A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Pendahuluan
Beragama adalah
bertuhan. Sebab, tidak ada agama tanpa Tuhan. Oleh karena itu, pengenalan Tuhan
dalam beragama mesti diutamakan. Artinya, semua kegiatan keagamaan menjadi
sia-sia tanpa pengenalan Tuhan dengan sebenar-benarnya. Bagaimana bershahadat
jika Tuhan yang diyakini belum jelas keber-ADA-anNya, sedangkan shahadat ditempatkan
di posisi pertama dalam Rukun Islam.
Tuhan bernama “Allah”
Manusia mengenal
Nama Allah karena Dia sendiri memperkenalkan NamaNya. Dalam Surat Muhammad (47)
ayat 19 dapat dibaca, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan
Allah ….”. Jadi, Tuhan bernama “Allah”. Banyak keterangan di dalam al Quran
yang menyatakan bahwa Tuhan bernama “Allah”. Hal ini tidak diragukan. Namun,
perlu dipahami bahwa suatu Nama adalah Nama, yakni sebutan. Nama bukan Tuhan,
tetapi adalah nama dari Tuhan. Jika nama itu ditulis dengan menggunakan tinta, maka
ia adalah tinta. Demikian pula jika ditulis dengan menggunakan kapur, ia adalah
kapur. Tegasnya, tinta dan kapur bukan Allah, Tuhan manusia.
3. Nama-nama lain
dari Allah
Selain ‘Allah’, Tuhan juga memperkenalkan
Nama-namaNya yang lain. Di dalam al Quran dan hadis dapat ditemukan 99 nama lain
dari Allah, diantaranya: ar-Rahman, Yang Maha Pemurah (al Faatihah (1) : 3);
ar-Rahim, Yang Maha Pengasih (al Faatihah (1) : 3) al-Malik, Yang Maha Berkuasa
(al Mu’minuun (23) : 116); al-Quddus, Yang Maha Suci (al Jumu’ah (62) : 1);
as-Salam, Yang Maha Sejahtera (al Hasyr (59) : 23); al-Mu’min, Yang Maha
Terpercaya (al Hasyr (59) : 23); al-Muhaimin, Yang Maha Memelihara (Al Hasyr
(59) : 23); al-‘Aziz, Yang Maha Perkasa (Ali ‘Imran (3) : 62); al-Jabbar, Yang
Maha Berkehendak, (al Hasyr (59) : 23); dan seterusnya.
4. Keinginan
mengenal Allah
Supaya
dapat mengenal Allah secara lebih baik, yaitu bukan sekadar mengenal Nama saja,
umat beragama mesti mengawali kegiatan beragamanya dengan kesadaran bahwa
pengetahuannya tentang Allah masih sangat terbatas. Kesadaran seperti ini dapat
memicu keinginan untuk meningkatkan pengenalan Allah secara lebih baik lagi.
Belum cukup mengenal Allah hanya dengan meyakini bahwa Dia adalah Penguasa
langit dan bumi sambil menunjuk ke langit. Orang yang merasa puas dan merasa
telah mengenal Allah cenderung salah mengenaliNya. Rasa puas dapat menghalangi
upaya untuk lebih mengenalNya. Padahal, boleh jadi Allah yang dikenal selama
ini masih sebatas Tuhan bayang-bayang, yakni Tuhan hasil ciptaan pikiran.
Idealnya, pengenalan terhadap Allah harus diupayakan semaksimal mungkin.
Selanjutnya, perlu
disadari bahwa pengenalan terhadap Allah hanya dapat sampai pada tahap yang
dikehendakiNya. Manusia tidak mampu menguak rahasia ketuhanan lebih dari yang telah
ditentukanNya, walaupun ia menggunakan kekuatan akal yang dikaruniakan kepadanya.
Allah adalah Dzat Yang Maha Halus, (al-An‘aam (6) : 103), dan Yang Batin atau
Maha Gaib, (al-Hadid (57) : 3). Sedangkan manusia itu makhluk yang lemah dan
tak berdaya.
5. Mengenal versus mengetahui
Dalam hal
pengenalan Allah, perlu dibedakan antara makna kata ‘mengenal’ dan
‘mengetahui’. Mengenal dimaksudkan sebatas kemampuan membedakan. Sedangkan
mengetahui tidak saja pada kemampuan membedakan, tetapi juga memiliki
pengetahuan tentang hakikat Allah. Oleh sebab itu, tujuan yang hendak dicapai dalam
bahasan ini hanyalah sebatas mengenal Allah. Dengan kemampuan membedakan antara
Allah dan yang bukan Allah diharapkan pemahaman tentang keberadaanNya menjadi
semakin terang. Manusia tidak mampu mengetahui hakikat Dzat Allah. Dzat itu
adalah Dzat Mutlak di luar jangkauan penglihatan zhahir dan pengetahuan.
Manusia hanya dapat mengenali Nama (Asma), Sifat dan Perbuatan (Af’al)¬Nya.
Itupun atas kehendakNya.
6. Peran akal dalam
mengenal Allah
Dalil
pengenalan Allah telah disampaikan melalui para Nabi dan Rasul yang dapat
ditelusuri kebenarannya melalui ayat-ayat di dalam al Quran. Dalil itu bahkan
telah pula dijabarkan dengan jelas. Tinggal manusia memperhatikannya dengan
sungguh-sungguh dan dengan menggunakan akal (Saad (38) : 29). Artinya, peran
akal dalam mengenal Allah adalah untuk memahami keterangan tentang Dia. Sebagai
contoh, di dalam Surat al-Baqarah (2) : 186 diterangkan bahwa Tuhan bernama
Allah itu dekat. Pertanyaan yang mesti dijawab dengan menggunakan akal adalah:
‘Sedekat apakah keberadaan antara Dia dengan makhlukNya?’ Jawaban atas
pertanyaan tersebut dapat diperhatikan melalui Surat Qaaf (50) : 16, bahwa
keberadaan Allah lebih dekat dari pada urat leher.
Dari pengertian
ini, perlu dipahami bahwa makna mendekatkan diri kepada Allah seperti yang
sering disebutkan dalam al Quran (al Maa’idah (5) : 35), bukan dalam makna
jarak. Manusia tidak mungkin lebih dekat lagi dengan Allah dalam makna
demikian. Allah itu Gaib. Dia adalah Dzat Yang Maha Suci, maka makna mendekatkan
diri dalam konteks ini adalah mensucikan diri dari perbuatan syirik dan
tercela. Allah itu Maha Sabar, maka makna mendekatkan diri adalah menaati
ketentuanNya dengan sabar. Dia Maha Penyayang, maka arti mendekatkan diri
adalah menyebarkan kasih sayang kepada sesama makhlukNya, dan seterusnya.
Singkatnya, berbuat baik atau beramal saleh adalah salah satu syarat untuk
menemui Allah, (al-Kahfi (18) : 110).
Dalam Surat al-Hajj
(22) : 16 tertera: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan al Quran beberapa ayat
yang terang, dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia
kehendaki”. Adapun orang yang dikehendaki untuk memperoleh petunjuk dimaksudkan
dalam ayat ini pada dasarnya adalah semua manusia tanpa kecuali. Maha Suci
Allah dari membedakan hambaNya. Dia hanya menilai ketakwaan si hamba,
(al-Hujaraat (49) : 13). Al Quran telah diturunkan untuk semua manusia, yakni
peringatan bagi semesta alam, (at-Takwir (81) : 27). Jika kenyataannya bahwa
manusia tidak mengenal Tuhan, hal itu disebabkan oleh kelalaian dari dirinya
sendiri dalam memahami Firman Allah. Katakanlah: "Jika aku sesat maka
sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat
petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (Saba’ (34) : 50).
Lalai atau tidaknya
seseorang disebabkan oleh kehidupannya yang belum seimbang. Sedangkan
keseimbangan yang dimaksud adalah antara kebutuhan jasad (perut: makan), mental
(otak: pengetahuan) dan emosional (hati: sabar) serta spiritual (ruh: mengenal
Allah). Orang yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan jasadnya tertinggal dalam
kebutuhan lain: mental, emosional dan spiritual. Sedangkan yang hanya berusaha
memuaskan kebutuhan mentalnya tertinggal dalam kebutuhan lainnya: jasad,
emosional, spiritual dan seterusnya. Pengabaian salah satu dari kebutuhan
itulah yang dimaksud dengan ketidakseimbangan. Tidak mengenal Tuhan terjadi
akibat dari pengabaian kebutuhan spiritual.
Al Quran telah
diturunkan sebagai pedoman bagi manusia dan petunjuk bagi yang beriman,
(al-Jaasyiah (45) : 20). Selanjutnya manusia yang beriman diharapkan menjadikan
al Quran sebagai pedoman. Namun disebabkan kelalaian manusia, al Quran justru
difungsikan sebagai koleksi, syair yang disenandungkan dan penangkal santet,
bahkan tidak jarang al Quran dibacakan kepada mayat. “Al Quran ini adalah
pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang yakin” (al-Jassiyah
(45) : 20).
7. Kelalaian mengenal Allah
Kelalaian memahami
al Quran dalam rangka mengenal Allah bermula dari kelalaian perorangan atau
individu. Kelalaian demikian adalah kelalaian dari seseorang yang terjadi
karena ia tidak berusaha mengenal Allah secara bersungguh-sungguh. Selain
kelalaian perorangan adalagi kelalaian kolektif, atau kelalaian bersama pendakwah
dan umat yang didakwahi. Kelalaian tersebut tampak dari materi dakwah yang
secara umum hanya berkisar soal pahala-dosa yang diramu dengan politik praktis
untuk mendapatkan kekuasaan. Akibatnya, pengenalan tentang Allah yang merupakan
titik awal beragama jarang disentuh, apalagi untuk sampai pada tahap merasakan
keberadaan Allah. Oleh sebab itu, untuk mengenal Allah manusia mesti kembali
kepada al Quran, karena “Siapa berpaling dari al Quran maka sesungguhnya ia
akan memikul dosa yang besar di hari kiamat” (Taahaa (20) : 100).
8. Peran usaha dan doa menuju Allah
Al Quran mesti
dikembalikan kepada fungsinya sebagai pedoman untuk dipahami, khususnya untuk
mengenal Allah. Sudah semestinya secara ikhlas setiap orang mengakui dari lubuk
hatinya yang paling dalam, bahwa ia memang tidak akan mampu mengenal Allah,
kecuali atas petunjukNya. Untuk itu, selain dengan berusaha memahami ayat-ayat
al Quran, yakni menggali makna terkandung di dalamnya secara terus-menerus,
setiap orang mesti juga memohon pertolongan Allah dengan bersungguh-sungguh supaya
dapat mengenaliNya secara benar. Di sinilah letak perpaduan antara usaha dan
doa. Sebagai khalifah di muka bumi manusia mesti bekerja, yakni dimulai dengan
memahami ayat-ayat al Quran yang tertulis dan tersirat. Sedangkan sebagai hamba
yang lemah ia mesti banyak berdoa. “Dan orang-orang yang berjihad untuk
(mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan
Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (al-‘Ankabuut (29) : 69).
“Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepadaNya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”
(al Maa’idah (5) : 35).
“Dan Tuhanmu
berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Ku perkenankan bagimu, ….” (al-Mu’min
(40) : 60).
“... Dan
barangsiapa beriman kepada Allah, Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya.
Dan Allah mengetahui segala sesuatu” (at-Taghaabun (64) : 11).
“Dan orang yang
mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada
mereka (balasan) ketakwaannya” (Muhammad (47) : 17). “Sesungguhnya apa yang
dijanjikan kepadamu itu pasti benar” (az-Zaariyaat (51) : 5).
Dari ayat-ayat di
atas terlihat bahwa, jika manusia beriman dan berupaya serta berdoa
sungguh-sungguh, Allah menunjukinya cara mengenaliNya. Janji Allah pasti dipenuhiNya.
Tanpa memahami Firman Allah secara benar, yakni pemahaman dengan mengharapkan
petunjukNya, manusia tidak dapat mengenal Allah. Dengan kata lain, mengenalNya
hanya berhasil atas petunjukNya. Sedangkan Tuhan tidak menunjuki seseorang jika
ia tidak beriman kepada ayat-ayatNya (an-Nahl (16) : 104). Orang yang demikian
adalah orang yang diazab (al-Ankabuut (29) : 23).
Dalam kehidupan
sehari-hari, seseorang sering menunjuk ke atas atau langit jika yang ia
maksudkan dalam pembicaraannya adalah Allah. Ucapan seperti: ‘Terserah kepada
yang di atas’ adalah salah satu bentuk pernyataan yang dapat dimaknai bahwa
Allah berada jauh dari makhlukNya, yakni di langit. Persangkaan seperti ini
bertentangan dengan keterangan tentang Allah seperti dijelaskanNya melalui
firman yang terang. Allah itu berada dimana saja manusia berada (al-Hadid (57)
: 4), Dia Maha Dekat (Saba’ (34) : 50), Dia lebih dekat dari pada urat leher
(Qaaf (50) : 16) dan sebagainya. Makna kata langit, seperti Allah berada di
langit untuk diartikan keagungan atau ketinggian dalam pengertian derajad,
bukan tempat.
10. Allah versus manusia
Apakah manusia itu
Tuhan? Tidak! Manusia hanyalah kehidupan, karena ia tidak kekal. Manusia hanya
mengaku hidup, padahal sesungguhnya ia dihidupkan oleh Dzat, Yang Hidup. Pada
suatu saat ia akan dimatikan (an-Najm (53) : 44). Karena keberadaan Yang Hidup
Kekal sangat dekat dengan manusia, maka manusia dapat beraktivitas seperti:
melihat, tidur, makan, mandi dan bekerja. Rangkaian aktivitas demikian disebut
kehidupan. Alasan lain yang membantah manusia bukan Allah adalah bahwa Allah,
Yang Hidup Kekal tidak dapat dicapai mata (al An’aam (6) : 103). Sedangkan
manusia berada dalam jangkauan penglihatan mata.
“Allah tidak dapat
dicapai penglihatan, sedangkan Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”,
(al-An‘aam (6) : 103).
“Dan tunduklah
semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa
mengurus (makhlukNya)….” (Taahaa (20) : 111).
“Dan bahwasanya
Dialah yang mematikan dan menghidupkan” (an-Najm (53) : 44).
Selain bersifat
kekal, Pemilik nama Allah atau Yang Hidup Kekal tersebut senantiasa mengurus
makhlukNya. Dengan demikian, manusia sebagai salah satu makhlukNya diurus dan
diatur oleh Yang Hidup Kekal. Siapakah yang melangkahkan kaki dan mengayunkan
tangannya ketika manusia diperjalankan? Siapakah yang mengedipkan mata?
Siapakah yang memperdengarkan bunyi? Siapakah yang mengatur segala urusan?
Jawabnya, Yang Hidup Kekal bernama Allah.
“….dan siapakah
yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah:
‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’ ” (Yuunus (10) : 31).
Dari ayat di atas
dapat pula dipahami bahwa Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup Kekal itu tidak
mengantuk dan tidak tidur. Tanda bahwa Dia terus menerus mengurus makhlukNya,
tidak tidur dan Maha Dekat terlihat pada naik turunnya nafas ketika seseorang
sedang tidur. Dalam ayat tersebut tertera keterangan batasan yang jelas antara
manusia dan Allah. Manusia itu tidur sedangkan Allah tidak tidur apalagi
mengantuk. Manusia bukan Tuhan termasuk Fir’aun, karena manusia dan juga
Fir’aun mengalami tidur dan mengantuk. Allah selalu dalam kesibukan namun tidak
pernah lelah.
11. Dzat adalah
Yang Hidup
Siapakah Yang
Hidup, Pengatur dan selalu mengurus makhlukNya? Jawabnya adalah ‘Dzat’. Dialah
yang mengatur segala urusan. Dialah Tuhan manusia. Tidak ada lagi Tuhan selain
Dzat Yang Hidup Kekal itu. Selain itu adalah kesesatan. “Maka (Dzat yang
demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah
kebenaran melainkan kesesatan. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari
kebenaran)?” (Yuunus (10) : 32).
Itulah Dia Tuhan
manusia. Kata “Dzat” seperti ditemukan dalam terjemahan di atas adalah kata
tambahan yang dipakai sebagai tempat melekatkan sebutan Yang Hidup Kekal dan
Maha Pengatur. Dengan kata lain, Dzat adalah Yang Hidup. Dzat yang dimaksud
bukan berarti zat kimia seperti zat arang atau kapur. Maha Suci Tuhan Yang
Hidup Kekal dari semua persangkaan. Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup itu Gaib
dan Maha Suci. Keterangan Dzat dimaksudkan Surat Yuunus (10) : 32 tertera pada
ayat sebelumnya.
Katakanlah:
“Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan
siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka
katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’” (Yuunus (10) : 31).
12. Allah mengurus makhlukNya
Dari penjelasan di
atas, Allah adalah Dzat Yang Hidup Kekal yang selalu mengurus makhlukNya,
seperti:
menjadikan manusia
mengantuk, (al-Anfaal (8) : 11)
menidurkan dan
membangunkan manusia, (al-An’aam (6) : 60)
menyembuhkan ketika
sakit, (asy-Syu’araa (26) : 80) 4. menjadikan manusia tertawa dan menangis, (an-Najm
(53) : 43)
melapangkan dan
menyempitkan rezeki, (az-Zumar (39) : 52)
memberi makan dan
minum, (asy-Syu’araa (26) : 79)
mematikan dan
menghidupkan, (an-Najm (53) : 44)
menjadikan manusia
dari segumpal darah (al-‘Alaq (96) : 2)
mengajar manusia
berbicara, (ar-Rahmaan (55) : 4), dan seterusnya.
13. Mengenal Allah melalui perumpamaan
Sangat penting
disadari bahwa perumpamaan apapun untuk mengenal Allah adalah upaya mendekatkan
kepada pemahaman, bukan mengumpamakan Allah. Dia, Yang Hidup tidak dapat diumpamakan.
Sebab, Pemilik nama Allah tidak ada duanya, keberadaan-Nya Tunggal. Sebagai
ilustrasi, penjelasan dari pengenalan Allah dapat diumpamakan seperti
penjemputan seorang tamu baru mendarat di bandara. Tanpa ciri yang cukup dari
tamu yang dijemput, dipastikan sulit menemukan tamu itu. Tetapi jika salah satu
ciri dari tamu diketahui seorang pria, kesulitan akan berkurang. Si penjemput
tidak perlu menanyai semua penumpang wanita. Kesulitan akan lebih berkurang
jika usia tamu diketahui di atas 70 tahun. Sehingga, semua tamu pria di bawah
usia itu tidak perlu ditanyai. Semakin lengkap ciri yang dikenal, semakin mudah
menemukan. Maka sebelum menemui Tuhan, semua ciri tentang Tuhan mesti dikenal,
sehingga pada saat pertemuan denganNya seperti yang telah dijanjikan
(al-Ankabuut (29) : 5), semua keraguan dapat dihindari.
14. Keberadaan Allah
Dimanakah
keberadaan Yang Hidup? Dzat itu ‘akrab’ dengan makhlukNya (Qaaf (50) : 16).
Ayat berikut adalah keterangan akrabnya Dzat Allah pada hambaNya.
“Dan apabila hambaKu
bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat….”
(al-Baqarah (2) : 186).
Sedekat apakah Dzat
Yang Hidup itu? Dzat Yang Hidup menurut keterangan di dalam al Quran lebih
dekat dari pada urat leher.
“Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya,
dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (Qaaf (50) : 16).
“…. Sesungguhnya
Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat” (Surat Saba’ (34) : 50)
“….dan Dia beserta
kamu di mana saja kamu berada… .” (Al-Hadid (57) : 4).
Kata dekat apalagi
Maha Dekat dimaksudkan sebagai dekat yang tidak berjarak. Hal ini dapat
diibaratkan seperti gula dan manisnya yang tidak dapat dipisahkan.
“Dan di bumi itu
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga)
pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (az-Zaariyaat (51)
: 20 dan 21).
Lebih lanjut perlu
dibedakan antara Dzat Yang Hidup dan makhlukNya. Dzat tersebut adalah Yang
Hidup Kekal, Yang Tidak Mati (al-Furqaan (25) : 58). Tetapi tidak demikian
dengan hamba atau makhlukNya. Pemahaman di atas lebih jelas jika
dihubungkan dengan Surat Al-Hadid (57) : 3.
15. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir
“Dialah Yang Awal
dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu” (Al-Hadid (57) : 3). Siapa Yang Awal, Akhir, Zhahir dan Batin. Apakah
yang Yang Awal itu? Yang Awal adalah bahwa Dzat Yang Hidup telah ada sebelum
jasad manusia diadakan. Tidak ada segala sesuatu yang mendahuluiNya.
Apakah Yang Akhir
itu? Yang Akhir adalah bahwa Dzat Yang Hidup itu akan tetap ada walaupun jasad
manusia telah lenyap. Jasad manusia yang dijadikan oleh Dzat Yang Hidup dari
sari pati tanah akan kembali menjadi tanah. Yang Awal dan Akhir adalah kekekalan
dari Dzat Yang Hidup. Dalam hal ini, Yang Awal adalah Yang Akhir, yakni Dzat
Hidup Kekal bernama Allah. Dengan kata lain, Yang Awal adalah persis sama
dengan Yang Akhir. Allah tidak dibatasi oleh demensi ruang dan waktu. Dia
meliputi segala sesuatu.
“Semua yang ada di
bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran
dan kemuliaan” (Ar-Rahmaan (55) : 26 dan 27).
“Apa yang ada di
sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal....” (An-Nahl
(16) : 96).
16. Yang Zhahir dan Yang Batin
Apakah Yang Zhahir?
Yang Zhahir adalah Af’al, yakni tindakan, perbuatan atau kekuasaan dari Dzat
Yang Hidup yang dapat dipersepsi melalui panca indera. Dengan kata lain, Yang
Zhahir adalah perwujudan atau manifestasi dari keberadaan Dzat Yang Batin.
Keberadaan Yang Zhahir tanda adanya Yang Batin. Tidak ada Yang Zhahir jika
tidak ada Yang Batin. Kemana manusia menghadap, maka di situlah wajah Allah,
(Lihat al-Baqarah (2) : 115).
Apakah Yang Batin?
Yang Batin adalah Dzat Yang Hidup Kekal dan tidak terlihat. Manusia selamanya
tidak pernah melihat Dzat Allah Yang Hidup dengan mata zhahir (al-An‘aam (6) :
103). Yang terlihat mata zhahir adalah tanda-tanda kekuasaanNya (Az-Zaariyaat
(51) : 20 dan 21). Dzat Allah, Yang Hidup adalah rahasia bagi manusia. Manusia
cukup sebatas mengenal Af’al, Asma dan Sifat dari Dzat Yang Hidup Kekal serta
meyakini keberadaan Dzat itu dan kemudian mematuhiNya. Yang Batin dapat
diyakini keberadaanNya melalui Yang Zhahir, yaitu tanda adanya Dzat Yang Hidup pada
alam dan makhluk seperti difirmankanNya.
“Dan kepunyaan
Allah Timur dan Barat, maka kemana saja kamu menghadap disitu wajah Allah ….”
(Al-Baqarah (2) : 115).
“Wajah Allah” yang
dimaksudkan pada ayat, Al-Baqarah (2) : 115 adalah tanda dari keberadaan, kebesaran
atau kekuasaan sebagai manifestasi perbuatanNya. Itulah bukti dari keberadaan
Yang Batin. Namun yang zhahir, yakni yang terlihat melalui mata zhahir di
setiap ufuk bukanlah Dia yang sedang ditelusuri keberadaanNya. Wajah Allah pada
ayat di atas tidak sama dengan wajah manusia. Wajah itu, antara lain untuk
diartikan sebagai Af’al, seperti pohon melambai, burung beterbangan, hujan
turun dan ombak memecah di pantai. Semua itu menandakan keberadaan Dzat Yang
Maha Kuat dan Maha Menggerakkan. Itulah kehidupan.
Konsep di atas
mudah dipahami dengan memperhatikan air yang beriak dalam kolam yang menandakan
di dalam kolam tersebut ada ikan. Tetapi riak air bukanlah ikan, melainkan
hanya tanda. Sebab, ikan bukan air. Dzat Yang Hidup bernama Allah tidak menyerupai
siapa dan apa pun. Tiada yang setara dengan Dia.
“….Tidak sesuatupun
yang serupa dengan Dia….” (Asy-Syuuraa (42) : 11).
Keberadaan alam ini
menandakan adanya Dzat Yang Menjadikan dan Memelihara. Pohon yang terlihat
hidup adalah tanda bahwa pada pohon itu ada kehidupan yang hanya dapat
dihidupkan oleh Dzat Yang Maha Hidup. Demikian juga pada makhluk lain, seperti
nyamuk dapat terbang karena pada nyamuk terdapat kehidupan yang hanya dapat
ditimbulkan oleh Dzat Yang Hidup.
17. Asma, Af’al, Sifat dan Dzat Allah
Allah, Dzat Yang
Hidup Kekal memiliki Asma (Nama), Af’al dan Sifat. Sedangkan DzatNya adalah
Gaib, yakni Yang Batin. Yang dapat dikenali terlebih dahulu adalah Af’alNya,
seperti langit ditinggikan tanpa tiang dan matahari digantung tanpa tali. Itulah
perbuatan atau kekuasaanNya (Af’al-Nya). Dari Af’al ini dapat dikenali AsmaNya
seperti al-Muqtadir, Maha Kuasa (al-Qamar (54) : 42).
Disebabkan Asma dan
Sifat berhubungan, maka dari Asma Allah: ‘Maha Kuasa’ dapat pula dikenali
SifatNya, yakni juga Maha Kuasa. Dia kuasa meninggikan langit, menghamparkan
bumi dan menjadikan matahari bersinar.
Sifat Allah tidak
terpisah dari AsmaNya. Sebagai misal, ketika seseorang menyebut sebongkah batu
es, secara langsung dapat dihubungkan antara nama dan sifat. Batu es adalah
nama dari sebongkah benda keras dan dingin. Demikian pula apabila disebut api,
maka langsung akan tergambar di dalam pikiran benda kemerah-merahan yang
sifatnya panas membakar.
“Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al Quran itu
adalah benar. …” (Fussilat (41) : 53).
Mengenal dan
meyakini keberadaan Dzat Yang Hidup Kekal pada sekujur tubuh hendaklah sampai
dirasakan keberadaanNya, sampai dipersaksikan NurNya dan sampai diperdengarkan
KalamNya. Manusia sebaiknya tidak membahas Dzat Allah secara berlarut, sebab
manusia tidak akan mampu. Asma adalah Nama Allah; Sifat adalah Sifat Allah dan
Af’al adalah Af’al Allah. “Allah tidak dapat dicapai penglihatan, sedangkan Dia
meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”, (Al-An‘aam (6) : 103).
Perlu dipahami
sekali lagi, bahwa Dzat Allah itu Gaib. Dan disebabkan oleh kegaiban, maka Dzat
tersebut tidak dapat dicapai mata zhahir. Lebih lanjut dapat pula dijelaskan,
tidak terlihatnya Dzat itu dikarenakan Dzat itulah yang mengaruniai penglihatan
saat manusia melihat.
“Sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak
mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”, (Al-Insaan (76)
: 2).
Dzat Allah tidak
untuk dipahami bertengger secara fisik pada hati di dalam dada, namun
keberadaanNya dapat diyakini melalui hati yang di dalam dada. Seperti kegaiban
Dzat Allah, maka demikian pula halnya dengan hati atau kalbu yang disebut di
atas, ia bukan hanya untuk diartikan secara sempit, yakni sekadar sepotong
daging yang di rongga dada. Hati memiliki arti sangat luas, bagaikan sebuah
cermin yang dapat memantulkan dunia lain.
Untuk memahami
betapa luas pandangan mata hati, terlebih dahulu perhatikan betapa luasnya
pandangan yang terlihat melalui mata zhahir. Bola mata bergaris tengah lebih
kurang dua senti meter ternyata dengan izinNya dapat melihat sebuah meja
walaupun ukuran meja itu jauh melebihi besar bola mata. Apabila pandangan mata
diarahkan jauh ke depan, maka bola mata yang kecil tadi bahkan dapat memuat
alam yang luasnya sekian kilo meter. Dapat dibayangkan jika pandangan diarahkan
ke langit, pandangan itu dapat mencapai jarak puluhan kilo meter.
Sebaliknya
kemampuan mata batin atau mata hati yang dikaruniai untuk melihat, ternyata
jauh melebihi kemampuan mata zhahir. Penglihatan mata hati tidak terhalang
kebendaan, seperti dinding beton, pagar dan lain-lain.
Selanjutnya melalui
FirmanNya, Dzat Yang Hidup memperkenalkan keberadaanNya melalui ayat: “Dan
Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa; tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah (2) : 163).
18. Ke-Esaan Allah
Dzat Yang Hidup itu
Esa, tiada duanya. Salah satu cara memahami ke-Esa-an-Nya adalah dengan
memperhatikan warna langit yang tetap biru walaupun langit tersebut dilihat
oleh satu, dua, tiga, seratus, atau seribu orang lebih, bahkan untuk jumlah
yang tak terhingga. Warna biru adalah perumpamaan atau cara untuk memahami
ke-Esa-an Dzat Yang Hidup.
Contoh lain dari
memahami konsep keesaan adalah dengan memperhatikan refleksi diri di dalam
beberapa buah kaca. Walaupun diri itu hanya satu, namun keesaan diri tersebut
dapat terefleksi dalam beberapa bentuk dalam bayangan kaca. Dari uraian ini,
maka timbul pertanyaan yang tidak kalah pentingnya. Jika Dzat itu Esa,
bagaimanakah pemahaman akrabnya Dzat pada makhlukNya, yakni pada manusia? Dzat
Yang Hidup itu Esa, yaitu keesaan dari Dzat Yang Hidup. Yang banyak adalah
tempat Dia menampakkan keberadaanNya. Keterangan tentang keesaan Dzat dapat
digambarkan dengan istilah “Melihat Yang Satu dalam yang banyak”. Dalam hal
ini, yang perlu dilihat adalah hakikat dari yang banyak itu sendiri. Sebagai
contoh, hakikat dari ombak, gelombang, riak dan buih sebenarnya adalah air.
Jadi Dzat sesungguhnya adalah hakikat, yang sebenarnya atau Yang Haq.
Memahami konsep
ketunggalan dapat pula digambarkan dengan memberikan sebutan 01 (kosong satu)
terhadap angka nol di depan angka satu, dan sebutan 10 (satu kosong atau
sepuluh) terhadap angka satu di depan angka nol. Tetapi ketunggalan Dzat tidak
memiliki sebutan, yakni seperti angka satu di dalam angka nol. Ia bukan 01 dan
bukan pula 10. Angka nol (0) lambang jasad, sedangkan angka satu (1) adalah ketunggalan
Dzat Yang Hidup. Jika Dzat Yang Tunggal, Hidup Kekal dan lebih dekat dari urat
leher itu berpisah dengan wadah (jasad), maka jasad itu tidak lebih adalah
setumpuk daging yang tidak berdaya.
Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
BalasHapusKelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com