1. Pendahuluan
Di sini dibahas gambaran umum ilmu
laduni. Tujuan pembahasan, selain untuk menjelaskan persoalan yang banyak
ditanyakan belakangan ini, juga untuk menjelaskan secara selintas gambaran ilmu
yang amat langka ini. Istilah laduni bagi masyarakat awam mungkin masih
terdengar asing, tetapi tidak bagi para penekun tasawuf, sebab tujuan tasawuf
adalah untuk meraih ilmu laduni. Kelangkaan literatur telah menyebabkan ilmu
ini tidak dikenal masyarakat. Kalaupun ada yang membahas ilmu laduni, kebanyakan
buku tersebut hanya membicarakan keberadaan ilmu laduni di antara ilmu-ilmu
lain.
Disebabkan keterbatasan informasi, bagi
yang mengenal ilmu laduni secara sepintas tidak tertutup kemungkinan timbul
berbagai anggapan salah terhadap ilmu ini. Ada yang beranggapan, ilmu laduni
adalah ilmu langka yang sulit ditekuni. Bahkan, tidak sedikit yang beranggapan
laduni hanya untuk kalangan tertentu, yaitu bagi orang yang berusia lanjut dan
meninggalkan kehidupan dunia. Selain itu, ketidaktahuan telah menimbulkan anggapan
ilmu laduni sebagai ilmu yang mempelajari kesaktian, ketabiban, ilmu memperkaya
diri dan peramalan. Semua anggapan atas dasar dugaan itu tidak benar.
Sebaliknya, karena ilmu laduni adalah
ilmu dari Allah, maka ilmu itu menerangkan cara mengenal, menemui dan mengabdi
kepadaNya. Ilmu laduni tidak mengajarkan kesaktian, tetapi menjelaskan cara
mengenal dan meyakini keberadaan Allah, Dzat Yang Maha Kuat. Ilmu laduni tidak
mengajarkan ketabiban, tetapi menjelaskan tata cara mengenal dan selanjutnya
meyakini Allah, Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Ilmu laduni tidak mengajarkan cara
mencari kekayaan, tetapi menjelaskan jalan mengenal dan meyakini keberadaan
Allah, Dzat Yang Maha Kaya, dan Ilmu laduni tidak mengajarkan ilmu peramalan,
tetapi menjelaskan cara meyakini adanya Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui.
2. Pengertian ilmu laduni
Agar mudah memperoleh pengertian dasar
ilmu laduni, penulis mencoba mendefinisikan ilmu itu secara umum. Pemahaman
tambahan akan dibahas secara bertahap berikut.
Ilmu laduni adalah ilmu yang
dianugerahkan Allah, Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk kepada hambaNya melalui
berbagai bentuk petunjuk seperti, antara lain bisikan, ilham (Sirr) dan
kewaspadaan mata hati. Keterangan ilmu laduni di dalam al Qur’an seperti juga
tertera dalam Ensiklopedi Islam (1994) terdapat dalam QS Al Kahfi (18) ayat 65.
Dalam Surat itu Allah berfirman: “Fa
wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaa aatainahu rahmatam min ‘indinaa wa ‘allamnaahu
mil ladunnaa ‘ilmaa”. Dalam terjemahan kitab Al Qur’an oleh Departemen
Agama RI, ayat ini diterjemahkan sebagai berikut:
“Mereka menemukan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang Kami berikan
kepadanya rahmat dari Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya suatu ilmu dari
sisi Kami.” (QS Al-Kahfi (18) ayat 65)
Laduni diambil dari kata ladunnaa pada ayat di atas (QS Al-Kahfi
(18) ayat 65), ladunnaa ‘ilmaa atau
ilmu laduni yang biasa juga disebut ilmu dari sisi Allah. Jadi laduni adalah
ilmu dari Allah. Keterangan lebih lanjut tentang ayat ini dapat dibaca pada QS
Al Kahfi (18) ayat 60 sampai ayat 82. Dalam ayat-ayat itu dikisahkan, kemampuan
Nabi Khidir yang atas izin Allah dapat mengenal hal yang tidak diketahui orang
banyak. Dalam ayat-ayat itu juga ada pelajaran tentang proses Nabi Musa
berlajar kepada Nabi Khidir.
Selanjutnya, walaupun yang disebutkan
hamba yang dikehendaki Allah dalam QS Al Kahfi (18) ayat 60 sampai dengan ayat
82 di atas adalah Nabi Khidir as yang oleh karena kenabiannya dipastikan hamba
yang beriman, suci dan beramal saleh, namun atas izin Allah, Dzat Yang Maha
Kuasa setiap orang dapat menekuni ilmu itu. Yang pasti untuk menekuninya sampai
mendapatkan petunjuk langsung dari Allah, ia mesti beriman kepada Allah,
bertaubat, mensucikan jiwa, beramal saleh serta selalu memohon petunjukNya.
Tidak kalah pentingnya, ia harus menemukan pembimbing.
Dalam mendapatkan petunjuk, Allah tidak
membeda-bedakan manusia atas dasar kekayaan, kepangkatan dan keturunan. Sebab,
semua perbedaan adalah milikNya. Allah lebih menilik ketakwaan dan kesungguh-an
seseorang. Siapa beriman dan bertakwa kepadaNya, Dia menganugerahkan petunjuk
pada hatinya.
“…. Sungguh semulia-mulia kamu di sisi Allah adalah yang lebih takwa di
antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS Al Hujarat (49) :
13).
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan Allah beserta orang-orang yang
berbuat baik.” (QS Al ‘Ankabut (29) : 69).
“.... Dan siapa beriman kepada Allah, Dia menunjuki hatinya. Dan Allah
mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghabun (64) : 11).
Orang yang memperoleh petunjuk melalui
hati ini, telah dianugerahi Allah ilmu laduni. Dengan ungkapan lain, ia sudah
membuktikan kebenaran dari QS At Taghabun (64) : 11.
3. Tahap menekuni ilmu laduni
Penekunan ilmu laduni dimulai dari
pengkajian nilai agama dalam al Qur’an. Keharusan memahami nilai ini sebagai
landasan memahami ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah.
Pertama, Seseorang tidak dapat mengenal Dzat Allah dengan benar tanpa memahami al
Qur’an yang menjadi pedoman penelusuran keberadaan Dzat Allah tersebut. Setiap
orang diperintahkan memahami, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat Allah. Hanya dari
al Qur’anlah yang menjelaskan dan meyakinkan tentang keberadaan Dzat Allah.
Pengenalan Dzat Allah dalam menekuni
laduni sangat penting, sehingga pengenalanNya diutamakan. Awal dari beragama
adalah mengenal Allah. Agar dapat mengenal Allah setiap orang mesti memahami al
Qur’an sebagai pedoman, khususnya pedoman mengenaliNya. Seseorang tidak dapat
mengenali petunjuk Allah secara langsung tanpa terlebih dahulu memahami dan
mengamalkan pedoman yang berupa ayat-ayat dalam kitab al Qur’an. Hal ini
disebabkan:
“Sungguh orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (al Qur’an),
Allah tidak menunjuki mereka dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS An Nahl (16) :
104).
Semua petunjuk yang disampaikan ke hati
mesti dicek kebenarannya dengan membandingkannya dengan ayat-ayat yang ada
dalam al Qur’an. Sebab, Allah tidak hanya mengilhamkan kebaikan, tetapi Dia
juga mengilhamkan kefasikan. Ketika jiwa dalam keadaan kotor, maka besar
kemungkinan petunjuk yang diterima adalah petunjuk ke jalan kefasikan. Oleh
sebab itu, mensucikan jiwa dan memelihara kesuciannya menjadi sangat penting.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kefasikan dan ketakwaan.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa. Dan sungguh merugi orang
yang mengotorinya.” (QS Asy Syams (91) : 8 sd 10)
Kedua: Seseorang tidak dapat mengenali dirinya secara benar tanpa memahami al
Qur’an. Hanya al Qur’an yang menerangkan jiwa manusia secara jelas. Contoh,
Allah menerangkan:
Manusia itu dijadikan dari air hina (QS Al Mursalat (77) : 20).
Manusia itu pembantah yang nyata (QS An Nahl (16) : 4).
Manusia itu berkeluh kesah (QS Al Ma’arij (70) : 19).
Manusia itu tidak bersyukur (QS Al Mu’min (40) : 61).
Manusia itu sombong jika senang dan putus asa tertimpa kesusuhan (QS Al Isra’ (17) :
83).
Manusia itu sangat ingkar (QS Asy Syura (42) : 48).
Manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus (QS Al Qiyamah (75) :
5).
Manusia itu lalai terhadap akhirat (QS Ar Rum (30) : 7).
Manusia itu dijadikan lemah (QS An Nisa’ (4) : 28) dan seterusnya.
Pengenalan diri diperlukan untuk
memperbaiki kualitas diri secara terencana, seperti mengikis sifat buruk yang
melekat di hati. Pengenalan diri diperlukan juga untuk mempertahankan sifat
baik yang telah ada dan membebaskannya dari berbagai keterikatan yang
membebani. Selanjutnya pengenalan diri diperlukan untuk mengenal Dzat yang
menjadikan manusia. Orang bijak pada masa lalu telah berkata, bahwa agar
mengenal Allah, ia mesti mengenal dirinya. Man ‘arafa nafsahuu faqad ‘arafa
Rabbahuu. Kenalilah dirimu, supaya kamu mengenal Tuhanmu.
Ketiga: Setiap orang mengalami kesulitan mengenali petunjuk dari Allah secara
langsung tanpa melandasi pemahamannya kepada al Qur’an. Allah menunjukkan cara
membaca dan memahami serta mengamalkan isi al Qur’an. Tanpa pemahaman yang
benar, yakni pemahaman yang dijelaskan dalam al Qur’an itu sendiri, niscaya
manusia menjadi lalai, bodoh dan zalim. Sebagai contoh, Manusia diperintahkan
agar:
Berlindung kepada Allah sebelum membaca
al Qur’an (QS An Nahl (16) : 98),
Membaca al Qur’an dengan perlahan (QS Al
Muzzammil (73) : 4),
Memperhatikan waktu yang tepat membaca
al Qur’an (QS Al Muzzam-mil (73) : 6 dan 7),
Menggunakan akal (QS Yunus (10) : 100),
Memperhatikan isi al Qur’an (QS Sad (38)
: 29) dan sebaginya.
Ketiga alasan yang disebutkan tadi
adalah dasar untuk mendapatkan petunjuk Allah. Setiap orang mesti melandasi
keyakinannya kepada al Qur’an sebagai pedoman. Tidak ada kitab suci sesempurna
al Qur’an yang menjelaskan tentang kehidupan sebelum manusia dilahirkan,
sekarang dan nanti. Tidak ada keraguan pada al Qur’an, petunjuk bagi orang yang
ingin mencapai derajad takwa.
4. Petunjuk langsung
Petunjuk yang dimohonkan kepada Allah
pada setiap saat adalah pemahaman, penghayatan dan pengamalan isi al Qur’an
secara benar. Sehingga, saat memahami, menghayati dan menjalankan perintah
Allah, kebenaran perintah itu benar-benar dapat dirasakan dan diyakini dengan
sepenuh hati. Jadi tujuan yang hendak dicapai melalui ilmu laduni adalah memahami
kandungan al Qur’an, tidak hanya dengan menggunakan pikiran tetapi juga dengan
menggunakan kalbu agar ayat Allah dapat diselami sampai ke tingkat rasa.
Karena:
“Sesungguhnya
al Qur'an ini adalah bacaan yang mulia, pada kitab terpelihara (Lauh Mahfuzh),
tidak menyentuhnya kecuali hamba yang disucikan.” (QS Al Waqi’ah (56) : 77,
78 dan 79).
Melalui petunjuk yang benar-benar
diyakini karena telah merasakan kebenaran firman Allah, pengabdian kepadaNya
menjadi tidak sia-sia. Pengabdian kepada Allah yang selama ini karena kebiasaan
ikut-ikutan akhirnya dapat dihindari.
Tingkatan sampai menyentuh isi al Qur’an
seperti tertera dalam ayat di atas (QS Al Waqi’ah (56) : 77 sd. 79) bukan
sekadar dalam makna sempit, yaitu hanya orang yang berwudu boleh menyentuh
kitab al Qur’an. Pemahaman seperti itu tidak untuk diperdebatkan, tetapi makna
dari menyentuh melibatkan unsur akal dan rasa. Dalam hal ini, akal membenarkan
bahwa al Qur’an adalah benar dan rasapun tersentuh mengakui kebenarannya sampai
ke hati paling dalam yang tidak dapat dicapai melalui berwudu. Dengan cara ini,
nantinya diharapkan banyak orang yang dapat mengamalkan al Qur’an atas petunjuk
Allah, bukan menurut hasil dugaan si A atau si B, sebab hanya Allahlah yang
mengajarkan al Qur’an.
“(Tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan al Qur’an. ” (QS Ar Rahman (55)
: 1 sd 2)
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al Qur’an karena hendak
cepat-cepat (menguasai-nya), sesungguhnya atas tanggungan Kamilah yang
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Jika Kami telah
selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas
tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS Al Qiyamah (75) : 16 sd 18)
Mesti diyakini jika seseorang memohon
petunjuk kepada Allah, niscaya Dia mengabulkan permohonan tersebut, (QS Al
Mu’min (40) : 60). Allah akan menyelamatkannya dari kesesatan. Perlu disadari,
memohon petunjuk Allah secara langsung bukan hal baru dan mustahil, apalagi
bertentanggan dengan ajaran Islam. Shalat istikharah adalah salah satu bentuk
permohonan langsung kepada Allah. Masalahnya adalah, bahwa Allah mengabulkan
permohonan dan mengaruniakan petunjuk-Nya secara langsung belum dapat diyakini
banyak orang. Akibatnya makna permohonan yang senantiasa diajukan kepada Allah
setiap rakaat pelaksanaan sholat: Tunjukilah
kami jalan yang lurus (QS Al Fatihah (1) : 6) dianggap sebagai seremonial,
tanpa keyakinan permohonan tersebut akan dijawab.
“Hanya
kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.”
(QS Al Fatihah (1) : 5).
“Tuhan kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.
...” (QS Al Mu’min (40) : 60).
5. Penyucian diri
Tahap berikutnya agar memperoleh
petunjuk dari Allah dalam rangka mengenalNya adalah mensucikan diri, baik zahir
(jasad) maupun batin (jiwa). Suci secara zahir adalah terhindar dari kotoran
pada pakaian, kulit dan daging yang disebabkan memakai pakaian hasil korupsi
dan mengkonsumsi makanan yang diharamkan. Suci batin adalah terhindar dari
perbuatan keji dan mungkar yang dipicu oleh penyakit yang di dalam dada:
dengki, iri, dendam, dan sombong. Suci secara zahir dibersihkan dengan mandi,
berwudhu dan mengkonsumsi makanan halal. Suci batin dibersihkan dengan memohon
kepada Allah agar jiwa disucikan dan bertaubat.
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya.” (Qs Asy Syams (91) :
9).
Dari ayat ini, perlu dipahami hal-hal,
antara lain seperti: keuntungan menyucikan diri, waktu menyucikan diri, cara
menyucikan diri, dan siapa melakukan penyucian diri. Secara singkat dapat
disampaikan bahwa tujuan menyucikan diri adalah supaya memperoleh petunjuk
Allah, sebab hanya diri yang disucikan Allah saja dapat menerima petunjuk yang
benar. Jikalau diumpamakan seperti sebuah radio, maka radio yang terpelihara
saja yang dapat menerima siaran dari stasiun. Radio rusak tidak dapat menerima
siaran kecuali suara bingar.
Tanpa kesucian jiwa, mustahil seseorang
mendapatkan petunjuk (QS Al Jatsiyah (45) : 20) dari Allah, khususnya petunjuk
yang benar. Sebab petunjuk dari Allah adalah al Qur’an yang sebenar-benar al
Qur’an, yaitu ayat-ayat yang berada di dalam dada, (QS Al ‘Ankabut (29) : 49).
Sedangkan al Qur’an ini tidak dapat disentuh dalam arti dipahami, kecuali oleh
orang yang telah disucikan Allah jiwanya, (QS Al Waqi’ah (56) : 77, 78 dan 79).
“Al Qur’ an adalah pedoman manusia, petunjuk dan rahmat untuk kaum yang
meyakini.” (QS Al Jatsiyah (45) : 20).
“Sebenarnya, al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang
yang berilmu. .…” (QS Al ‘Ankabut (29) : 49).
“Sungguh al Qur'an ini adalah bacaan yang mulia, pada kitab terpelihara
(Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba yang disucikan.” (QS Al Waqi’ah (56) :
77, 78 dan 79).
Dasar beragama adalah kesucian jiwa,
tanpa kesucian jiwa beragama hanyalah kepalsuan. Hal ini dapat dilambangkan
dengan orang yang akan melaksanakan shalat atau yang akan menghadap Allah
dimana ia diharuskan berwudu terlebih dahulu, (QS Al Maidah (5) : 6). Bahkan
saat menghadap Allah pun, yaitu saat kematian datang, hanya jiwa yang sucilah
yang dapat sampai kepada Allah (QS Asy Syu’ara (26) : 88 dan 89). Sedangkan
anak laki-laki dan harta pada saat itu tidak berguna sama sekali.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, ....” (QS Al Maidah (5) :
6).
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy Syu’ara (26)
: 88 dan 89)
Berdasarkan pengalaman, banyak ditemukan
penekun kajian berorientasikan pencapaian ilmu laduni memulai penekunannya dari
niat yang salah. Ia menekuni kajian dengan tujuan ingin mencari kesaktian,
mendapatkan jodoh dan mendapatkan kekayaan. Niat seperti ini dapat mengiring si
penekun kepada jalan yang bengkok. Niat menekuni ilmu laduni yang benar adalah
supaya dapat mengenal Allah dan kemudian mengabdikan diri kepadaNya. Untuk itu,
setiap penekun harus terlebih dahulu mengenal dan bertemu Allah. Jika Allah
melimpahkan keridhaanNya berupa ilmu kesaktian, ilmu pengobatan dan sebagainya,
maka semestinya keistimewaan tersebut diyakini timbul atas kehendakNya karena
Dia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya.
Menyucikan diri dapat dilaksanakan
beriringan dengan bertaubat. Karena bertaubat mesti disegerakan, maka waktu
menyucikan diri adalah secepatnya pula, (QS Ali ‘Imran (3) : 133). Penundaan
bertaubat dapat berakhir dengan penyesalan tanpa akhir.
“Bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu. ….” (QS Ali ‘Imran (3) :
133).
Niat meyucikan diri dan niat bertaubat
dapat dilakukan bersamaan, yakni dengan memohon kepada Allah agar jiwa
disucikan dan dosa diampuni. Mensucikan diri dan bertaubat adalah memenuhi seruan
Allah untuk kembali ke jalan yang diridhaiNya dan berhenti dari melakukan
kekejian dan kemungkaran. Itulah jalan menuju kemenangan dan itu pula tanda
dari orang yang senantiasa mengingat Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya. ….” (QS At Tahrim (66) : 8).
“Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu ....” (QS Al Hadid
(57) : 21).
Penyucian diri diawali dengan niat yang
terarah kepada Allah yang ditanamkan ke dalam hati, bahwa si penekun
bersungguh-sungguh memohon agar jiwanya disucikan dan setelah itu ia berjanji
menjauhkan diri dari semua larangan-Nya seperti: syirik, dusta, zina dan
khianat yang dilarang Allah dalam al Qur’an. Dalam menyucikan diri, mesti
diyakini bahwa Allah membersihkan jiwa si pemohon dan Allah mengampuni semua
kesalahannya. Bahwa Allah mensucikan jiwa harus diyakini dengan sepenuh hati,
sebab jika ia tidak meyakini Allah Maha Pengampun, permohonan ampunannya
sia-sia. Hal ini adalah suatu kesalahan besar, yakni pengingkaran ayat Allah.
Harus pula diyakini, taubat murni tidak untuk dipermainkan. Sekali bertaubat,
taubat tersebut adalah untuk selama-lamanya sampai detik terakhir kehidupan di
dunia.
“Sungguh orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah lagi
kekafirannya, niscaya tidak diterima taubatnya, dan mereka itulah orang-orang
yang sesat” (QS Ali ‘Imran (3) : 90).
Sebagai kesimpulan, menekuni laduni
melalui tahapan: (1) Niat mengenal Allah dan mendapatkan petunjuk cara
mengabdikan diri kepadaNya. (2) Memahami nilai-nilai agama di dalam al Qur’an.
(3) Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, sebab setan selalu
mengintai orang yang lengah. (4) Melakukan pember-sihan diri dan bertaubat
dengan selalu memohon kepada Allah. (5) Bersyukur yang diwujudkan dengan
berjihad harta dan jiwa. (6) Meningkatkan ketakwaan dengan beramal saleh dan
meninggalkan larangan Allah. (7) Melaksanakan sholat tahajud sebagai ibadah
tambahan. (8) Tafakur mengevaluasi diri sendiri serta memahami kebesaran, keindahan
dan kemuliaan Allah.
Blog Pak Mul ini bisa di perbaiki Templetnya Pak agar Tampilanya menarik.
BalasHapusMenangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
BalasHapusKelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com