Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan
membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang
berbuat kebaikan.
(QS 11 : 117)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya.
(QS (7) : 96)
Jika Kami hendak membinasakan suatu
negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
(supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu,
maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan Kami),
kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
(QS (17) : 16)
Katakanlah: "Dialah yang berkuasa
untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia
mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan
merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah,
betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka
memahami(nya)".
(QS (6) : 65)
Pendahuluan
Setelah memahami, atau jika perlu membaca ulang beberapa ayat yang dikutip
di atas dan menengok keadaan negara yang pada saat ini yang sejak lama dalam
keadaan memprihatinkan, maka sulit untuk menyangkal bahwa dakwah di Indonesia
khususnya pada saat sekarang ini secara esensi belum betul-betul menunjukkan
hasil menggembirakan. Kebenaran dari beberapa ayat dikutip di atas yang
memberitakan adanya kerusakan demi kerusakan negeri ini merupakan indikator
belum berhasilnya dakwah yang dimaksud. Bencana alam yang silih berganti, mulai
dari gempa bumi, gunung meletus, kemarau, tsunami, banjir, luapan lumpur,
badai, wabah penyakit, kelaparan dan tindakan kekerasan menandakan maraknya
praktik kezaliman yang dilakukan oleh penduduk negeri, sehingga Allah
melaksanakan ketetapanNya dengan menurunkan bencana dalam berbagai bentuk dan
kapasitas.
Kezaliman demi kezaliman yang tentunya telah dilakukan oleh penduduk negeri
ini pada semua lini kehidupan yang hampir setiap saat dapat disaksikan melalui
layar kaca dan media cetak seperti: korupsi, mafia peradilan, narkoba,
penghujatan dan bahkan pembunuhan serta kegiatan terorisme tidak terlepas dari
belum berhasilnya dakwah yang disampaikan. Jika demikian halnya, sudah saatnya
dakwah yang tidak terfokus kepada sasaran supaya segera dibenahi. Oleh sebab
itu, pemikiran yang cemerlang, langkah-langkah strategis dan terarah untuk
meninjau ulang metoda dan materi serta tujuan dakwah dikaji lagi supaya dakwah
yang disampaikan menjadi tepat sasaran sehingga taraf kehidupan beragama dapat
menjadi lebih baik.
Metoda Dakwah
Melalui evaluasi yang dilakukan secara sekilas, metoda dakwah di Indonesia
sejak dua atau tiga dekade ke belakang telah menampakkan perkembangan yang
pesat. Dari metoda penyampaiannya, kegiatan dakwah meningkat sangat drastis
dari cara tradisional ke cara yang lebih komunikatif dan dengan menggunakan
media canggih. Dari sudut jangkauan, karena didukung oleh media mutakhir,
kegiatan dakwah tidak lagi terbatas antar masjid tetapi telah merambah ke
berbagai pelosok negeri. Pendakwah yang berada di pusat ibu kota negara, dengan
kehadiran media komunikasi canggih telah dapat berinteraksi langsung dengan si
penanya yang berada di ujung negeri. Bahkan, melalui internet seperti facebook
dakwah telah menjadi kegiatan yang mengglobal. Kemajuan ini adalah suatu
pencapaian yang menggembirakan.
Namun, sebagai suatu perjuangan yang tidak kecil, dakwah tersebut masih
mengahadapi berbagai hambatan. Salah satunya adalah bahwa perjalanan dakwah
yang selama ini telah berlangsung, ternyata belum menampakkan hasil berarti.
Nilai-nilai agama yang diwariskan melalui Nabi Muhammad Saw yang semestinya ditanamkan
ke dalam hati setiap insan kelihatannya belum terpancarkan dalam kehidupan. Saat
dakwah gencar dilaksanakan, kebatilanpun semakin marak terjadi. Dakwah bergerak
ke satu arah dan kemungkaran ber-gerak ke arah yang lain. Dengan kata lain,
dakwah belum berdampak optimal terhadap penyadaran umat agar menahan diri untuk
tidak melakukan kekejian dan kemungkaran serta kemaksiatan yang sangat dibenci
Allah.
Materi dakwah
Salah satu alasan belum maksimalnya hasil dakwah yang dapat dicermati
adalah materi dakwah yang belum terarah. Walaupun terdapat peningkatan pada
sisi ragam materi, tetapi peningkatan tersebut jarang sekali menyentuh tema
pokok yang mesti diutamakan. Pembahasan tentang tauhid atau pengenalan Allah
yang merupakan awal beragama, tertinggal jika dibandingkan dengan pembahasan
yang berkisar tentang surga dengan para bidadarinya serta makanan enak yang
diperoleh dalam surga itu. Bahkan, belakangan ini terdapat indikasi kegiatan
dakwah yang tercampur politik praktis dengan menggunakan topeng agama untuk
mendapatkan jabatan tertentu atau mendapatkan sejumlah uang. Materi dakwah yang
bertujuan demikian itu tidak akan dapat mengantarkan umat kepada pengenalan
Allah, kecuali membangkitkan nafsu terhadap bidadari dan jabatan atau status. Padahal
kajian tentang mengenal Allah sebagai salah satu aspek penting dalam kajian
ketauhidan adalah primer dari beragama. Awal dari beragama adalah mengenal
Allah.
Dakwah yang kurang mengutamakan pengenalan Allah dengan sebenar-benarnyaini
cenderung berkembang kearah penanaman konsep atau pengetahuan agama, bukan
penerapan nilai keagamaan. Antara kedua aspek itu semestinya tidak terpisah,
tetapi menyatu dalam harmoni. Sehingga umat beragama tidak hanya memiliki
pengetahuan agama, tetapi jauh lebih penting lagi merasakan pengalaman beragama
itu sendiri, yaitu keindahan pengalaman spiritual yang bermanfaat dalam
mengarungi kehidupan dunia menuju hidup kekal. Inilah salah satu tujuan
beragama, yaitu keselamatan di dunia dan akhirat.
Tanpa orientasi ke arah merasakan pengalaman beragama atau pengalaman
spiritual yang sangat indah, maka akan bertambah banyak umat yang mengetahui
nilai-nilai agama, tetapi tidak mampu menghidupkan nilai-nilai tersebut di
dalam diri masing-masing. Akibatnya, walaupun setiap orang mengetahui bahwa,
Allah berada di mana saja ia berada, dan Dia Maha melihat apa saja yang ia
kerjakan, tetapi tindakannya belum mencerminkan bahwa ia merasakan berada dalam
pengawasan Allah, Dzat Yang Maha Mengawasi.
Tanpa mengutamakan kajian ketauhidan, sulit bagi umat mendapatkan
pencerahan dirinya sebab pengalaman beragama yang sebenarnya tidak ia rasakan.
Sehingga, terciptalah umat yang suka mendebatkan kebenaran firman Allah dan
mempertentangkan akhlak yang dipraktikkan Nabi Muhammad S.a.w tanpa merasakan
kebenaran dari wahyu dan teladan yang disampaikan. Akibatnya, ungkapan bahwa
Nabi Muhammad S.a.w telah membawa umat dari alam kegelapan ke alam terang
benderang tetap hanya sebagai slogan tanpa penerapan.
Keadaan seperti yang dicontohkan di atas inilah agaknya yang dinamakan
beragama tanpa ruh atau agama mati. Untuk itu, sudah waktunya kegiatan dakwah
diberikan nuansa baru, yakni dengan menekankan aspek ketauhidan. Inilah salah
satu sasaran dari kajian tasawuf, yaitu kajian membahas tentang Allah, Dzat
Yang Hidup dengan mengenal dan menemuiNya supaya dapat memetik pelajaran yang
disampaikanNya melalui berbagai petunjuk.
Apabila materi dakwah tidak segera diarahkan kepada kajian yang semestinya
diutamakan seperti disebutkan di atas, diyakini perubahan kehidupan beragama
yang lebih baik tidak pernah tercapai. Dengan melihat tanda-tanda yang ada
keselamatan umat beragama justru menjadi semakin terancam. Memburuknya keadaan
kehidupan beragama ini tidak hanya terjadi antar umat berlainan agama, tetapi
juga terjadi pada umat seagama. Persoalan kecil yang semestinya dapat diatasi
ternyata dapat meruncing sampai menimbulkan tindakan kekerasan. Setiap kelompok
merasa bahwa kelompoknyalah yang terbaik. Kelompok lain yang tidak sepandangan
dianggap sesat dan harus dikeroyok dan bila perlu dipentung, bahkan rumah
ibadah pun dibakar. Padahal tanpa disadari orang yang membakar rumah ibadah itu
sebenarnya hati dan pikirannya sudah dijilat api neraka yang menyala.
Kondisi beragama seperti ini juga tercermin pada antar agama, yakni umat
yang berlainan agama di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Dalam
banyak hal, kondisi ini malah lebih buruk. Setiap umat mengaku agama yang
dianutnyalah terbaik, tetapi ia sendiri menjauhkan diri dari nilai agamanya
masing-masing dengan saling bunuh. Sehingga, tanpa disadari ia telah melalaikan
perin-tah Allah dan menjadilah ia sebagai pendusta agama.
Berpeganglah kamu semua kepada agama
Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai …. (QS 3 : 103)
Sesungguhnya (agama tauhid), adalah
agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah
kepadaKu. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka
terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Setiap golongan merasa bangga dengan
apa yang ada pada sisi mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai
pada suatu waktu.(QS 23 : 52 sd 54)
Ayat ini secara jelas menekankan bahwa bergolong-golongan adalah kesesatan,
khususnya jika terlintas anggapan golongan yang dianutlah yang terbaik.
Golongan lain yang berbeda dan tidak sehaluan akan masuk ke dalam neraka.
Sampai kapankah umat ini larut dalam kesesatan seperti disebutkan pada
Surat al Mu’minun di atas? Padahal dalam ayat sebelumnya dijelaskan kesesatan
itu disebabkan oleh tindakan memecah-belahkan agama Allah. Tidak ada cara lain,
umat harus segera keluar dari jeratan setan yang selalu menipu dari dalam dada
dengan berbagai cara supaya manusia semakin menyimpang dari jalan yang lurus.
Watak umat atau watak bangsa harus segera diperbaiki dengan mempedomani al
Qur’an dan hadis sambil secara terus menerus meningkat-kan kualitas diri
masing-masing. Perbaikan itu harus ditimbulkan dari dalam diri sendiri, yakni
hati dan ditindaklanjuti dengan usaha yang nyata melalui gerak fisik.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri
mereka. (QS 13 : 11)
Ilmu Primer dan Ilmu Sekunder
Agar dapat mencapai tujuan diuraikan di atas, yaitu merasakan keindahan
pengalaman beragama karena telah mengenal Tuhan dan supaya dapat berlomba dalam
kebaikan, sudah saatnya dakwah diarahkan kepada penanaman keyakinan kepada
Tuhan Yang Maha Esa dengan benar-benar mengenalNya. Penanaman keyakinan itu
harus lebih diutamakan dan disegerakan dari pada ibadah lain. Sebab, pengabdian
kepada Allah akan menjadi sempurna jika umat yang melaksanakan ibadah itu
benar-benar telah mengenal Tuhannya.
Supaya dapat mencapai hubungan dengan Allah, Nabi Muhammad S.a.w pada awal
kenabiannya mencontohkan suatu upaya menjauhkan diri dari kegiatan duniawi
sambil merenung dalam gua Hira dalam waktu yang cukup lama. Setelah hubungan
dengan Allah tersambung barulah beliau menjalin hubungan dengan dunia luar
yakni dengan manu-sia. Dengan kata lain, setelah setiap orang mengenal
Tuhannya, maka barulah ia dapat menjalin hubungan dengan manusia lain dengan
sempurna. Sebab, mengutamakan hubungan dengan manusia daripada hubungan dengan
Allah hanya membuat bubungan dengan manusia itu semu. Sebaliknya, jika hubungan
dengan Allah semakin baik, dapat diyakini hubungan dengan manusia pun menjadi
baik pula.
Mendahulukan pengenalan Tuhan daripada pengabdian kepadaNya dalam kajian
Islam disebut mendahulukan ilmu ushul atau ilmu pokok dari pada ilmu furu’ atau
ilmu cabang. Sebab adalah mustahil cabang pada sebatang pohon akan dapat
melekat, sedangkan pokoknya belum ada.
Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada
Tuhan melainkan Allah dan mohonkanlah ampunan bagi dosamu dan dosa orang-orang
mukmin laki-laki dan mukmin perempuan. (QS 47 : 19)
Ayat di atas mengandung dua perintah. Pertama, perintah agar mengenal Allah
dan kedua perintah memohon ampunan. Mengenal Allah adalah ilmu ushul dan
memohonkan ampunan adalah ilmu furu’. Dari segi urutan, dari kedua jenis
perintah itu, Allah mendahulukan perintah mengenaliNya dari pada perintah
memohonkan ampunan dosa. Artinya, perintah pertama lebih penting dari perintah
kedua. Logika di balik hal tersebut sangat jelas, tanpa mengenal Allah, kepada
siapakah ampunan dialamatkan. Oleh karena itu, semestinyalah pengenalan Allah
dijadikan prioritas dari dakwah. Sehingga dengan pengenalan ini, nilai-nilai
yang ditanamkan melalui setiap dakwah berkembang. Lebih penting lagi, dengan
mendalami masalah ketauhidan, diharapkan banyak umat terhindar dari menyembah
Tuhan ciptaan pikirannya sendiri yang dapat menjadikan umat lebih mengagungkan
jabatan atau harta sebagi Tuhannya.
Persoalan yang mungkin muncul dalam mengutamakan kajian tauhid dalam
berdakwah adalah keterbatasan nara sumber yang ada. Nara sumber ilmu hakikat
dan makrifat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan nara sumber untuk
urusan syariat. Terlebih-lebih lagi ulama yang benar-benar dikaruniai Allah pencerahan
sampai tingkat makrifat sangat sedikit jumlahnya dan mereka jarang muncul ke
atas mimbar. Akibatnya, keberadaan mereka sulit dilacak. Ulama ini biasanya
hanya melayani orang yang bersungguh-sungguh mencari pencerahan diri dengan
mengenal Tuhan. Sangat disayangkan mereka jarang berdakwah kepada masyarakat
umum. Adalah suatu harapan apabila ulama ilmu hakikat dan makrifat yang ada di
pelosok Nusantara bersedia ‘turun gunung’ karena mengingat nasib umat semakin
buruk.
Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
BalasHapusKelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com