MENGENALI PERASAAN tidak persis sama
dengan MENGENAL PERASAAN. Tujuan dari membedakan kedua istilah ini adalah agar tampak
pembatas antara kedua ungkapan. “Mengenali perasaan” bermakna bahwa yang
mengenali lebih besar daripada perasaan itu sendiri. Pemahaman ini tentunya
tidak benar-benar sama dengan “mengenal perasaan” yang menyisakan kemungkinan makna
bahwa perasaan lebih besar dari yang mengenal perasaan tersebut. Jika perasaan
lebih besar, maka pengendaliannya menjadi sulit atau bahkan mustahil. Pengertian ini berlaku
juga terhadap ungkapan mengenali pikiran dan mengenali jiwa serta mengenali diri’.
Pikiran dan perasaan tidak dapat
dipisahkan, keduanya saling terkait karena saling mempengaruhi. Keadaan pikiran
yang kacau berdampak pada perasaan, karena kekacauan pikiran itu menyebabkan
ketidaknyamanan pada area perasaan. Sebaliknya, perasaan yang nyaman memungkinkan
terkondisinya pikiran yang juga baik. Pikiran yang berupa sejumlah informasi tersimpan
di jaringan syarat-syaraf otak dan disebut dengan istilah ‘memori’ karena
sesuatu atau lain hal berupa stimulus atau rangsangan dari luar dapat
menimbulkan perasaan. Sebagai misal, orang yang dibesarkan di lingkungan
keluarga atau masyarakat yang sopan dan lembut akan bereaksi saat ia bertemu
dengan orang yang berprilaku kasar terhadap dirinya. Reaksi yang timbul karena
terjadinya benturan nilai-nilai kehidupan yang ia anut dapat menjadikan dirinya
tertekan. Akibatnya, ia bisa saja menjadi emosional karena tekanan perasaan
yang dipicu melalui pikirannya. Emosi yang dipicu pikiran ini disebut PERASAAN
yang karena tidak terkendali memungkinkan timbulnya rasa benci, dan bahkan rasa
dendam dan penyakit hati lainnya.
Pada satu sisi, perasaan adalah RASA
yang boleh jadi berupa rasa baik maupun buruk. Rasa yang baik, antara lain
adalah rasa kasih sayang dan senang, sedangkan rasa buruk adalah rasa iri dan
dengki. Rasa seperti ini disebut PERASAAN. Jadi mengenali perasaan adalah
mengenali rasa baik dan buruk yang timbul dari pikiran dan dipicu oleh
rangsangan dari luar diri. Di sisi lain, PERASAAN tidak sama dengan RASA
walaupun kata dasar pe-RASA-an berasal dari kata RASA. Makna dari kata PERASAAN
itu lebih terarah ke diri batin seperti perasaan sedih, dengki, gembira atau perasaan
jengkel. Ungkapan “Hatiku sedih” hanya bermakna perasaan yang terluka, bukan berarti
luka dibagian hati yang terdiri dari segumpal daging.
Makna kata RASA mencakup rasa pada
diri jasad dan diri batin atau jiwa. Perih karena terluka pisau adalah RASA di
jasad. Sedangkan perih terluka karena kata-kata yang menyakitkan lebih cenderung
ke RASA yang bermakna PERASAAN. Kepahaman memaknai perbe-daan makna kata PERASAAN
dan kata RASA akan memudahkan pemahaman kata JIWA yang menjadi salah satu fokus
dari pembahasan saat ini.
Sejauh ini dapat dipahami PERASAAN
berhubungan erat dengan PIKIRAN, pikiranlah pemicu reaksi pada perasaan. Dengan
memahami hal ini, maka SUPAYA DAPAT MENENANGKAN PERASAAN seseorang mesti
terlebih dahulu MENENANGKAN DIRI atau PIKIRANNYA. Ketika pikiran tenang,
perasaan pun tenang. Pertanyaan yang mungkin timbul, “Semudah itukah?” Memang
mudah menenangkan pikiran karena kehilangan uang dalam jumlah yang kecil,
sehingga perasaanpun segera tenang. Namun tidak demikian ketika uang yang
hilang dalam jumlah agak besar. Kemelekatan terhadap benda-benda duniawi
membuat sulit untuk mencapai ketenangan atau kedamaian. Kalaupun seseorang
dapat melepaskan pikirannya dari kemelekatan, maka hal ini hanya dapat terjadi apabila
dikehendaki Allah yang mengaruniai seseorang dengan sifat ikhlas karena mau BERSERAH
DIRI, yakni MENERIMA KETETAPAN ALLAH.
Telah
disinggung bahwa berpikir adalah suatu proses yang terjadi apabila dalam otak
telah terinstal memori sebelumnya. Tanpa memori seperti butiran informasi
sebagai dasar berpikir, proses berpikir tersebut belum dapat berlangsung karena
berpikir adalah pengaktifan latar belakang pengetahuan yang dipicu oleh
stimulus dari luar. Semakin banyak informasi yang tersedia di syaraf-syaraf otak,
semakin baik dan lancar pula proses berpikir. Hal ini juga berlaku sebaliknya.
Informasi yang didapati dari pengalaman dan pendidikan sangat menentukan
kemampuan berpikir. Seorang nelayan yang dalam kesehariannya bergelut dengan menangkap
ikan di laut mengalami kesulitan apabila ditanyakan tentang cara membedah otak
yang biasanya dilakukan oleh dokter ahli bedah. Di dalam otak nelayan itu tidak
tersimpan memori atau latar belakang pengetahuan cara membedah otak manusia.
Selain
KUANTITAS informasi yang tersimpan di otak, KUALITAS informasi juga sangat menentukan
proses berpikir. Apabila informasi negatif lebih dominan dari pada informasi
yang positif, maka kemungkinan untuk berpikir buruk akan mendominasi pemikiran.
Sehingga, setiap muncul stimulus dari luar diri, kecenderungan berpikir
buruklah yang akan terjadi. Sedangkan pikiran negatif itu sedikit banyaknya
mengganggu ketenangan jiwa. Oleh karena itu, bagi yang mempunyai memori negatif
yang lebih dominan, maka pembersihan latar belakang pengetahuan yang negatif ini
mesti dilakukan terlebih dahulu. Melalui beberapa latihan yang efektif, memori
negatif ini dapat di-DELETE dan di-INSTAL dengan nilai-nilai yang jauh lebih
baik sebagai bekal menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Jika tidak
demikian, sulit baginya untuk mencapai ketenangan.
Sebagai
contoh, seorang remaja yang mempunyai latar belakang pengetahuan berupa informasi
negatif bahwa bunuh diri adalah solusi bagi orang yang putus cinta seperti pernah
ia saksikan melalui pemberitaan surat kabar atau televisi cenderung melakukan
hal yang sama seperti yang ia lihat dari media massa tersebut. Bukan tidak
mungkin ketika ia sendiri mengalami putus cinta akan memilih meminum racun
nyamuk sebagai pilihan menyelesaikan masalah. Atau saat terlihat tali jemuran,
ia berpikir bahwa bunuh diri dengan menggantungkan leher adalah sebuah cara
mengakhiri penderitaan yang sedang ia tanggung atau alami.
Tidak
demikian halnya, jika di dalam otak remaja tadi telah pernah diinstal nilai-nilai
kehidupan yang positif bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang dimurkai oleh Allah,
maka kekuatan memori positif tadi akan timbul sebagai tameng untuk tidak
melakukan tindakan nekat bunuh diri. Nah, karena perasaan timbul dipicu oleh pikiran,
maka pikiran negatif menimbulkan perasaan yang tidak tenang. Hal ini tentunya berlaku
sebaliknya, apabila pikiran positif yang lebih dominan, ketenangan pun akan mudah
dicapai. Dari penjelasan ini, maka benarlah Firman Allah bahwa beruntung orang
yang menjaga kesucian jiwanya.
Sebagai
kesimpulan sementara dari sub MENGENAL PERASAAN ini, dapat disampaikan bahwa sebenarnya
tidak terlalu sulit memahami yang dimaksud dengan PERASAAN karena kata ini
sering diucapkan dalam kegiatan sehari-hari. Sedih, gembira, gusar dan senang
adalah contoh dari kata-kata yang mengungkapkan kehadiran perasaan pada
seseorang. Sedih berpasangan dengan gembira dan gusar berpasangan dengan
senang. Dari contoh tersebut sekaligus terlihat bahwa perasaan seperti halnya
pikiran adalah dualitas yaitu berpasang-pasangan. Pikiran terdiri dari pikiran
yang baik dan pikiran buruk. Perasaan yang tidak tentram timbul dari pikiran
negatif atau buruk.“Maha
Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa
yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak
mereka ketahui.” (QS Yaasiin (36) :36)