Kamis, 02 Februari 2017

ILMU LADUNI

1. Pendahuluan
Di sini dibahas gambaran umum ilmu laduni. Tujuan pembahasan, selain untuk menjelaskan persoalan yang banyak ditanyakan belakangan ini, juga untuk menjelaskan secara selintas gambaran ilmu yang amat langka ini. Istilah laduni bagi masyarakat awam mungkin masih terdengar asing, tetapi tidak bagi para penekun tasawuf, sebab tujuan tasawuf adalah untuk meraih ilmu laduni. Kelangkaan literatur telah menyebabkan ilmu ini tidak dikenal masyarakat. Kalaupun ada yang membahas ilmu laduni, kebanyakan buku tersebut hanya membicarakan keberadaan ilmu laduni di antara ilmu-ilmu lain.

Disebabkan keterbatasan informasi, bagi yang mengenal ilmu laduni secara sepintas tidak tertutup kemungkinan timbul berbagai anggapan salah terhadap ilmu ini. Ada yang beranggapan, ilmu laduni adalah ilmu langka yang sulit ditekuni. Bahkan, tidak sedikit yang beranggapan laduni hanya untuk kalangan tertentu, yaitu bagi orang yang berusia lanjut dan meninggalkan kehidupan dunia. Selain itu, ketidaktahuan telah menimbulkan anggapan ilmu laduni sebagai ilmu yang mempelajari kesaktian, ketabiban, ilmu memperkaya diri dan peramalan. Semua anggapan atas dasar dugaan itu tidak benar.

Sebaliknya, karena ilmu laduni adalah ilmu dari Allah, maka ilmu itu menerangkan cara mengenal, menemui dan mengabdi kepadaNya. Ilmu laduni tidak mengajarkan kesaktian, tetapi menjelaskan cara mengenal dan meyakini keberadaan Allah, Dzat Yang Maha Kuat. Ilmu laduni tidak mengajarkan ketabiban, tetapi menjelaskan tata cara mengenal dan selanjutnya meyakini Allah, Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Ilmu laduni tidak mengajarkan cara mencari kekayaan, tetapi menjelaskan jalan mengenal dan meyakini keberadaan Allah, Dzat Yang Maha Kaya, dan Ilmu laduni tidak mengajarkan ilmu peramalan, tetapi menjelaskan cara meyakini adanya Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui.

2. Pengertian ilmu laduni
Agar mudah memperoleh pengertian dasar ilmu laduni, penulis mencoba mendefinisikan ilmu itu secara umum. Pemahaman tambahan akan dibahas secara bertahap berikut.

Ilmu laduni adalah ilmu yang dianugerahkan Allah, Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk kepada hambaNya melalui berbagai bentuk petunjuk seperti, antara lain bisikan, ilham (Sirr) dan kewaspadaan mata hati. Keterangan ilmu laduni di dalam al Qur’an seperti juga tertera dalam Ensiklopedi Islam (1994) terdapat dalam QS Al Kahfi (18) ayat 65. Dalam Surat itu Allah berfirman: “Fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaa aatainahu rahmatam min ‘indinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa”. Dalam terjemahan kitab Al Qur’an oleh Departemen Agama RI, ayat ini diterjemahkan sebagai berikut:

“Mereka menemukan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang Kami berikan kepadanya rahmat dari Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya suatu ilmu dari sisi Kami.” (QS Al-Kahfi (18) ayat 65)

Laduni diambil dari kata ladunnaa pada ayat di atas (QS Al-Kahfi (18) ayat 65), ladunnaa ‘ilmaa atau ilmu laduni yang biasa juga disebut ilmu dari sisi Allah. Jadi laduni adalah ilmu dari Allah. Keterangan lebih lanjut tentang ayat ini dapat dibaca pada QS Al Kahfi (18) ayat 60 sampai ayat 82. Dalam ayat-ayat itu dikisahkan, kemampuan Nabi Khidir yang atas izin Allah dapat mengenal hal yang tidak diketahui orang banyak. Dalam ayat-ayat itu juga ada pelajaran tentang proses Nabi Musa berlajar kepada Nabi Khidir.

Selanjutnya, walaupun yang disebutkan hamba yang dikehendaki Allah dalam QS Al Kahfi (18) ayat 60 sampai dengan ayat 82 di atas adalah Nabi Khidir as yang oleh karena kenabiannya dipastikan hamba yang beriman, suci dan beramal saleh, namun atas izin Allah, Dzat Yang Maha Kuasa setiap orang dapat menekuni ilmu itu. Yang pasti untuk menekuninya sampai mendapatkan petunjuk langsung dari Allah, ia mesti beriman kepada Allah, bertaubat, mensucikan jiwa, beramal saleh serta selalu memohon petunjukNya. Tidak kalah pentingnya, ia harus menemukan pembimbing.

Dalam mendapatkan petunjuk, Allah tidak membeda-bedakan manusia atas dasar kekayaan, kepangkatan dan keturunan. Sebab, semua perbedaan adalah milikNya. Allah lebih menilik ketakwaan dan kesungguh-an seseorang. Siapa beriman dan bertakwa kepadaNya, Dia menganugerahkan petunjuk pada hatinya.

“…. Sungguh semulia-mulia kamu di sisi Allah adalah yang lebih takwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS Al Hujarat (49) : 13).

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al ‘Ankabut (29) : 69).

“.... Dan siapa beriman kepada Allah, Dia menunjuki hatinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghabun (64) : 11).

Orang yang memperoleh petunjuk melalui hati ini, telah dianugerahi Allah ilmu laduni. Dengan ungkapan lain, ia sudah membuktikan kebenaran dari QS At Taghabun (64) : 11.

3. Tahap menekuni ilmu laduni
Penekunan ilmu laduni dimulai dari pengkajian nilai agama dalam al Qur’an. Keharusan memahami nilai ini sebagai landasan memahami ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah.

Pertama, Seseorang tidak dapat mengenal Dzat Allah dengan benar tanpa memahami al Qur’an yang menjadi pedoman penelusuran keberadaan Dzat Allah tersebut. Setiap orang diperintahkan memahami, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat Allah. Hanya dari al Qur’anlah yang menjelaskan dan meyakinkan tentang keberadaan Dzat Allah.

Pengenalan Dzat Allah dalam menekuni laduni sangat penting, sehingga pengenalanNya diutamakan. Awal dari beragama adalah mengenal Allah. Agar dapat mengenal Allah setiap orang mesti memahami al Qur’an sebagai pedoman, khususnya pedoman mengenaliNya. Seseorang tidak dapat mengenali petunjuk Allah secara langsung tanpa terlebih dahulu memahami dan mengamalkan pedoman yang berupa ayat-ayat dalam kitab al Qur’an. Hal ini disebabkan:

“Sungguh orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (al Qur’an), Allah tidak menunjuki mereka dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS An Nahl (16) : 104).

Semua petunjuk yang disampaikan ke hati mesti dicek kebenarannya dengan membandingkannya dengan ayat-ayat yang ada dalam al Qur’an. Sebab, Allah tidak hanya mengilhamkan kebaikan, tetapi Dia juga mengilhamkan kefasikan. Ketika jiwa dalam keadaan kotor, maka besar kemungkinan petunjuk yang diterima adalah petunjuk ke jalan kefasikan. Oleh sebab itu, mensucikan jiwa dan memelihara kesuciannya menjadi sangat penting.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams (91) : 8 sd 10)

Kedua: Seseorang tidak dapat mengenali dirinya secara benar tanpa memahami al Qur’an. Hanya al Qur’an yang menerangkan jiwa manusia secara jelas. Contoh, Allah menerangkan:

Manusia itu dijadikan dari air hina (QS Al Mursalat (77) : 20).
Manusia itu pembantah yang nyata (QS An Nahl (16) : 4).
Manusia itu berkeluh kesah (QS Al Ma’arij (70) : 19).
Manusia itu tidak bersyukur (QS Al Mu’min (40) : 61).
Manusia itu sombong jika senang dan putus asa tertimpa kesusuhan (QS Al Isra’ (17) : 83).
Manusia itu sangat ingkar (QS Asy Syura (42) : 48).
Manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus (QS Al Qiyamah (75) : 5).
Manusia itu lalai terhadap akhirat (QS Ar Rum (30) : 7).
Manusia itu dijadikan lemah (QS An Nisa’ (4) : 28) dan seterusnya.

Pengenalan diri diperlukan untuk memperbaiki kualitas diri secara terencana, seperti mengikis sifat buruk yang melekat di hati. Pengenalan diri diperlukan juga untuk mempertahankan sifat baik yang telah ada dan membebaskannya dari berbagai keterikatan yang membebani. Selanjutnya pengenalan diri diperlukan untuk mengenal Dzat yang menjadikan manusia. Orang bijak pada masa lalu telah berkata, bahwa agar mengenal Allah, ia mesti mengenal dirinya. Man ‘arafa nafsahuu faqad ‘arafa Rabbahuu. Kenalilah dirimu, supaya kamu mengenal Tuhanmu.

Ketiga: Setiap orang mengalami kesulitan mengenali petunjuk dari Allah secara langsung tanpa melandasi pemahamannya kepada al Qur’an. Allah menunjukkan cara membaca dan memahami serta mengamalkan isi al Qur’an. Tanpa pemahaman yang benar, yakni pemahaman yang dijelaskan dalam al Qur’an itu sendiri, niscaya manusia menjadi lalai, bodoh dan zalim. Sebagai contoh, Manusia diperintahkan agar:
Berlindung kepada Allah sebelum membaca al Qur’an (QS An Nahl (16) : 98),
Membaca al Qur’an dengan perlahan (QS Al Muzzammil (73) : 4),
Memperhatikan waktu yang tepat membaca al Qur’an (QS Al Muzzam-mil (73) : 6 dan 7),
Menggunakan akal (QS Yunus (10) : 100),
Memperhatikan isi al Qur’an (QS Sad (38) : 29) dan sebaginya.

Ketiga alasan yang disebutkan tadi adalah dasar untuk mendapatkan petunjuk Allah. Setiap orang mesti melandasi keyakinannya kepada al Qur’an sebagai pedoman. Tidak ada kitab suci sesempurna al Qur’an yang menjelaskan tentang kehidupan sebelum manusia dilahirkan, sekarang dan nanti. Tidak ada keraguan pada al Qur’an, petunjuk bagi orang yang ingin mencapai derajad takwa.

4. Petunjuk langsung
Petunjuk yang dimohonkan kepada Allah pada setiap saat adalah pemahaman, penghayatan dan pengamalan isi al Qur’an secara benar. Sehingga, saat memahami, menghayati dan menjalankan perintah Allah, kebenaran perintah itu benar-benar dapat dirasakan dan diyakini dengan sepenuh hati. Jadi tujuan yang hendak dicapai melalui ilmu laduni adalah memahami kandungan al Qur’an, tidak hanya dengan menggunakan pikiran tetapi juga dengan menggunakan kalbu agar ayat Allah dapat diselami sampai ke tingkat rasa. Karena:

“Sesungguhnya al Qur'an ini adalah bacaan yang mulia, pada kitab terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba yang disucikan.” (QS Al Waqi’ah (56) : 77, 78 dan 79).

Melalui petunjuk yang benar-benar diyakini karena telah merasakan kebenaran firman Allah, pengabdian kepadaNya menjadi tidak sia-sia. Pengabdian kepada Allah yang selama ini karena kebiasaan ikut-ikutan akhirnya dapat dihindari.

Tingkatan sampai menyentuh isi al Qur’an seperti tertera dalam ayat di atas (QS Al Waqi’ah (56) : 77 sd. 79) bukan sekadar dalam makna sempit, yaitu hanya orang yang berwudu boleh menyentuh kitab al Qur’an. Pemahaman seperti itu tidak untuk diperdebatkan, tetapi makna dari menyentuh melibatkan unsur akal dan rasa. Dalam hal ini, akal membenarkan bahwa al Qur’an adalah benar dan rasapun tersentuh mengakui kebenarannya sampai ke hati paling dalam yang tidak dapat dicapai melalui berwudu. Dengan cara ini, nantinya diharapkan banyak orang yang dapat mengamalkan al Qur’an atas petunjuk Allah, bukan menurut hasil dugaan si A atau si B, sebab hanya Allahlah yang mengajarkan al Qur’an.

“(Tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan al Qur’an. ” (QS Ar Rahman (55) : 1 sd 2)

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai-nya), sesungguhnya atas tanggungan Kamilah yang mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Jika Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS Al Qiyamah (75) : 16 sd 18)

Mesti diyakini jika seseorang memohon petunjuk kepada Allah, niscaya Dia mengabulkan permohonan tersebut, (QS Al Mu’min (40) : 60). Allah akan menyelamatkannya dari kesesatan. Perlu disadari, memohon petunjuk Allah secara langsung bukan hal baru dan mustahil, apalagi bertentanggan dengan ajaran Islam. Shalat istikharah adalah salah satu bentuk permohonan langsung kepada Allah. Masalahnya adalah, bahwa Allah mengabulkan permohonan dan mengaruniakan petunjuk-Nya secara langsung belum dapat diyakini banyak orang. Akibatnya makna permohonan yang senantiasa diajukan kepada Allah setiap rakaat pelaksanaan sholat: Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al Fatihah (1) : 6) dianggap sebagai seremonial, tanpa keyakinan permohonan tersebut akan dijawab.

“Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” (QS Al Fatihah (1) : 5).

“Tuhan kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu. ...” (QS Al Mu’min (40) : 60).

5. Penyucian diri
Tahap berikutnya agar memperoleh petunjuk dari Allah dalam rangka mengenalNya adalah mensucikan diri, baik zahir (jasad) maupun batin (jiwa). Suci secara zahir adalah terhindar dari kotoran pada pakaian, kulit dan daging yang disebabkan memakai pakaian hasil korupsi dan mengkonsumsi makanan yang diharamkan. Suci batin adalah terhindar dari perbuatan keji dan mungkar yang dipicu oleh penyakit yang di dalam dada: dengki, iri, dendam, dan sombong. Suci secara zahir dibersihkan dengan mandi, berwudhu dan mengkonsumsi makanan halal. Suci batin dibersihkan dengan memohon kepada Allah agar jiwa disucikan dan bertaubat.

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya.” (Qs Asy Syams (91) : 9).

Dari ayat ini, perlu dipahami hal-hal, antara lain seperti: keuntungan menyucikan diri, waktu menyucikan diri, cara menyucikan diri, dan siapa melakukan penyucian diri. Secara singkat dapat disampaikan bahwa tujuan menyucikan diri adalah supaya memperoleh petunjuk Allah, sebab hanya diri yang disucikan Allah saja dapat menerima petunjuk yang benar. Jikalau diumpamakan seperti sebuah radio, maka radio yang terpelihara saja yang dapat menerima siaran dari stasiun. Radio rusak tidak dapat menerima siaran kecuali suara bingar.

Tanpa kesucian jiwa, mustahil seseorang mendapatkan petunjuk (QS Al Jatsiyah (45) : 20) dari Allah, khususnya petunjuk yang benar. Sebab petunjuk dari Allah adalah al Qur’an yang sebenar-benar al Qur’an, yaitu ayat-ayat yang berada di dalam dada, (QS Al ‘Ankabut (29) : 49). Sedangkan al Qur’an ini tidak dapat disentuh dalam arti dipahami, kecuali oleh orang yang telah disucikan Allah jiwanya, (QS Al Waqi’ah (56) : 77, 78 dan 79).

“Al Qur’ an adalah pedoman manusia, petunjuk dan rahmat untuk kaum yang meyakini.” (QS Al Jatsiyah (45) : 20).

“Sebenarnya, al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang yang berilmu. .…” (QS Al ‘Ankabut (29) : 49).

“Sungguh al Qur'an ini adalah bacaan yang mulia, pada kitab terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba yang disucikan.” (QS Al Waqi’ah (56) : 77, 78 dan 79).

Dasar beragama adalah kesucian jiwa, tanpa kesucian jiwa beragama hanyalah kepalsuan. Hal ini dapat dilambangkan dengan orang yang akan melaksanakan shalat atau yang akan menghadap Allah dimana ia diharuskan berwudu terlebih dahulu, (QS Al Maidah (5) : 6). Bahkan saat menghadap Allah pun, yaitu saat kematian datang, hanya jiwa yang sucilah yang dapat sampai kepada Allah (QS Asy Syu’ara (26) : 88 dan 89). Sedangkan anak laki-laki dan harta pada saat itu tidak berguna sama sekali.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, ....” (QS Al Maidah (5) : 6).

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy Syu’ara (26) : 88 dan 89)

Berdasarkan pengalaman, banyak ditemukan penekun kajian berorientasikan pencapaian ilmu laduni memulai penekunannya dari niat yang salah. Ia menekuni kajian dengan tujuan ingin mencari kesaktian, mendapatkan jodoh dan mendapatkan kekayaan. Niat seperti ini dapat mengiring si penekun kepada jalan yang bengkok. Niat menekuni ilmu laduni yang benar adalah supaya dapat mengenal Allah dan kemudian mengabdikan diri kepadaNya. Untuk itu, setiap penekun harus terlebih dahulu mengenal dan bertemu Allah. Jika Allah melimpahkan keridhaanNya berupa ilmu kesaktian, ilmu pengobatan dan sebagainya, maka semestinya keistimewaan tersebut diyakini timbul atas kehendakNya karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya.

Menyucikan diri dapat dilaksanakan beriringan dengan bertaubat. Karena bertaubat mesti disegerakan, maka waktu menyucikan diri adalah secepatnya pula, (QS Ali ‘Imran (3) : 133). Penundaan bertaubat dapat berakhir dengan penyesalan tanpa akhir.

“Bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu. ….” (QS Ali ‘Imran (3) : 133).

Niat meyucikan diri dan niat bertaubat dapat dilakukan bersamaan, yakni dengan memohon kepada Allah agar jiwa disucikan dan dosa diampuni. Mensucikan diri dan bertaubat adalah memenuhi seruan Allah untuk kembali ke jalan yang diridhaiNya dan berhenti dari melakukan kekejian dan kemungkaran. Itulah jalan menuju kemenangan dan itu pula tanda dari orang yang senantiasa mengingat Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. ….” (QS At Tahrim (66) : 8).

“Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu ....” (QS Al Hadid (57) : 21).

Penyucian diri diawali dengan niat yang terarah kepada Allah yang ditanamkan ke dalam hati, bahwa si penekun bersungguh-sungguh memohon agar jiwanya disucikan dan setelah itu ia berjanji menjauhkan diri dari semua larangan-Nya seperti: syirik, dusta, zina dan khianat yang dilarang Allah dalam al Qur’an. Dalam menyucikan diri, mesti diyakini bahwa Allah membersihkan jiwa si pemohon dan Allah mengampuni semua kesalahannya. Bahwa Allah mensucikan jiwa harus diyakini dengan sepenuh hati, sebab jika ia tidak meyakini Allah Maha Pengampun, permohonan ampunannya sia-sia. Hal ini adalah suatu kesalahan besar, yakni pengingkaran ayat Allah. Harus pula diyakini, taubat murni tidak untuk dipermainkan. Sekali bertaubat, taubat tersebut adalah untuk selama-lamanya sampai detik terakhir kehidupan di dunia.

“Sungguh orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah lagi kekafirannya, niscaya tidak diterima taubatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat” (QS Ali ‘Imran (3) : 90).

Sebagai kesimpulan, menekuni laduni melalui tahapan: (1) Niat mengenal Allah dan mendapatkan petunjuk cara mengabdikan diri kepadaNya. (2) Memahami nilai-nilai agama di dalam al Qur’an. (3) Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, sebab setan selalu mengintai orang yang lengah. (4) Melakukan pember-sihan diri dan bertaubat dengan selalu memohon kepada Allah. (5) Bersyukur yang diwujudkan dengan berjihad harta dan jiwa. (6) Meningkatkan ketakwaan dengan beramal saleh dan meninggalkan larangan Allah. (7) Melaksanakan sholat tahajud sebagai ibadah tambahan. (8) Tafakur mengevaluasi diri sendiri serta memahami kebesaran, keindahan dan kemuliaan Allah.


Top of Form

2 komentar:

  1. Blog Pak Mul ini bisa di perbaiki Templetnya Pak agar Tampilanya menarik.

    BalasHapus
  2. Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com

    Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
    -Situs Aman dan Terpercaya.
    - Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
    - Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
    - Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
    - Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
    -Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
    - 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI

    8 Permainan Dalam 1 ID :
    Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66

    Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
    BBM: 2AD05265
    WA: +855968010699
    Skype: smsqqcom@gmail.com

    BalasHapus