dengan memperhatikan refleksi diri di dalam beberapa buah kaca. Walaupun diri itu hanya satu, namun keesaan diri tersebut dapat terefleksi dalam beberapa bentuk dalam bayangan kaca. Dari uraian ini, maka timbul pertanyaan yang tidak kalah pentingnya. Jika Dzat itu Esa, bagaimanakah pemahaman akrabnya Dzat pada makhlukNya, yakni pada manusia? Dzat Yang Hidup itu Esa, yaitu keesaan dari Dzat Yang Hidup. Yang banyak adalah tempat Dia menampakkan keberadaanNya. Keterangan tentang keesaan Dzat dapat digambarkan dengan istilah “Melihat Yang Satu dalam yang banyak”. Dalam hal ini, yang perlu dilihat adalah hakikat dari yang banyak itu sendiri. Sebagai contoh, hakikat dari ombak, gelombang, riak dan buih sebenarnya adalah air. Jadi Dzat sesungguhnya adalah hakikat, yang sebenarnya atau Yang Haq.
Memahami konsep ketunggalan dapat pula digambarkan dengan memberikan sebutan 01 (kosong satu) terhadap angka nol di depan angka satu, dan sebutan 10 (satu kosong atau sepuluh) terhadap angka satu di depan angka nol. Tetapi ketunggalan Dzat tidak memiliki sebutan, yakni seperti angka satu di dalam angka nol. Ia bukan 01 dan bukan pula 10. Angka nol (0) lambang jasad, sedangkan angka satu (1) adalah ketunggalan Dzat Yang Hidup. Jika Dzat Yang Tunggal, Hidup Kekal dan lebih dekat dari urat leher itu berpisah dengan wadah (jasad), maka jasad itu tidak lebih adalah setumpuk daging yang tidak berdaya.





1 komentar:

  1. Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com

    Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
    -Situs Aman dan Terpercaya.
    - Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
    - Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
    - Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
    - Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
    -Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
    - 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI

    8 Permainan Dalam 1 ID :
    Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66

    Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
    BBM: 2AD05265
    WA: +855968010699
    Skype: smsqqcom@gmail.com

    BalasHapus