Senin, 20 Februari 2017

PROGRAM MENATA JIWA (PMJ)

Menata jiwa sebagai suatu KONSEP sebenarnya bukan hal baru, melainkan sudah diterapkan oleh banyak orang dari masa ke masa, dari suatu generasi ke generasi berikutnya di berbagai penjuru dunia. Sebab, dapat dipastikan setiap orang dari zaman dulu sampai sekarang selalu menginginkan ketenangan atau kedamaian dalam kehidupannya. Konsep ini bahkan terus berlangsung untuk masa yang akan datang. Namun sebagai suatu PROGRAM, menata jiwa kalaupun ada masih jarang diterapkan, khususnya untuk menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Berbeda dengan KONSEP, menata jiwa sebagai suatu PROGRAM lebih menitikberatkan kepada SISTEM yang ditata secara profesional, sehingga hasil capaian penerapannya dalam kehidupan sehari-hari lebih dirasakan. Dalam tulisan ini, penulis menyusun PENATAAN JIWA menjadi sebuah program yang disebut PROGRAM MENATA JIWA (PMJ).

Tujuan dari PROGRAM MENATA JIWA adalah untuk mencapai KETENANGAN JIWA melalui perbaikan watak atau karakter sehingga terbentuk akhlak yang baik. Sedangkan perbaikan watak yang baik mesti diawali dengan cara berpikir yang lebih baik pula, yaitu dimulai dengan membersihkan cara berpikir lama yang tidak baik dan diganti dengan cara berpikir benar dengan berdasarkan ayat-ayat Allah di dalam al Quran. Karena ayat-ayat Allah adalah pedoman bagi seluruh manusia dan di sisi lain manusia adalah makhluk yang berpikir, maka berpikir benar adalah berpikir berlandaskan al Quran. Jika al Quran digunakan sebagai pedoman berpikir, dapat dipastikan ucapan dan tindakan orang yang mempedomaninya menjadi lebih baik. Sebab, tidak ada pedoman yang lebih baik dari ayat-ayat Allah, khususnya bagi yang meyakininya.

Diyakini bahwa dengan menggunakan kekuatan bahasa dari Firman Allah sebagai acuan utama, maka perbaikan watak dapat dilakukan karena tidak ada kata-kata atau kalimat yang lebih benar dan lebih kuat daripada Firman Allah S.w.t. Dengan cara memahami ayat-ayat al Quran dan secara bertahap dapat pula mengingat ayat-ayat tersebut diharapkan nantinya banyak orang yang berpikir berdasarkan al Quran. Sekaligus dengan cara ini diharapkan juga pemahaman tentang kehidupan dari sumber yang keliru tergantikan dengan pemahaman yang bersumber dari ayat-ayat al Quran. Diyakini bahwa tidak sedikit orang yang terlanjur memperoleh nilai-nilai kehidupan secara sembarangan yang mengakibatkan mereka menjadi terombang-ambing dalam kehidupan ini.

Dasar pemahaman dalam PROGRAM MENATA JIWA adalah bahwa pikiran mesti dikelola supaya dapat diberdayakan dan pada saat yang sama tidak membahayakan. Pikiran sebagai alat berpikir dapat diumpamakan seperti sebilah pisau dapur yang jika tidak digunakan secara hati-hati untuk mengiris bawang atau sayur boleh jadi akan berfungsi sebagai alat mengiris jari. Ungkapan ‘the power of mind’ atau kekuatan pikiran mengisyaratkan bahwa pikiran memiliki kekuatan. Kekuatan pikiran ini jika tidak dikendalikan maka pikiranlah yang justru mengambil alih kendali. Dengan perumpamaan lain, jika diibaratkan dengan pengendara mobil, perbedaan antara sang supir mengendalikan mobil atau sebaliknya si supir dikendalikan oleh mobil mengakibatkan hasil yang jauh berbeda. Akibat yang pertama diyakini berakhir dengan keselamatan dan tentunya berakibat berbeda dengan kasus yang kedua dimana sang supir dikuasai oleh kendaraannya. Demikian sekadar perumpamaan.

Sebenarnya memang ironis jika seseorang dikuasai oleh pikirannya sendiri, padahal pikiran itu adalah pikirannya. Artinya, pikiran tersebut adalah kepunyaannya yang dapat ia gunakan untuk kepentingannya menjalani kehidupan supaya ia tetap dalam keselamatan. Untuk menyadari hal ini, mau tidak mau seseorang mesti keluar dari kungkungan pikiran yang memberatinya. Agaknya tidaklah berlebihan mengumpamakan seseorang yang dikuasai oleh pikiran itu ibarat orang yang terpenjara di balik teralis besi. Bahkan lebih parah lagi karena orang yang terpenjara dalam kerangkeng besi masih ada yang dapat meloloskan diri, namun tidak demikin dengan yang terpenjara oleh pikiran yang boleh jadi hanya berakhir dengan kematian.

Adalah merupakan ungkapan umum seseorang mengatakan sesuatu dengan menyampaikan pembicaraannya berdasarkan ‘menurut pikiranku’. Sedikit yang menyadari bahwa ungkapan ‘menurut pikiranku’ tersebut ADA KALANYA berarti ‘penguasaian’. Maknanya, pikiran sudah mendikte si pemilik pikiran. Padahal semestinya si pemilik pikiran benar-benar menyadari bahwa dialah yang mengendalikan pikirannya itu. Kenyataannya ternyata tidak sedikit orang yang dikuasai oleh pikiran yang menyebabkan ia terperangkap dalam berbagai masalah yang sebenarnya dapat diatasi jika pengendalian pikiran dilakukan lebih dini. Dengan adanya PROGRAM MENATA JIWA hal yang dikhawatirkan ini dapat dihindari. Sehingga pikiran-pikiran yang memang bersifat liar dapat diatur.


Di dalam PROGRAM MENATA JIWA terdapat beberapa tahapan proses yang mesti dilalui. Proses tersebut adalah PENGENALAN, PEMBERSIHAN dan PENATAAN JIWA. Pengenalan jiwa adalah tahapan mengenali diri sendiri karena jiwa adalah bagian dari diri. Tanpa pengenalan jiwa, proses membersihkannya belum dapat dilaksanakan. Demikian pula, proses penataan jiwa belum dapat dilakukan sebelum pembersihan jiwa. Secara singkat, jiwa adalah bagian dari diri yang terdiri dari pikiran dan perasaan. Kehadiran perasaan timbul karena kehadiran pikiran. Jika pikiran tenang, perasaanpun tenang. Sebaliknya, jika pikiran kacau, perasaanpun galau. Dengan mengenal jiwa diketahui keadaan jiwa, yakni apakah jiwa itu kotor atau tidak. Jika keadaan jiwa kotor, jiwa tersebut mesti dibersihkan terlebih dahulu. Selanjutnya jika sudah bersih jiwa tersebut mesti ditata ulang. Proses ini dapat diumpamakan seperti komputer yang tercemar virus yang mesti dibersihkan dan diformat ulang.

Selasa, 07 Februari 2017

CARA MUDAH MENGENAL ALLAH

A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim Bismillaahir rahmaanir rahiim


Pendahuluan
Beragama adalah bertuhan. Sebab, tidak ada agama tanpa Tuhan. Oleh karena itu, pengenalan Tuhan dalam beragama mesti diutamakan. Artinya, semua kegiatan keagamaan menjadi sia-sia tanpa pengenalan Tuhan dengan sebenar-benarnya. Bagaimana bershahadat jika Tuhan yang diyakini belum jelas keber-ADA-anNya, sedangkan shahadat ditempatkan di posisi pertama dalam Rukun Islam.

Tuhan bernama “Allah”
Manusia mengenal Nama Allah karena Dia sendiri memperkenalkan NamaNya. Dalam Surat Muhammad (47) ayat 19 dapat dibaca, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah ….”. Jadi, Tuhan bernama “Allah”. Banyak keterangan di dalam al Quran yang menyatakan bahwa Tuhan bernama “Allah”. Hal ini tidak diragukan. Namun, perlu dipahami bahwa suatu Nama adalah Nama, yakni sebutan. Nama bukan Tuhan, tetapi adalah nama dari Tuhan. Jika nama itu ditulis dengan menggunakan tinta, maka ia adalah tinta. Demikian pula jika ditulis dengan menggunakan kapur, ia adalah kapur. Tegasnya, tinta dan kapur bukan Allah, Tuhan manusia.

3. Nama-nama lain dari Allah
Selain ‘Allah’, Tuhan juga memperkenalkan Nama-namaNya yang lain. Di dalam al Quran dan hadis dapat ditemukan 99 nama lain dari Allah, diantaranya: ar-Rahman, Yang Maha Pemurah (al Faatihah (1) : 3); ar-Rahim, Yang Maha Pengasih (al Faatihah (1) : 3) al-Malik, Yang Maha Berkuasa (al Mu’minuun (23) : 116); al-Quddus, Yang Maha Suci (al Jumu’ah (62) : 1); as-Salam, Yang Maha Sejahtera (al Hasyr (59) : 23); al-Mu’min, Yang Maha Terpercaya (al Hasyr (59) : 23); al-Muhaimin, Yang Maha Memelihara (Al Hasyr (59) : 23); al-‘Aziz, Yang Maha Perkasa (Ali ‘Imran (3) : 62); al-Jabbar, Yang Maha Berkehendak, (al Hasyr (59) : 23); dan seterusnya.

4. Keinginan mengenal Allah
Supaya dapat mengenal Allah secara lebih baik, yaitu bukan sekadar mengenal Nama saja, umat beragama mesti mengawali kegiatan beragamanya dengan kesadaran bahwa pengetahuannya tentang Allah masih sangat terbatas. Kesadaran seperti ini dapat memicu keinginan untuk meningkatkan pengenalan Allah secara lebih baik lagi. Belum cukup mengenal Allah hanya dengan meyakini bahwa Dia adalah Penguasa langit dan bumi sambil menunjuk ke langit. Orang yang merasa puas dan merasa telah mengenal Allah cenderung salah mengenaliNya. Rasa puas dapat menghalangi upaya untuk lebih mengenalNya. Padahal, boleh jadi Allah yang dikenal selama ini masih sebatas Tuhan bayang-bayang, yakni Tuhan hasil ciptaan pikiran. Idealnya, pengenalan terhadap Allah harus diupayakan semaksimal mungkin.

Selanjutnya, perlu disadari bahwa pengenalan terhadap Allah hanya dapat sampai pada tahap yang dikehendakiNya. Manusia tidak mampu menguak rahasia ketuhanan lebih dari yang telah ditentukanNya, walaupun ia menggunakan kekuatan akal yang dikaruniakan kepadanya. Allah adalah Dzat Yang Maha Halus, (al-An‘aam (6) : 103), dan Yang Batin atau Maha Gaib, (al-Hadid (57) : 3). Sedangkan manusia itu makhluk yang lemah dan tak berdaya.

5. Mengenal versus mengetahui
Dalam hal pengenalan Allah, perlu dibedakan antara makna kata ‘mengenal’ dan ‘mengetahui’. Mengenal dimaksudkan sebatas kemampuan membedakan. Sedangkan mengetahui tidak saja pada kemampuan membedakan, tetapi juga memiliki pengetahuan tentang hakikat Allah. Oleh sebab itu, tujuan yang hendak dicapai dalam bahasan ini hanyalah sebatas mengenal Allah. Dengan kemampuan membedakan antara Allah dan yang bukan Allah diharapkan pemahaman tentang keberadaanNya menjadi semakin terang. Manusia tidak mampu mengetahui hakikat Dzat Allah. Dzat itu adalah Dzat Mutlak di luar jangkauan penglihatan zhahir dan pengetahuan. Manusia hanya dapat mengenali Nama (Asma), Sifat dan Perbuatan (Af’al)¬Nya. Itupun atas kehendakNya.

6. Peran akal dalam mengenal Allah
Dalil pengenalan Allah telah disampaikan melalui para Nabi dan Rasul yang dapat ditelusuri kebenarannya melalui ayat-ayat di dalam al Quran. Dalil itu bahkan telah pula dijabarkan dengan jelas. Tinggal manusia memperhatikannya dengan sungguh-sungguh dan dengan menggunakan akal (Saad (38) : 29). Artinya, peran akal dalam mengenal Allah adalah untuk memahami keterangan tentang Dia. Sebagai contoh, di dalam Surat al-Baqarah (2) : 186 diterangkan bahwa Tuhan bernama Allah itu dekat. Pertanyaan yang mesti dijawab dengan menggunakan akal adalah: ‘Sedekat apakah keberadaan antara Dia dengan makhlukNya?’ Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat diperhatikan melalui Surat Qaaf (50) : 16, bahwa keberadaan Allah lebih dekat dari pada urat leher.

Dari pengertian ini, perlu dipahami bahwa makna mendekatkan diri kepada Allah seperti yang sering disebutkan dalam al Quran (al Maa’idah (5) : 35), bukan dalam makna jarak. Manusia tidak mungkin lebih dekat lagi dengan Allah dalam makna demikian. Allah itu Gaib. Dia adalah Dzat Yang Maha Suci, maka makna mendekatkan diri dalam konteks ini adalah mensucikan diri dari perbuatan syirik dan tercela. Allah itu Maha Sabar, maka makna mendekatkan diri adalah menaati ketentuanNya dengan sabar. Dia Maha Penyayang, maka arti mendekatkan diri adalah menyebarkan kasih sayang kepada sesama makhlukNya, dan seterusnya. Singkatnya, berbuat baik atau beramal saleh adalah salah satu syarat untuk menemui Allah, (al-Kahfi (18) : 110).

Dalam Surat al-Hajj (22) : 16 tertera: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan al Quran beberapa ayat yang terang, dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”. Adapun orang yang dikehendaki untuk memperoleh petunjuk dimaksudkan dalam ayat ini pada dasarnya adalah semua manusia tanpa kecuali. Maha Suci Allah dari membedakan hambaNya. Dia hanya menilai ketakwaan si hamba, (al-Hujaraat (49) : 13). Al Quran telah diturunkan untuk semua manusia, yakni peringatan bagi semesta alam, (at-Takwir (81) : 27). Jika kenyataannya bahwa manusia tidak mengenal Tuhan, hal itu disebabkan oleh kelalaian dari dirinya sendiri dalam memahami Firman Allah. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (Saba’ (34) : 50).

Lalai atau tidaknya seseorang disebabkan oleh kehidupannya yang belum seimbang. Sedangkan keseimbangan yang dimaksud adalah antara kebutuhan jasad (perut: makan), mental (otak: pengetahuan) dan emosional (hati: sabar) serta spiritual (ruh: mengenal Allah). Orang yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan jasadnya tertinggal dalam kebutuhan lain: mental, emosional dan spiritual. Sedangkan yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan mentalnya tertinggal dalam kebutuhan lainnya: jasad, emosional, spiritual dan seterusnya. Pengabaian salah satu dari kebutuhan itulah yang dimaksud dengan ketidakseimbangan. Tidak mengenal Tuhan terjadi akibat dari pengabaian kebutuhan spiritual.

Al Quran telah diturunkan sebagai pedoman bagi manusia dan petunjuk bagi yang beriman, (al-Jaasyiah (45) : 20). Selanjutnya manusia yang beriman diharapkan menjadikan al Quran sebagai pedoman. Namun disebabkan kelalaian manusia, al Quran justru difungsikan sebagai koleksi, syair yang disenandungkan dan penangkal santet, bahkan tidak jarang al Quran dibacakan kepada mayat. “Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang yakin” (al-Jassiyah (45) : 20).

7. Kelalaian mengenal Allah
Kelalaian memahami al Quran dalam rangka mengenal Allah bermula dari kelalaian perorangan atau individu. Kelalaian demikian adalah kelalaian dari seseorang yang terjadi karena ia tidak berusaha mengenal Allah secara bersungguh-sungguh. Selain kelalaian perorangan adalagi kelalaian kolektif, atau kelalaian bersama pendakwah dan umat yang didakwahi. Kelalaian tersebut tampak dari materi dakwah yang secara umum hanya berkisar soal pahala-dosa yang diramu dengan politik praktis untuk mendapatkan kekuasaan. Akibatnya, pengenalan tentang Allah yang merupakan titik awal beragama jarang disentuh, apalagi untuk sampai pada tahap merasakan keberadaan Allah. Oleh sebab itu, untuk mengenal Allah manusia mesti kembali kepada al Quran, karena “Siapa berpaling dari al Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat” (Taahaa (20) : 100).

8. Peran usaha dan doa menuju Allah
Al Quran mesti dikembalikan kepada fungsinya sebagai pedoman untuk dipahami, khususnya untuk mengenal Allah. Sudah semestinya secara ikhlas setiap orang mengakui dari lubuk hatinya yang paling dalam, bahwa ia memang tidak akan mampu mengenal Allah, kecuali atas petunjukNya. Untuk itu, selain dengan berusaha memahami ayat-ayat al Quran, yakni menggali makna terkandung di dalamnya secara terus-menerus, setiap orang mesti juga memohon pertolongan Allah dengan bersungguh-sungguh supaya dapat mengenaliNya secara benar. Di sinilah letak perpaduan antara usaha dan doa. Sebagai khalifah di muka bumi manusia mesti bekerja, yakni dimulai dengan memahami ayat-ayat al Quran yang tertulis dan tersirat. Sedangkan sebagai hamba yang lemah ia mesti banyak berdoa. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (al-‘Ankabuut (29) : 69).

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (al Maa’idah (5) : 35).

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Ku perkenankan bagimu, ….” (al-Mu’min (40) : 60).

“... Dan barangsiapa beriman kepada Allah, Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu” (at-Taghaabun (64) : 11).

“Dan orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (Muhammad (47) : 17). “Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti benar” (az-Zaariyaat (51) : 5).

Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa, jika manusia beriman dan berupaya serta berdoa sungguh-sungguh, Allah menunjukinya cara mengenaliNya. Janji Allah pasti dipenuhiNya. Tanpa memahami Firman Allah secara benar, yakni pemahaman dengan mengharapkan petunjukNya, manusia tidak dapat mengenal Allah. Dengan kata lain, mengenalNya hanya berhasil atas petunjukNya. Sedangkan Tuhan tidak menunjuki seseorang jika ia tidak beriman kepada ayat-ayatNya (an-Nahl (16) : 104). Orang yang demikian adalah orang yang diazab (al-Ankabuut (29) : 23).

9. Mengenal Allah melalui ayat Kursi
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menunjuk ke atas atau langit jika yang ia maksudkan dalam pembicaraannya adalah Allah. Ucapan seperti: ‘Terserah kepada yang di atas’ adalah salah satu bentuk pernyataan yang dapat dimaknai bahwa Allah berada jauh dari makhlukNya, yakni di langit. Persangkaan seperti ini bertentangan dengan keterangan tentang Allah seperti dijelaskanNya melalui firman yang terang. Allah itu berada dimana saja manusia berada (al-Hadid (57) : 4), Dia Maha Dekat (Saba’ (34) : 50), Dia lebih dekat dari pada urat leher (Qaaf (50) : 16) dan sebagainya. Makna kata langit, seperti Allah berada di langit untuk diartikan keagungan atau ketinggian dalam pengertian derajad, bukan tempat.

10. Allah versus manusia
Apakah manusia itu Tuhan? Tidak! Manusia hanyalah kehidupan, karena ia tidak kekal. Manusia hanya mengaku hidup, padahal sesungguhnya ia dihidupkan oleh Dzat, Yang Hidup. Pada suatu saat ia akan dimatikan (an-Najm (53) : 44). Karena keberadaan Yang Hidup Kekal sangat dekat dengan manusia, maka manusia dapat beraktivitas seperti: melihat, tidur, makan, mandi dan bekerja. Rangkaian aktivitas demikian disebut kehidupan. Alasan lain yang membantah manusia bukan Allah adalah bahwa Allah, Yang Hidup Kekal tidak dapat dicapai mata (al An’aam (6) : 103). Sedangkan manusia berada dalam jangkauan penglihatan mata.
“Allah tidak dapat dicapai penglihatan, sedangkan Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”, (al-An‘aam (6) : 103).

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya)….” (Taahaa (20) : 111).

“Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan” (an-Najm (53) : 44).

Selain bersifat kekal, Pemilik nama Allah atau Yang Hidup Kekal tersebut senantiasa mengurus makhlukNya. Dengan demikian, manusia sebagai salah satu makhlukNya diurus dan diatur oleh Yang Hidup Kekal. Siapakah yang melangkahkan kaki dan mengayunkan tangannya ketika manusia diperjalankan? Siapakah yang mengedipkan mata? Siapakah yang memperdengarkan bunyi? Siapakah yang mengatur segala urusan? Jawabnya, Yang Hidup Kekal bernama Allah.
“….dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’ ” (Yuunus (10) : 31).

Dari ayat di atas dapat pula dipahami bahwa Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup Kekal itu tidak mengantuk dan tidak tidur. Tanda bahwa Dia terus menerus mengurus makhlukNya, tidak tidur dan Maha Dekat terlihat pada naik turunnya nafas ketika seseorang sedang tidur. Dalam ayat tersebut tertera keterangan batasan yang jelas antara manusia dan Allah. Manusia itu tidur sedangkan Allah tidak tidur apalagi mengantuk. Manusia bukan Tuhan termasuk Fir’aun, karena manusia dan juga Fir’aun mengalami tidur dan mengantuk. Allah selalu dalam kesibukan namun tidak pernah lelah.

11. Dzat adalah Yang Hidup
Siapakah Yang Hidup, Pengatur dan selalu mengurus makhlukNya? Jawabnya adalah ‘Dzat’. Dialah yang mengatur segala urusan. Dialah Tuhan manusia. Tidak ada lagi Tuhan selain Dzat Yang Hidup Kekal itu. Selain itu adalah kesesatan. “Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yuunus (10) : 32).

Itulah Dia Tuhan manusia. Kata “Dzat” seperti ditemukan dalam terjemahan di atas adalah kata tambahan yang dipakai sebagai tempat melekatkan sebutan Yang Hidup Kekal dan Maha Pengatur. Dengan kata lain, Dzat adalah Yang Hidup. Dzat yang dimaksud bukan berarti zat kimia seperti zat arang atau kapur. Maha Suci Tuhan Yang Hidup Kekal dari semua persangkaan. Pemilik Nama Allah atau Yang Hidup itu Gaib dan Maha Suci. Keterangan Dzat dimaksudkan Surat Yuunus (10) : 32 tertera pada ayat sebelumnya.

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’” (Yuunus (10) : 31).

12. Allah mengurus makhlukNya
Dari penjelasan di atas, Allah adalah Dzat Yang Hidup Kekal yang selalu mengurus makhlukNya, seperti:
menjadikan manusia mengantuk, (al-Anfaal (8) : 11)
menidurkan dan membangunkan manusia, (al-An’aam (6) : 60)
menyembuhkan ketika sakit, (asy-Syu’araa (26) : 80) 4. menjadikan manusia tertawa dan menangis, (an-Najm (53) : 43)
melapangkan dan menyempitkan rezeki, (az-Zumar (39) : 52)
memberi makan dan minum, (asy-Syu’araa (26) : 79)
mematikan dan menghidupkan, (an-Najm (53) : 44)
menjadikan manusia dari segumpal darah (al-‘Alaq (96) : 2)
mengajar manusia berbicara, (ar-Rahmaan (55) : 4), dan seterusnya.

13. Mengenal Allah melalui perumpamaan
Sangat penting disadari bahwa perumpamaan apapun untuk mengenal Allah adalah upaya mendekatkan kepada pemahaman, bukan mengumpamakan Allah. Dia, Yang Hidup tidak dapat diumpamakan. Sebab, Pemilik nama Allah tidak ada duanya, keberadaan-Nya Tunggal. Sebagai ilustrasi, penjelasan dari pengenalan Allah dapat diumpamakan seperti penjemputan seorang tamu baru mendarat di bandara. Tanpa ciri yang cukup dari tamu yang dijemput, dipastikan sulit menemukan tamu itu. Tetapi jika salah satu ciri dari tamu diketahui seorang pria, kesulitan akan berkurang. Si penjemput tidak perlu menanyai semua penumpang wanita. Kesulitan akan lebih berkurang jika usia tamu diketahui di atas 70 tahun. Sehingga, semua tamu pria di bawah usia itu tidak perlu ditanyai. Semakin lengkap ciri yang dikenal, semakin mudah menemukan. Maka sebelum menemui Tuhan, semua ciri tentang Tuhan mesti dikenal, sehingga pada saat pertemuan denganNya seperti yang telah dijanjikan (al-Ankabuut (29) : 5), semua keraguan dapat dihindari.

14. Keberadaan Allah
Dimanakah keberadaan Yang Hidup? Dzat itu ‘akrab’ dengan makhlukNya (Qaaf (50) : 16). Ayat berikut adalah keterangan akrabnya Dzat Allah pada hambaNya.

“Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat….” (al-Baqarah (2) : 186).

Sedekat apakah Dzat Yang Hidup itu? Dzat Yang Hidup menurut keterangan di dalam al Quran lebih dekat dari pada urat leher.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (Qaaf (50) : 16).

“…. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat” (Surat Saba’ (34) : 50)

“….dan Dia beserta kamu di mana saja kamu berada… .” (Al-Hadid (57) : 4).

Kata dekat apalagi Maha Dekat dimaksudkan sebagai dekat yang tidak berjarak. Hal ini dapat diibaratkan seperti gula dan manisnya yang tidak dapat dipisahkan.
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (az-Zaariyaat (51) : 20 dan 21).

Lebih lanjut perlu dibedakan antara Dzat Yang Hidup dan makhlukNya. Dzat tersebut adalah Yang Hidup Kekal, Yang Tidak Mati (al-Furqaan (25) : 58). Tetapi tidak demikian dengan hamba atau makhlukNya. Pemahaman di atas lebih jelas jika dihubungkan dengan Surat Al-Hadid (57) : 3.

15. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Hadid (57) : 3). Siapa Yang Awal, Akhir, Zhahir dan Batin. Apakah yang Yang Awal itu? Yang Awal adalah bahwa Dzat Yang Hidup telah ada sebelum jasad manusia diadakan. Tidak ada segala sesuatu yang mendahuluiNya.

Apakah Yang Akhir itu? Yang Akhir adalah bahwa Dzat Yang Hidup itu akan tetap ada walaupun jasad manusia telah lenyap. Jasad manusia yang dijadikan oleh Dzat Yang Hidup dari sari pati tanah akan kembali menjadi tanah. Yang Awal dan Akhir adalah kekekalan dari Dzat Yang Hidup. Dalam hal ini, Yang Awal adalah Yang Akhir, yakni Dzat Hidup Kekal bernama Allah. Dengan kata lain, Yang Awal adalah persis sama dengan Yang Akhir. Allah tidak dibatasi oleh demensi ruang dan waktu. Dia meliputi segala sesuatu.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahmaan (55) : 26 dan 27).

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal....” (An-Nahl (16) : 96).

16. Yang Zhahir dan Yang Batin
Apakah Yang Zhahir? Yang Zhahir adalah Af’al, yakni tindakan, perbuatan atau kekuasaan dari Dzat Yang Hidup yang dapat dipersepsi melalui panca indera. Dengan kata lain, Yang Zhahir adalah perwujudan atau manifestasi dari keberadaan Dzat Yang Batin. Keberadaan Yang Zhahir tanda adanya Yang Batin. Tidak ada Yang Zhahir jika tidak ada Yang Batin. Kemana manusia menghadap, maka di situlah wajah Allah, (Lihat al-Baqarah (2) : 115).

Apakah Yang Batin? Yang Batin adalah Dzat Yang Hidup Kekal dan tidak terlihat. Manusia selamanya tidak pernah melihat Dzat Allah Yang Hidup dengan mata zhahir (al-An‘aam (6) : 103). Yang terlihat mata zhahir adalah tanda-tanda kekuasaanNya (Az-Zaariyaat (51) : 20 dan 21). Dzat Allah, Yang Hidup adalah rahasia bagi manusia. Manusia cukup sebatas mengenal Af’al, Asma dan Sifat dari Dzat Yang Hidup Kekal serta meyakini keberadaan Dzat itu dan kemudian mematuhiNya. Yang Batin dapat diyakini keberadaanNya melalui Yang Zhahir, yaitu tanda adanya Dzat Yang Hidup pada alam dan makhluk seperti difirmankanNya.

“Dan kepunyaan Allah Timur dan Barat, maka kemana saja kamu menghadap disitu wajah Allah ….” (Al-Baqarah (2) : 115).

“Wajah Allah” yang dimaksudkan pada ayat, Al-Baqarah (2) : 115 adalah tanda dari keberadaan, kebesaran atau kekuasaan sebagai manifestasi perbuatanNya. Itulah bukti dari keberadaan Yang Batin. Namun yang zhahir, yakni yang terlihat melalui mata zhahir di setiap ufuk bukanlah Dia yang sedang ditelusuri keberadaanNya. Wajah Allah pada ayat di atas tidak sama dengan wajah manusia. Wajah itu, antara lain untuk diartikan sebagai Af’al, seperti pohon melambai, burung beterbangan, hujan turun dan ombak memecah di pantai. Semua itu menandakan keberadaan Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Menggerakkan. Itulah kehidupan.

Konsep di atas mudah dipahami dengan memperhatikan air yang beriak dalam kolam yang menandakan di dalam kolam tersebut ada ikan. Tetapi riak air bukanlah ikan, melainkan hanya tanda. Sebab, ikan bukan air. Dzat Yang Hidup bernama Allah tidak menyerupai siapa dan apa pun. Tiada yang setara dengan Dia.

“….Tidak sesuatupun yang serupa dengan Dia….” (Asy-Syuuraa (42) : 11).

Keberadaan alam ini menandakan adanya Dzat Yang Menjadikan dan Memelihara. Pohon yang terlihat hidup adalah tanda bahwa pada pohon itu ada kehidupan yang hanya dapat dihidupkan oleh Dzat Yang Maha Hidup. Demikian juga pada makhluk lain, seperti nyamuk dapat terbang karena pada nyamuk terdapat kehidupan yang hanya dapat ditimbulkan oleh Dzat Yang Hidup.

17. Asma, Af’al, Sifat dan Dzat Allah
Allah, Dzat Yang Hidup Kekal memiliki Asma (Nama), Af’al dan Sifat. Sedangkan DzatNya adalah Gaib, yakni Yang Batin. Yang dapat dikenali terlebih dahulu adalah Af’alNya, seperti langit ditinggikan tanpa tiang dan matahari digantung tanpa tali. Itulah perbuatan atau kekuasaanNya (Af’al-Nya). Dari Af’al ini dapat dikenali AsmaNya seperti al-Muqtadir, Maha Kuasa (al-Qamar (54) : 42).

Disebabkan Asma dan Sifat berhubungan, maka dari Asma Allah: ‘Maha Kuasa’ dapat pula dikenali SifatNya, yakni juga Maha Kuasa. Dia kuasa meninggikan langit, menghamparkan bumi dan menjadikan matahari bersinar.

Sifat Allah tidak terpisah dari AsmaNya. Sebagai misal, ketika seseorang menyebut sebongkah batu es, secara langsung dapat dihubungkan antara nama dan sifat. Batu es adalah nama dari sebongkah benda keras dan dingin. Demikian pula apabila disebut api, maka langsung akan tergambar di dalam pikiran benda kemerah-merahan yang sifatnya panas membakar.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al Quran itu adalah benar. …” (Fussilat (41) : 53).

Mengenal dan meyakini keberadaan Dzat Yang Hidup Kekal pada sekujur tubuh hendaklah sampai dirasakan keberadaanNya, sampai dipersaksikan NurNya dan sampai diperdengarkan KalamNya. Manusia sebaiknya tidak membahas Dzat Allah secara berlarut, sebab manusia tidak akan mampu. Asma adalah Nama Allah; Sifat adalah Sifat Allah dan Af’al adalah Af’al Allah. “Allah tidak dapat dicapai penglihatan, sedangkan Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha halus”, (Al-An‘aam (6) : 103).

Perlu dipahami sekali lagi, bahwa Dzat Allah itu Gaib. Dan disebabkan oleh kegaiban, maka Dzat tersebut tidak dapat dicapai mata zhahir. Lebih lanjut dapat pula dijelaskan, tidak terlihatnya Dzat itu dikarenakan Dzat itulah yang mengaruniai penglihatan saat manusia melihat.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”, (Al-Insaan (76) : 2).

Dzat Allah tidak untuk dipahami bertengger secara fisik pada hati di dalam dada, namun keberadaanNya dapat diyakini melalui hati yang di dalam dada. Seperti kegaiban Dzat Allah, maka demikian pula halnya dengan hati atau kalbu yang disebut di atas, ia bukan hanya untuk diartikan secara sempit, yakni sekadar sepotong daging yang di rongga dada. Hati memiliki arti sangat luas, bagaikan sebuah cermin yang dapat memantulkan dunia lain.

Untuk memahami betapa luas pandangan mata hati, terlebih dahulu perhatikan betapa luasnya pandangan yang terlihat melalui mata zhahir. Bola mata bergaris tengah lebih kurang dua senti meter ternyata dengan izinNya dapat melihat sebuah meja walaupun ukuran meja itu jauh melebihi besar bola mata. Apabila pandangan mata diarahkan jauh ke depan, maka bola mata yang kecil tadi bahkan dapat memuat alam yang luasnya sekian kilo meter. Dapat dibayangkan jika pandangan diarahkan ke langit, pandangan itu dapat mencapai jarak puluhan kilo meter.
Sebaliknya kemampuan mata batin atau mata hati yang dikaruniai untuk melihat, ternyata jauh melebihi kemampuan mata zhahir. Penglihatan mata hati tidak terhalang kebendaan, seperti dinding beton, pagar dan lain-lain.

Selanjutnya melalui FirmanNya, Dzat Yang Hidup memperkenalkan keberadaanNya melalui ayat: “Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa; tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah (2) : 163).

18. Ke-Esaan Allah
Dzat Yang Hidup itu Esa, tiada duanya. Salah satu cara memahami ke-Esa-an-Nya adalah dengan memperhatikan warna langit yang tetap biru walaupun langit tersebut dilihat oleh satu, dua, tiga, seratus, atau seribu orang lebih, bahkan untuk jumlah yang tak terhingga. Warna biru adalah perumpamaan atau cara untuk memahami ke-Esa-an Dzat Yang Hidup.

Contoh lain dari memahami konsep keesaan adalah dengan memperhatikan refleksi diri di dalam beberapa buah kaca. Walaupun diri itu hanya satu, namun keesaan diri tersebut dapat terefleksi dalam beberapa bentuk dalam bayangan kaca. Dari uraian ini, maka timbul pertanyaan yang tidak kalah pentingnya. Jika Dzat itu Esa, bagaimanakah pemahaman akrabnya Dzat pada makhlukNya, yakni pada manusia? Dzat Yang Hidup itu Esa, yaitu keesaan dari Dzat Yang Hidup. Yang banyak adalah tempat Dia menampakkan keberadaanNya. Keterangan tentang keesaan Dzat dapat digambarkan dengan istilah “Melihat Yang Satu dalam yang banyak”. Dalam hal ini, yang perlu dilihat adalah hakikat dari yang banyak itu sendiri. Sebagai contoh, hakikat dari ombak, gelombang, riak dan buih sebenarnya adalah air. Jadi Dzat sesungguhnya adalah hakikat, yang sebenarnya atau Yang Haq.
Memahami konsep ketunggalan dapat pula digambarkan dengan memberikan sebutan 01 (kosong satu) terhadap angka nol di depan angka satu, dan sebutan 10 (satu kosong atau sepuluh) terhadap angka satu di depan angka nol. Tetapi ketunggalan Dzat tidak memiliki sebutan, yakni seperti angka satu di dalam angka nol. Ia bukan 01 dan bukan pula 10. Angka nol (0) lambang jasad, sedangkan angka satu (1) adalah ketunggalan Dzat Yang Hidup. Jika Dzat Yang Tunggal, Hidup Kekal dan lebih dekat dari urat leher itu berpisah dengan wadah (jasad), maka jasad itu tidak lebih adalah setumpuk daging yang tidak berdaya.





Kamis, 02 Februari 2017

ILMU LADUNI

1. Pendahuluan
Di sini dibahas gambaran umum ilmu laduni. Tujuan pembahasan, selain untuk menjelaskan persoalan yang banyak ditanyakan belakangan ini, juga untuk menjelaskan secara selintas gambaran ilmu yang amat langka ini. Istilah laduni bagi masyarakat awam mungkin masih terdengar asing, tetapi tidak bagi para penekun tasawuf, sebab tujuan tasawuf adalah untuk meraih ilmu laduni. Kelangkaan literatur telah menyebabkan ilmu ini tidak dikenal masyarakat. Kalaupun ada yang membahas ilmu laduni, kebanyakan buku tersebut hanya membicarakan keberadaan ilmu laduni di antara ilmu-ilmu lain.

Disebabkan keterbatasan informasi, bagi yang mengenal ilmu laduni secara sepintas tidak tertutup kemungkinan timbul berbagai anggapan salah terhadap ilmu ini. Ada yang beranggapan, ilmu laduni adalah ilmu langka yang sulit ditekuni. Bahkan, tidak sedikit yang beranggapan laduni hanya untuk kalangan tertentu, yaitu bagi orang yang berusia lanjut dan meninggalkan kehidupan dunia. Selain itu, ketidaktahuan telah menimbulkan anggapan ilmu laduni sebagai ilmu yang mempelajari kesaktian, ketabiban, ilmu memperkaya diri dan peramalan. Semua anggapan atas dasar dugaan itu tidak benar.

Sebaliknya, karena ilmu laduni adalah ilmu dari Allah, maka ilmu itu menerangkan cara mengenal, menemui dan mengabdi kepadaNya. Ilmu laduni tidak mengajarkan kesaktian, tetapi menjelaskan cara mengenal dan meyakini keberadaan Allah, Dzat Yang Maha Kuat. Ilmu laduni tidak mengajarkan ketabiban, tetapi menjelaskan tata cara mengenal dan selanjutnya meyakini Allah, Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Ilmu laduni tidak mengajarkan cara mencari kekayaan, tetapi menjelaskan jalan mengenal dan meyakini keberadaan Allah, Dzat Yang Maha Kaya, dan Ilmu laduni tidak mengajarkan ilmu peramalan, tetapi menjelaskan cara meyakini adanya Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui.

2. Pengertian ilmu laduni
Agar mudah memperoleh pengertian dasar ilmu laduni, penulis mencoba mendefinisikan ilmu itu secara umum. Pemahaman tambahan akan dibahas secara bertahap berikut.

Ilmu laduni adalah ilmu yang dianugerahkan Allah, Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk kepada hambaNya melalui berbagai bentuk petunjuk seperti, antara lain bisikan, ilham (Sirr) dan kewaspadaan mata hati. Keterangan ilmu laduni di dalam al Qur’an seperti juga tertera dalam Ensiklopedi Islam (1994) terdapat dalam QS Al Kahfi (18) ayat 65. Dalam Surat itu Allah berfirman: “Fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaa aatainahu rahmatam min ‘indinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa”. Dalam terjemahan kitab Al Qur’an oleh Departemen Agama RI, ayat ini diterjemahkan sebagai berikut:

“Mereka menemukan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang Kami berikan kepadanya rahmat dari Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya suatu ilmu dari sisi Kami.” (QS Al-Kahfi (18) ayat 65)

Laduni diambil dari kata ladunnaa pada ayat di atas (QS Al-Kahfi (18) ayat 65), ladunnaa ‘ilmaa atau ilmu laduni yang biasa juga disebut ilmu dari sisi Allah. Jadi laduni adalah ilmu dari Allah. Keterangan lebih lanjut tentang ayat ini dapat dibaca pada QS Al Kahfi (18) ayat 60 sampai ayat 82. Dalam ayat-ayat itu dikisahkan, kemampuan Nabi Khidir yang atas izin Allah dapat mengenal hal yang tidak diketahui orang banyak. Dalam ayat-ayat itu juga ada pelajaran tentang proses Nabi Musa berlajar kepada Nabi Khidir.

Selanjutnya, walaupun yang disebutkan hamba yang dikehendaki Allah dalam QS Al Kahfi (18) ayat 60 sampai dengan ayat 82 di atas adalah Nabi Khidir as yang oleh karena kenabiannya dipastikan hamba yang beriman, suci dan beramal saleh, namun atas izin Allah, Dzat Yang Maha Kuasa setiap orang dapat menekuni ilmu itu. Yang pasti untuk menekuninya sampai mendapatkan petunjuk langsung dari Allah, ia mesti beriman kepada Allah, bertaubat, mensucikan jiwa, beramal saleh serta selalu memohon petunjukNya. Tidak kalah pentingnya, ia harus menemukan pembimbing.

Dalam mendapatkan petunjuk, Allah tidak membeda-bedakan manusia atas dasar kekayaan, kepangkatan dan keturunan. Sebab, semua perbedaan adalah milikNya. Allah lebih menilik ketakwaan dan kesungguh-an seseorang. Siapa beriman dan bertakwa kepadaNya, Dia menganugerahkan petunjuk pada hatinya.

“…. Sungguh semulia-mulia kamu di sisi Allah adalah yang lebih takwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS Al Hujarat (49) : 13).

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al ‘Ankabut (29) : 69).

“.... Dan siapa beriman kepada Allah, Dia menunjuki hatinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghabun (64) : 11).

Orang yang memperoleh petunjuk melalui hati ini, telah dianugerahi Allah ilmu laduni. Dengan ungkapan lain, ia sudah membuktikan kebenaran dari QS At Taghabun (64) : 11.

3. Tahap menekuni ilmu laduni
Penekunan ilmu laduni dimulai dari pengkajian nilai agama dalam al Qur’an. Keharusan memahami nilai ini sebagai landasan memahami ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah.

Pertama, Seseorang tidak dapat mengenal Dzat Allah dengan benar tanpa memahami al Qur’an yang menjadi pedoman penelusuran keberadaan Dzat Allah tersebut. Setiap orang diperintahkan memahami, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat Allah. Hanya dari al Qur’anlah yang menjelaskan dan meyakinkan tentang keberadaan Dzat Allah.

Pengenalan Dzat Allah dalam menekuni laduni sangat penting, sehingga pengenalanNya diutamakan. Awal dari beragama adalah mengenal Allah. Agar dapat mengenal Allah setiap orang mesti memahami al Qur’an sebagai pedoman, khususnya pedoman mengenaliNya. Seseorang tidak dapat mengenali petunjuk Allah secara langsung tanpa terlebih dahulu memahami dan mengamalkan pedoman yang berupa ayat-ayat dalam kitab al Qur’an. Hal ini disebabkan:

“Sungguh orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (al Qur’an), Allah tidak menunjuki mereka dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS An Nahl (16) : 104).

Semua petunjuk yang disampaikan ke hati mesti dicek kebenarannya dengan membandingkannya dengan ayat-ayat yang ada dalam al Qur’an. Sebab, Allah tidak hanya mengilhamkan kebaikan, tetapi Dia juga mengilhamkan kefasikan. Ketika jiwa dalam keadaan kotor, maka besar kemungkinan petunjuk yang diterima adalah petunjuk ke jalan kefasikan. Oleh sebab itu, mensucikan jiwa dan memelihara kesuciannya menjadi sangat penting.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams (91) : 8 sd 10)

Kedua: Seseorang tidak dapat mengenali dirinya secara benar tanpa memahami al Qur’an. Hanya al Qur’an yang menerangkan jiwa manusia secara jelas. Contoh, Allah menerangkan:

Manusia itu dijadikan dari air hina (QS Al Mursalat (77) : 20).
Manusia itu pembantah yang nyata (QS An Nahl (16) : 4).
Manusia itu berkeluh kesah (QS Al Ma’arij (70) : 19).
Manusia itu tidak bersyukur (QS Al Mu’min (40) : 61).
Manusia itu sombong jika senang dan putus asa tertimpa kesusuhan (QS Al Isra’ (17) : 83).
Manusia itu sangat ingkar (QS Asy Syura (42) : 48).
Manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus (QS Al Qiyamah (75) : 5).
Manusia itu lalai terhadap akhirat (QS Ar Rum (30) : 7).
Manusia itu dijadikan lemah (QS An Nisa’ (4) : 28) dan seterusnya.

Pengenalan diri diperlukan untuk memperbaiki kualitas diri secara terencana, seperti mengikis sifat buruk yang melekat di hati. Pengenalan diri diperlukan juga untuk mempertahankan sifat baik yang telah ada dan membebaskannya dari berbagai keterikatan yang membebani. Selanjutnya pengenalan diri diperlukan untuk mengenal Dzat yang menjadikan manusia. Orang bijak pada masa lalu telah berkata, bahwa agar mengenal Allah, ia mesti mengenal dirinya. Man ‘arafa nafsahuu faqad ‘arafa Rabbahuu. Kenalilah dirimu, supaya kamu mengenal Tuhanmu.

Ketiga: Setiap orang mengalami kesulitan mengenali petunjuk dari Allah secara langsung tanpa melandasi pemahamannya kepada al Qur’an. Allah menunjukkan cara membaca dan memahami serta mengamalkan isi al Qur’an. Tanpa pemahaman yang benar, yakni pemahaman yang dijelaskan dalam al Qur’an itu sendiri, niscaya manusia menjadi lalai, bodoh dan zalim. Sebagai contoh, Manusia diperintahkan agar:
Berlindung kepada Allah sebelum membaca al Qur’an (QS An Nahl (16) : 98),
Membaca al Qur’an dengan perlahan (QS Al Muzzammil (73) : 4),
Memperhatikan waktu yang tepat membaca al Qur’an (QS Al Muzzam-mil (73) : 6 dan 7),
Menggunakan akal (QS Yunus (10) : 100),
Memperhatikan isi al Qur’an (QS Sad (38) : 29) dan sebaginya.

Ketiga alasan yang disebutkan tadi adalah dasar untuk mendapatkan petunjuk Allah. Setiap orang mesti melandasi keyakinannya kepada al Qur’an sebagai pedoman. Tidak ada kitab suci sesempurna al Qur’an yang menjelaskan tentang kehidupan sebelum manusia dilahirkan, sekarang dan nanti. Tidak ada keraguan pada al Qur’an, petunjuk bagi orang yang ingin mencapai derajad takwa.

4. Petunjuk langsung
Petunjuk yang dimohonkan kepada Allah pada setiap saat adalah pemahaman, penghayatan dan pengamalan isi al Qur’an secara benar. Sehingga, saat memahami, menghayati dan menjalankan perintah Allah, kebenaran perintah itu benar-benar dapat dirasakan dan diyakini dengan sepenuh hati. Jadi tujuan yang hendak dicapai melalui ilmu laduni adalah memahami kandungan al Qur’an, tidak hanya dengan menggunakan pikiran tetapi juga dengan menggunakan kalbu agar ayat Allah dapat diselami sampai ke tingkat rasa. Karena:

“Sesungguhnya al Qur'an ini adalah bacaan yang mulia, pada kitab terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba yang disucikan.” (QS Al Waqi’ah (56) : 77, 78 dan 79).

Melalui petunjuk yang benar-benar diyakini karena telah merasakan kebenaran firman Allah, pengabdian kepadaNya menjadi tidak sia-sia. Pengabdian kepada Allah yang selama ini karena kebiasaan ikut-ikutan akhirnya dapat dihindari.

Tingkatan sampai menyentuh isi al Qur’an seperti tertera dalam ayat di atas (QS Al Waqi’ah (56) : 77 sd. 79) bukan sekadar dalam makna sempit, yaitu hanya orang yang berwudu boleh menyentuh kitab al Qur’an. Pemahaman seperti itu tidak untuk diperdebatkan, tetapi makna dari menyentuh melibatkan unsur akal dan rasa. Dalam hal ini, akal membenarkan bahwa al Qur’an adalah benar dan rasapun tersentuh mengakui kebenarannya sampai ke hati paling dalam yang tidak dapat dicapai melalui berwudu. Dengan cara ini, nantinya diharapkan banyak orang yang dapat mengamalkan al Qur’an atas petunjuk Allah, bukan menurut hasil dugaan si A atau si B, sebab hanya Allahlah yang mengajarkan al Qur’an.

“(Tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan al Qur’an. ” (QS Ar Rahman (55) : 1 sd 2)

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai-nya), sesungguhnya atas tanggungan Kamilah yang mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Jika Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS Al Qiyamah (75) : 16 sd 18)

Mesti diyakini jika seseorang memohon petunjuk kepada Allah, niscaya Dia mengabulkan permohonan tersebut, (QS Al Mu’min (40) : 60). Allah akan menyelamatkannya dari kesesatan. Perlu disadari, memohon petunjuk Allah secara langsung bukan hal baru dan mustahil, apalagi bertentanggan dengan ajaran Islam. Shalat istikharah adalah salah satu bentuk permohonan langsung kepada Allah. Masalahnya adalah, bahwa Allah mengabulkan permohonan dan mengaruniakan petunjuk-Nya secara langsung belum dapat diyakini banyak orang. Akibatnya makna permohonan yang senantiasa diajukan kepada Allah setiap rakaat pelaksanaan sholat: Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al Fatihah (1) : 6) dianggap sebagai seremonial, tanpa keyakinan permohonan tersebut akan dijawab.

“Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” (QS Al Fatihah (1) : 5).

“Tuhan kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu. ...” (QS Al Mu’min (40) : 60).

5. Penyucian diri
Tahap berikutnya agar memperoleh petunjuk dari Allah dalam rangka mengenalNya adalah mensucikan diri, baik zahir (jasad) maupun batin (jiwa). Suci secara zahir adalah terhindar dari kotoran pada pakaian, kulit dan daging yang disebabkan memakai pakaian hasil korupsi dan mengkonsumsi makanan yang diharamkan. Suci batin adalah terhindar dari perbuatan keji dan mungkar yang dipicu oleh penyakit yang di dalam dada: dengki, iri, dendam, dan sombong. Suci secara zahir dibersihkan dengan mandi, berwudhu dan mengkonsumsi makanan halal. Suci batin dibersihkan dengan memohon kepada Allah agar jiwa disucikan dan bertaubat.

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya.” (Qs Asy Syams (91) : 9).

Dari ayat ini, perlu dipahami hal-hal, antara lain seperti: keuntungan menyucikan diri, waktu menyucikan diri, cara menyucikan diri, dan siapa melakukan penyucian diri. Secara singkat dapat disampaikan bahwa tujuan menyucikan diri adalah supaya memperoleh petunjuk Allah, sebab hanya diri yang disucikan Allah saja dapat menerima petunjuk yang benar. Jikalau diumpamakan seperti sebuah radio, maka radio yang terpelihara saja yang dapat menerima siaran dari stasiun. Radio rusak tidak dapat menerima siaran kecuali suara bingar.

Tanpa kesucian jiwa, mustahil seseorang mendapatkan petunjuk (QS Al Jatsiyah (45) : 20) dari Allah, khususnya petunjuk yang benar. Sebab petunjuk dari Allah adalah al Qur’an yang sebenar-benar al Qur’an, yaitu ayat-ayat yang berada di dalam dada, (QS Al ‘Ankabut (29) : 49). Sedangkan al Qur’an ini tidak dapat disentuh dalam arti dipahami, kecuali oleh orang yang telah disucikan Allah jiwanya, (QS Al Waqi’ah (56) : 77, 78 dan 79).

“Al Qur’ an adalah pedoman manusia, petunjuk dan rahmat untuk kaum yang meyakini.” (QS Al Jatsiyah (45) : 20).

“Sebenarnya, al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang yang berilmu. .…” (QS Al ‘Ankabut (29) : 49).

“Sungguh al Qur'an ini adalah bacaan yang mulia, pada kitab terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba yang disucikan.” (QS Al Waqi’ah (56) : 77, 78 dan 79).

Dasar beragama adalah kesucian jiwa, tanpa kesucian jiwa beragama hanyalah kepalsuan. Hal ini dapat dilambangkan dengan orang yang akan melaksanakan shalat atau yang akan menghadap Allah dimana ia diharuskan berwudu terlebih dahulu, (QS Al Maidah (5) : 6). Bahkan saat menghadap Allah pun, yaitu saat kematian datang, hanya jiwa yang sucilah yang dapat sampai kepada Allah (QS Asy Syu’ara (26) : 88 dan 89). Sedangkan anak laki-laki dan harta pada saat itu tidak berguna sama sekali.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, ....” (QS Al Maidah (5) : 6).

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy Syu’ara (26) : 88 dan 89)

Berdasarkan pengalaman, banyak ditemukan penekun kajian berorientasikan pencapaian ilmu laduni memulai penekunannya dari niat yang salah. Ia menekuni kajian dengan tujuan ingin mencari kesaktian, mendapatkan jodoh dan mendapatkan kekayaan. Niat seperti ini dapat mengiring si penekun kepada jalan yang bengkok. Niat menekuni ilmu laduni yang benar adalah supaya dapat mengenal Allah dan kemudian mengabdikan diri kepadaNya. Untuk itu, setiap penekun harus terlebih dahulu mengenal dan bertemu Allah. Jika Allah melimpahkan keridhaanNya berupa ilmu kesaktian, ilmu pengobatan dan sebagainya, maka semestinya keistimewaan tersebut diyakini timbul atas kehendakNya karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya.

Menyucikan diri dapat dilaksanakan beriringan dengan bertaubat. Karena bertaubat mesti disegerakan, maka waktu menyucikan diri adalah secepatnya pula, (QS Ali ‘Imran (3) : 133). Penundaan bertaubat dapat berakhir dengan penyesalan tanpa akhir.

“Bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu. ….” (QS Ali ‘Imran (3) : 133).

Niat meyucikan diri dan niat bertaubat dapat dilakukan bersamaan, yakni dengan memohon kepada Allah agar jiwa disucikan dan dosa diampuni. Mensucikan diri dan bertaubat adalah memenuhi seruan Allah untuk kembali ke jalan yang diridhaiNya dan berhenti dari melakukan kekejian dan kemungkaran. Itulah jalan menuju kemenangan dan itu pula tanda dari orang yang senantiasa mengingat Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. ….” (QS At Tahrim (66) : 8).

“Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu ....” (QS Al Hadid (57) : 21).

Penyucian diri diawali dengan niat yang terarah kepada Allah yang ditanamkan ke dalam hati, bahwa si penekun bersungguh-sungguh memohon agar jiwanya disucikan dan setelah itu ia berjanji menjauhkan diri dari semua larangan-Nya seperti: syirik, dusta, zina dan khianat yang dilarang Allah dalam al Qur’an. Dalam menyucikan diri, mesti diyakini bahwa Allah membersihkan jiwa si pemohon dan Allah mengampuni semua kesalahannya. Bahwa Allah mensucikan jiwa harus diyakini dengan sepenuh hati, sebab jika ia tidak meyakini Allah Maha Pengampun, permohonan ampunannya sia-sia. Hal ini adalah suatu kesalahan besar, yakni pengingkaran ayat Allah. Harus pula diyakini, taubat murni tidak untuk dipermainkan. Sekali bertaubat, taubat tersebut adalah untuk selama-lamanya sampai detik terakhir kehidupan di dunia.

“Sungguh orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah lagi kekafirannya, niscaya tidak diterima taubatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat” (QS Ali ‘Imran (3) : 90).

Sebagai kesimpulan, menekuni laduni melalui tahapan: (1) Niat mengenal Allah dan mendapatkan petunjuk cara mengabdikan diri kepadaNya. (2) Memahami nilai-nilai agama di dalam al Qur’an. (3) Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, sebab setan selalu mengintai orang yang lengah. (4) Melakukan pember-sihan diri dan bertaubat dengan selalu memohon kepada Allah. (5) Bersyukur yang diwujudkan dengan berjihad harta dan jiwa. (6) Meningkatkan ketakwaan dengan beramal saleh dan meninggalkan larangan Allah. (7) Melaksanakan sholat tahajud sebagai ibadah tambahan. (8) Tafakur mengevaluasi diri sendiri serta memahami kebesaran, keindahan dan kemuliaan Allah.


Top of Form