Rabu, 01 Februari 2017

TINJAUAN TERHADAP DAKWAH DI INDONESIA

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
(QS 11 : 117)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS (7) : 96)

Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
(QS (17) : 16)

Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)".
(QS (6) : 65)



Pendahuluan
Setelah memahami, atau jika perlu membaca ulang beberapa ayat yang dikutip di atas dan menengok keadaan negara yang pada saat ini yang sejak lama dalam keadaan memprihatinkan, maka sulit untuk menyangkal bahwa dakwah di Indonesia khususnya pada saat sekarang ini secara esensi belum betul-betul menunjukkan hasil menggembirakan. Kebenaran dari beberapa ayat dikutip di atas yang memberitakan adanya kerusakan demi kerusakan negeri ini merupakan indikator belum berhasilnya dakwah yang dimaksud. Bencana alam yang silih berganti, mulai dari gempa bumi, gunung meletus, kemarau, tsunami, banjir, luapan lumpur, badai, wabah penyakit, kelaparan dan tindakan kekerasan menandakan maraknya praktik kezaliman yang dilakukan oleh penduduk negeri, sehingga Allah melaksanakan ketetapanNya dengan menurunkan bencana dalam berbagai bentuk dan kapasitas.

Kezaliman demi kezaliman yang tentunya telah dilakukan oleh penduduk negeri ini pada semua lini kehidupan yang hampir setiap saat dapat disaksikan melalui layar kaca dan media cetak seperti: korupsi, mafia peradilan, narkoba, penghujatan dan bahkan pembunuhan serta kegiatan terorisme tidak terlepas dari belum berhasilnya dakwah yang disampaikan. Jika demikian halnya, sudah saatnya dakwah yang tidak terfokus kepada sasaran supaya segera dibenahi. Oleh sebab itu, pemikiran yang cemerlang, langkah-langkah strategis dan terarah untuk meninjau ulang metoda dan materi serta tujuan dakwah dikaji lagi supaya dakwah yang disampaikan menjadi tepat sasaran sehingga taraf kehidupan beragama dapat menjadi lebih baik.

Metoda Dakwah
Melalui evaluasi yang dilakukan secara sekilas, metoda dakwah di Indonesia sejak dua atau tiga dekade ke belakang telah menampakkan perkembangan yang pesat. Dari metoda penyampaiannya, kegiatan dakwah meningkat sangat drastis dari cara tradisional ke cara yang lebih komunikatif dan dengan menggunakan media canggih. Dari sudut jangkauan, karena didukung oleh media mutakhir, kegiatan dakwah tidak lagi terbatas antar masjid tetapi telah merambah ke berbagai pelosok negeri. Pendakwah yang berada di pusat ibu kota negara, dengan kehadiran media komunikasi canggih telah dapat berinteraksi langsung dengan si penanya yang berada di ujung negeri. Bahkan, melalui internet seperti facebook dakwah telah menjadi kegiatan yang mengglobal. Kemajuan ini adalah suatu pencapaian yang menggembirakan.

Namun, sebagai suatu perjuangan yang tidak kecil, dakwah tersebut masih mengahadapi berbagai hambatan. Salah satunya adalah bahwa perjalanan dakwah yang selama ini telah berlangsung, ternyata belum menampakkan hasil berarti. Nilai-nilai agama yang diwariskan melalui Nabi Muhammad Saw yang semestinya ditanamkan ke dalam hati setiap insan kelihatannya belum terpancarkan dalam kehidupan. Saat dakwah gencar dilaksanakan, kebatilanpun semakin marak terjadi. Dakwah bergerak ke satu arah dan kemungkaran ber-gerak ke arah yang lain. Dengan kata lain, dakwah belum berdampak optimal terhadap penyadaran umat agar menahan diri untuk tidak melakukan kekejian dan kemungkaran serta kemaksiatan yang sangat dibenci Allah.

Materi dakwah
Salah satu alasan belum maksimalnya hasil dakwah yang dapat dicermati adalah materi dakwah yang belum terarah. Walaupun terdapat peningkatan pada sisi ragam materi, tetapi peningkatan tersebut jarang sekali menyentuh tema pokok yang mesti diutamakan. Pembahasan tentang tauhid atau pengenalan Allah yang merupakan awal beragama, tertinggal jika dibandingkan dengan pembahasan yang berkisar tentang surga dengan para bidadarinya serta makanan enak yang diperoleh dalam surga itu. Bahkan, belakangan ini terdapat indikasi kegiatan dakwah yang tercampur politik praktis dengan menggunakan topeng agama untuk mendapatkan jabatan tertentu atau mendapatkan sejumlah uang. Materi dakwah yang bertujuan demikian itu tidak akan dapat mengantarkan umat kepada pengenalan Allah, kecuali membangkitkan nafsu terhadap bidadari dan jabatan atau status. Padahal kajian tentang mengenal Allah sebagai salah satu aspek penting dalam kajian ketauhidan adalah primer dari beragama. Awal dari beragama adalah mengenal Allah.

Dakwah yang kurang mengutamakan pengenalan Allah dengan sebenar-benarnyaini cenderung berkembang kearah penanaman konsep atau pengetahuan agama, bukan penerapan nilai keagamaan. Antara kedua aspek itu semestinya tidak terpisah, tetapi menyatu dalam harmoni. Sehingga umat beragama tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi jauh lebih penting lagi merasakan pengalaman beragama itu sendiri, yaitu keindahan pengalaman spiritual yang bermanfaat dalam mengarungi kehidupan dunia menuju hidup kekal. Inilah salah satu tujuan beragama, yaitu keselamatan di dunia dan akhirat.

Tanpa orientasi ke arah merasakan pengalaman beragama atau pengalaman spiritual yang sangat indah, maka akan bertambah banyak umat yang mengetahui nilai-nilai agama, tetapi tidak mampu menghidupkan nilai-nilai tersebut di dalam diri masing-masing. Akibatnya, walaupun setiap orang mengetahui bahwa, Allah berada di mana saja ia berada, dan Dia Maha melihat apa saja yang ia kerjakan, tetapi tindakannya belum mencerminkan bahwa ia merasakan berada dalam pengawasan Allah, Dzat Yang Maha Mengawasi.

Tanpa mengutamakan kajian ketauhidan, sulit bagi umat mendapatkan pencerahan dirinya sebab pengalaman beragama yang sebenarnya tidak ia rasakan. Sehingga, terciptalah umat yang suka mendebatkan kebenaran firman Allah dan mempertentangkan akhlak yang dipraktikkan Nabi Muhammad S.a.w tanpa merasakan kebenaran dari wahyu dan teladan yang disampaikan. Akibatnya, ungkapan bahwa Nabi Muhammad S.a.w telah membawa umat dari alam kegelapan ke alam terang benderang tetap hanya sebagai slogan tanpa penerapan.

Keadaan seperti yang dicontohkan di atas inilah agaknya yang dinamakan beragama tanpa ruh atau agama mati. Untuk itu, sudah waktunya kegiatan dakwah diberikan nuansa baru, yakni dengan menekankan aspek ketauhidan. Inilah salah satu sasaran dari kajian tasawuf, yaitu kajian membahas tentang Allah, Dzat Yang Hidup dengan mengenal dan menemuiNya supaya dapat memetik pelajaran yang disampaikanNya melalui berbagai petunjuk.

Apabila materi dakwah tidak segera diarahkan kepada kajian yang semestinya diutamakan seperti disebutkan di atas, diyakini perubahan kehidupan beragama yang lebih baik tidak pernah tercapai. Dengan melihat tanda-tanda yang ada keselamatan umat beragama justru menjadi semakin terancam. Memburuknya keadaan kehidupan beragama ini tidak hanya terjadi antar umat berlainan agama, tetapi juga terjadi pada umat seagama. Persoalan kecil yang semestinya dapat diatasi ternyata dapat meruncing sampai menimbulkan tindakan kekerasan. Setiap kelompok merasa bahwa kelompoknyalah yang terbaik. Kelompok lain yang tidak sepandangan dianggap sesat dan harus dikeroyok dan bila perlu dipentung, bahkan rumah ibadah pun dibakar. Padahal tanpa disadari orang yang membakar rumah ibadah itu sebenarnya hati dan pikirannya sudah dijilat api neraka yang menyala. 

Kondisi beragama seperti ini juga tercermin pada antar agama, yakni umat yang berlainan agama di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Dalam banyak hal, kondisi ini malah lebih buruk. Setiap umat mengaku agama yang dianutnyalah terbaik, tetapi ia sendiri menjauhkan diri dari nilai agamanya masing-masing dengan saling bunuh. Sehingga, tanpa disadari ia telah melalaikan perin-tah Allah dan menjadilah ia sebagai pendusta agama.

Berpeganglah kamu semua kepada agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai …. (QS 3 : 103)

Sesungguhnya (agama tauhid), adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaKu. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai pada suatu waktu.(QS 23 : 52 sd 54)

Ayat ini secara jelas menekankan bahwa bergolong-golongan adalah kesesatan, khususnya jika terlintas anggapan golongan yang dianutlah yang terbaik. Golongan lain yang berbeda dan tidak sehaluan akan masuk ke dalam neraka.

Sampai kapankah umat ini larut dalam kesesatan seperti disebutkan pada Surat al Mu’minun di atas? Padahal dalam ayat sebelumnya dijelaskan kesesatan itu disebabkan oleh tindakan memecah-belahkan agama Allah. Tidak ada cara lain, umat harus segera keluar dari jeratan setan yang selalu menipu dari dalam dada dengan berbagai cara supaya manusia semakin menyimpang dari jalan yang lurus. Watak umat atau watak bangsa harus segera diperbaiki dengan mempedomani al Qur’an dan hadis sambil secara terus menerus meningkat-kan kualitas diri masing-masing. Perbaikan itu harus ditimbulkan dari dalam diri sendiri, yakni hati dan ditindaklanjuti dengan usaha yang nyata melalui gerak fisik.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. (QS 13 : 11)

Ilmu Primer dan Ilmu Sekunder
Agar dapat mencapai tujuan diuraikan di atas, yaitu merasakan keindahan pengalaman beragama karena telah mengenal Tuhan dan supaya dapat berlomba dalam kebaikan, sudah saatnya dakwah diarahkan kepada penanaman keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan benar-benar mengenalNya. Penanaman keyakinan itu harus lebih diutamakan dan disegerakan dari pada ibadah lain. Sebab, pengabdian kepada Allah akan menjadi sempurna jika umat yang melaksanakan ibadah itu benar-benar telah mengenal Tuhannya.
Supaya dapat mencapai hubungan dengan Allah, Nabi Muhammad S.a.w pada awal kenabiannya mencontohkan suatu upaya menjauhkan diri dari kegiatan duniawi sambil merenung dalam gua Hira dalam waktu yang cukup lama. Setelah hubungan dengan Allah tersambung barulah beliau menjalin hubungan dengan dunia luar yakni dengan manu-sia. Dengan kata lain, setelah setiap orang mengenal Tuhannya, maka barulah ia dapat menjalin hubungan dengan manusia lain dengan sempurna. Sebab, mengutamakan hubungan dengan manusia daripada hubungan dengan Allah hanya membuat bubungan dengan manusia itu semu. Sebaliknya, jika hubungan dengan Allah semakin baik, dapat diyakini hubungan dengan manusia pun menjadi baik pula.

Mendahulukan pengenalan Tuhan daripada pengabdian kepadaNya dalam kajian Islam disebut mendahulukan ilmu ushul atau ilmu pokok dari pada ilmu furu’ atau ilmu cabang. Sebab adalah mustahil cabang pada sebatang pohon akan dapat melekat, sedangkan pokoknya belum ada.

Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan mohonkanlah ampunan bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan. (QS 47 : 19)

Ayat di atas mengandung dua perintah. Pertama, perintah agar mengenal Allah dan kedua perintah memohon ampunan. Mengenal Allah adalah ilmu ushul dan memohonkan ampunan adalah ilmu furu’. Dari segi urutan, dari kedua jenis perintah itu, Allah mendahulukan perintah mengenaliNya dari pada perintah memohonkan ampunan dosa. Artinya, perintah pertama lebih penting dari perintah kedua. Logika di balik hal tersebut sangat jelas, tanpa mengenal Allah, kepada siapakah ampunan dialamatkan. Oleh karena itu, semestinyalah pengenalan Allah dijadikan prioritas dari dakwah. Sehingga dengan pengenalan ini, nilai-nilai yang ditanamkan melalui setiap dakwah berkembang. Lebih penting lagi, dengan mendalami masalah ketauhidan, diharapkan banyak umat terhindar dari menyembah Tuhan ciptaan pikirannya sendiri yang dapat menjadikan umat lebih mengagungkan jabatan atau harta sebagi Tuhannya. 

Persoalan yang mungkin muncul dalam mengutamakan kajian tauhid dalam berdakwah adalah keterbatasan nara sumber yang ada. Nara sumber ilmu hakikat dan makrifat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan nara sumber untuk urusan syariat. Terlebih-lebih lagi ulama yang benar-benar dikaruniai Allah pencerahan sampai tingkat makrifat sangat sedikit jumlahnya dan mereka jarang muncul ke atas mimbar. Akibatnya, keberadaan mereka sulit dilacak. Ulama ini biasanya hanya melayani orang yang bersungguh-sungguh mencari pencerahan diri dengan mengenal Tuhan. Sangat disayangkan mereka jarang berdakwah kepada masyarakat umum. Adalah suatu harapan apabila ulama ilmu hakikat dan makrifat yang ada di pelosok Nusantara bersedia ‘turun gunung’ karena mengingat nasib umat semakin buruk.

Top of Form


1 komentar:

  1. Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com

    Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
    -Situs Aman dan Terpercaya.
    - Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
    - Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
    - Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
    - Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
    -Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
    - 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI

    8 Permainan Dalam 1 ID :
    Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66

    Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
    BBM: 2AD05265
    WA: +855968010699
    Skype: smsqqcom@gmail.com

    BalasHapus