Rabu, 01 Februari 2017

BERTAUBAT DAN MENSUCIKAN DIRI

A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim Bismillaahir rahmaanir rahiim

“ … . Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan orang-orang yang mensucikan dirinya”
(Surat Al Baqarah (2) : 222).

Pendahuluan
Potongan ayat dari Surat Al Baqarah di atas berisi dua hal penting. Pertama bertaubat dan yang kedua mensucikan diri. Dikatakan penting karena keduanya merupakan perbuatan yang disukai Allah. Sedangkan mengerjakan perbuatan baik, apalagi perbuatan tersebut disukai Allah adalah suatu keutamaan dalam mengabdi kepadaNya. Bertaubat dan mensucikan diri tidak persis sama. Pada dasarnya, bertaubat itu menghentikan perbuatan yang dilarang apalagi dimurkai Allah. Sedangkan mensucikan diri adalah memohon kepada Allah agar disucikanNya dari perbuatan buruk yang telah atau terlanjur dikerjakan dan memohon disucikan pula dari bibit penyakit di dalam hati yang selalu memicu keinginan untuk berbuat buruk.

Walaupun antara bertaubat dan mensucikan diri itu terdapat beberapa perbedaan, namun pada perbedaan tersebut terdapat hubungan yang berkait. Bertaubat tanpa mensucikan diri dan sebaliknya mensucikan diri tanpa bertaubat tidak menghasilkan kesempurnaan peribadatan. Dengan kata lain, orang yang mensucikan diri mesti menghentikan perbuatan buruk yang pernah dikerjakan. Sebaliknya, tidak ada proses taubat tanpa kesucian diri. Dalam upaya mendapatkan petunjuk Allah agar dapat lebih mengenalNya, maka bertaubat dan mensucikan diri adalah suatu keharusan. Keharusan ini disebabkan bertaubat dan mensucikan diri adalah langkah awal untuk mengenal Allah.

Karena Allah itu Dzat Yang Maha Suci, maka Dia hanya dapat dicapai melalui kesucian diri. Bahkan firmanNya, yakni Al Qur’an yang berisikan keterangan tentang Allah pun hanya dapat dipahami oleh orang yang mensucikan diri. “Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali hamba yang disucikan” (Surat Al Waaqi’ah (56) : 77 sd. 79). Ayat ini dapat dipahami, bahwa hanya orang yang dibersihkan hatinyalah yang dikaruniai kemampuan untuk memahami mutiara hikmah yang terkandung di dalam Al Qur’an. Sebab, al Qur’an tidak bermanfaat bagi orang yang jiwanya telah mati. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih” (Surat An Nahl 16 : 104). “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu dibacakan kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur’an itu kitab yang mulia” (Surat Fussilat (41) : 41). “Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Surat Muhammad (47) : 24).

Membaca diri
Bertaubat dan mensucikan diri mesti diawali dengan membaca diri sendiri, bukan membaca diri orang lain. Sebab, jika setiap orang mengevaluasi dirinya secara benar, (Surat Al-Israa’ (17) : 14) dengan berpedoman kepada Al Qur’an, maka masing-masing diri akan menyadari bahwa tidak seorang pun manusia itu terbebas dari perbuatan keji dan mungkar selama-lamanya (Surat An Nuur (24) : 21). Sedangkan perbuatan keji dan mungkar yang dibenci Allah dipicu oleh penyakit pada hati seperti: riya, iri, sombong, dengki, kikir, dan lalai. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” (Surat Al-Israa’ (17) : 14). “…. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. ….” (Surat An-Nuur (24) : 21).

Makna taubat
Topik tentang taubat, khususnya himbauan agar manusia berhenti dari mengerjakan kesalahan yang pernah diperbuatnya telah banyak dituliskan dalam berbagai buku agama. Disini hanya akan diuraikan makna taubat dengan cara sederhana agar mudah dipahami. Taubat itu bukan hasil rekayasa para ulama untuk menakuti umat, tetapi memang telah dijelaskan Allah melalui ayat-ayatNya di dalam Al Qur’an. “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya ….” (Surat At-Tahrim (66) : 8). “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu.” (Surat Ali-‘Imraan (3) : 133). “Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu. ...” (Surat Al-Hadid (57) : 21).

Allah menjadikan manusia bersifat lemah (Surat An Nisaa (4) : 28). Dengan sifatnya yang demikian itu manusia tidak mungkin terlepas dari berbagai kesalahan. Oleh sebab itu, ampunan yang dijanjikan Allah untuk orang yang mau bertaubat dari kesalahan dengan sendirinya menjadi suatu karunia yang amat besar. Dengan kata lain, taubat adalah untuk para pendosa yang memohon ampunan Allah dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya. Sebaliknya, orang yang merasa bersih sulit memperoleh ampunan Allah. Nabi Muhammad S.a.w, sosok manusia bersih dari dosa telah mencontohkan bahwa beliau pun memohon ampunan untuk dirinya. Adapun maksud dari kata semurni-murninya pada Surat At-Tahrim (66) : 8 yang dikutip di atas adalah bahwa bertaubat bukan sekadar untuk tujuan senda gurau belaka, tetapi untuk dikerjakan dengan bersungguh-sungguh.

Selain itu, taubat mesti dipertahankan terus-menerus selagi hayat masih dikandung badan, yaitu ketika Allah, Dzat Yang Hidup Kekal masih mengaruniai kehidupan kepada setiap jasad. Taubat dimaksud bukanlah taubat sambal yang dikerjakan ketika seseorang sedang kepedasan. Pada taubat sambal, janji tidak dilakukan dengan sepenuh hati dan janji itupun tidak jelas tujuannya. Setelah rasa pedas hilang, berakhir pula masa taubat tersebut. Taubat seperti itu bukan taubat murni. Sekali bertaubat, maka taubat tersebut adalah untuk selama-lamanya.

Taubat nashuuha
Bertaubat diawali dengan ikrar setiap diri dengan sepenuh hati secara langsung kepada Allah, Dzat Yang Maha Mendengar, Maha Pengampun dan Maha Dekat. Selanjutnya bertaubat mesti dengan niat untuk kembali ke jalan Allah, yaitu jalan yang lurus. Setiap diri atau jiwa berjanji kepadaNya bahwa ia tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dikerjakan. Setiap orang yang bertaubat mesti menyesali perbuatan buruk yang pernah dikerjakannya dan berjanji akan selalu mengerjakan amal saleh. Inilah taubat yang sebenar-benarnya sebagaimana difirmankan Allah dan dapat ditelusuri di dalam Al Qur’an: “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya,” (Surat Al Furqaan (25) : 71).

Taubat mesti dikerjakan sesegera mungkin, sebab taubat yang dilakukan setelah Ruh berpisah dengan jasad adalah taubat penyesalan. Taubat yang demikian tidak bergunasama sekali. Tidak sedikit orang berjanji akan bertaubat setelah ia pensiun dari pekerjaannya atau setelah memperoleh kekayaan. Rencana taubat demikian hanyalah untuk manusia yang sombong dan lalai, yakni orang yang sangat meyakini bahwa ia masih dikaruniai kehidupan dan sempat bertaubat setelah pensiun atau setelah menjadi kaya. Padahal manusia tidak mengetahui kejadian satu menit di hadapannya. Taubat hendaknya dilakukan seperti orang lapar mengharapkan nasi, orang haus mengharapkan air atau orang mengantuk mengharapkan bantal. Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu. …” (Surat Ali-‘Imraan (3) : 133). “Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu. ...” (Surat Al-Hadid (57) : 21).

Dengan pembahasan di atas, maka: (1) bertaubat adalah permohonan ampunan kepada Allah atas kesalahan yang pernah dikerjakan, (2) bertaubat dikerjakan secara langsung tanpa perantara, (3) pelaksanaan taubat harus disegerakan, (4) penangguhan taubat adalah tindakan nekat, bodoh dan sombong serta lalai, (5) bertaubat hanya untuk orang yang menyadari bahwa dirinya berdosa, (6) beraubat mesti dibuktikan dengan perubahan perbuatan ke arah yang lebih baik. “Dan siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat An-Nisaa’ (4) : 110).

Dari bahasa asalnya, bertaubat berarti kembali. Orang yang bertaubat adalah orang yang kembali, yakni kembali ke jalan Allah dari melakukan perbuatan tercela. Dengan kata lain, orang yang bertaubat itu berjanji tidak mengulangi perbuatan dilarang yang pernah dikerjakannya. Janji merupakan salah satu syarat taubat. Selain itu, taubat diawali dengan penyesalan telah berbuat salah. Dan rasa bersalah tersebut timbul sebagai hasil dari membaca kitab diri sendiri. Syarat taubat yang lain adalah kesungguhan (Surat At Tahrim (66) : 8). Janji taubat cukup diikrar di dalam hati, karena Allah mengetahui apa saja yang dibisikkan di dalam hati (Surat Qaaf (50) : 16).

Makna mensucikan diri
Manusia selamanya tidak mampu mensucikan dirinya. Oleh sebab itu, mensucikan diri adalah memohon kepada Allah agar dirinya dibersihkan dari penyakit pada hati. Penyakit tersebut antara lain: sombong, dengki, iri, riya, kikir, lalai dan sebagainya yang dapat menghijab seseorang dari memperoleh petunjuk Allah. Apabila diri seseorang telah bersih, maka Allah menguatkan imannya. “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu, niscaya Kuperkenankan bagimu ….” (Surat Al-Mu’min (40) : 60).

Kata diri dalam bahasan ini bukan ditujukan kepada jasad, tetapi lebih ditekankan pada jiwa. Jadi, diri dalam konteks ini sama dengan jiwa. Bahwa jasad harus bersih memang tidak untuk disangkal. Jiwa yang bersih adalah jiwa orang yang beriman dan bertakwa. Orang seperti ini selalu memohon kepada Allah supaya jiwanya selalu disucikan, sehingga ia menjadi orang beruntung, (Surat Asy-Syams (91) : 9). Keuntungan dari membersihkan jiwa itu amat banyak. Salah satu diantaranya adalah bahwa Allah akan menunjuki hatinya, (Surat At Tagaabun (64) : 11). Dengan hati yang mendapat petunjuk itu manusia dapat mengenal Tuhannya dan dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Kata jiwa dalam pengelompokkannya disebut juga hati. Namun hati itu bukanlah sepotong daging yang berada di dalam dada. Tepatnya hati tersebut adalah kalbu. Jika diri, jiwa atau hati seseorang dalam keadaan kotor, maka akan sulit baginya untuk menerima petunjuk dari Allah, yaitu petunjuk tentang kebenaran. Sebab, petunjuk yang benar itu hanya datang dari Allah, Dzat Yang Maha Benar. Dzat Yang Maha Suci hanya dapat dirasakan keberadaanNya melalui kesucian jiwa. Dia tidak mungkin dicapai dengan jiwa yang kotor. Dzat Yang Maha Benar hanya dapat dirasakan keberadaanNya dengan cara beragama benar. Allah tidak mungkin dicapai dengan kemunafikan.

“.... Dan Allah menyukai orang-orang yang selalu mensucikan diri” (Surat At-Taubah (9) : 108).

“Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya” (Surat Asy-Syams (91) : 9)

“…. Dan siapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan dirinya untuk kebaikan dirinya sendiri. …” (Surat Faatir (35) : 18).

Batasan bertaubat dan mensucikan diri
Bertaubat dan mensucikan diri tidak persis sama. Untuk memahami batasan antara keduanya berikut akan digunakan ilustrasi. Apabila seseorang yang pada saat ini berusia 40 tahun bertaubat, maka mulai sejak saat itu sampai diwafatkan ia tidak mengulangi perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Taubat dimaksud adalah taubat murni (Surat At Tahrim (66) : 8), yakni lawan dari taubat sambal. Namun demikian, dapat dipastikan bahwa sebelum mencapai umur 40 atau sebelum bertaubat, orang itu pernah berbuat keji dan mungkar (Surat An Nuur (24) : 31) yang dipicu oleh penyakit di dalam hatinya. Oleh sebab itu, selain bertaubat orang ini masih perlu mensucikan dirinya dari penyebab perbuatan maksiat yang pernah diperbuatnya. Jadi mensucikan diri itu memohon kepada Allah agar penyakit di dalam hatinya dibersihkan. Jika benih penyakit tersebut tidak dibersihkan, maka ia akan menjadi penghalang bagi setiap orang untuk berhubungan dengan Allah, Dzat Yang Maha Suci. Dengan kata lain, bertaubat bertorientasi ke depan, yakni berjanji kepada Allah untuk tidak mengulangi perbuatan yang dilarang apalagi dimurkaiNya. Sedangkan mensucikan diri selain berorientasi ke depan, juga ke belakang. Memohon kepada Allah agar disucikan dari penyakit yang bersarang dalam hati akan berdampak positif ke depan, namun penyakit itu sendiri adalah hasil dari perbuatan masa lalu.

Tanpa memohon pertolongan Allah agar diri disucikan dari penyakit pada hati, maka akan sulit bagi seseorang untuk mempertahankan taubat yang pernah ia ikrarkan, karena penyakit ini akan selalu menjadi pemicu untuk kembali berbuat jahat. Dengan pemahaman demikian, maka hasil dari bertaubat adalah memperoleh ampunan atas dosa masa yang akan datang. Karena, orang yang bersungguh-sungguh dengan taubatnya tidak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi. Sedangkan hasil dari mensucikan diri adalah diampuninya dosa masa lalu dan dibersihkan dari penyakit pemicu kejahatan. Hal ini dijelaskan di dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat” (Surat Al-Fath (48) : 1, 2 dan 3).

Contoh lain, apabila orang berdosa diumpamakan sebuah gelas kotor, maka agar gelas tersebut dapat diisi dengan air bening ia mesti dicuci sampai bersih terlebih dahulu. Tanpa mencuci gelas, air yang dituangkan ke dalam gelas tersebut akan menjadi keruh. Dalam hal ini, kotoran pada gelas adalah perumpamaan benih penyakit di dalam hati yang tidak dapat dicampur dengan amal saleh yang diumpamakan air bening. Dari contoh ini nyata bahwa yang kotor tidak patut dicampur dengan yang bening. Di dalam Al Qur’an hal ini ditandai dengan larangan agar tidak mencampur adukkan yang hak dengan yang batil (Surat Al Baqarah (2) : 42).

Proses membersihkan gelas adalah perumpamaan dari mensucikan jiwa. Dalam istilah tarekat, membersihkan jiwa disebut takhalli, yaitu mengosongkan jiwa dari kemaksiatan. Namun perlu diingat bahwa kemaksiatan itu sulit hilang jika sumber atau pemicu kemaksiatan itu tidak dibersihkan. Sekali lagi, bahwa sumber kemaksiatan tersebut adalah penyakit di dalam hati. Sedangkan mengerjakan amal saleh disebut tahalli, yaitu mengisi jiwa dengan kebaikan. Apabila jiwa telah bersih, amal saleh akan mudah dikerjakan. Orang yang terlepas dari sifat kikir mudah berbuat ikhlas dalam menafkahkan hartanya. Sebaliknya orang yang kikir selalu merasa berat menafkahkan hartanya walaupun di jalan Allah. Di dalam Al Qur’an mengerjakan amal saleh adalah salah satu syarat untuk berjumpa dengan Allah (Surat Khafi (18) : 110). Hasil dari takhalli dan tahalli adalah tajalli, yaitu penampakan atau terbukanya hijab yang menutup mata hati. Sehingga, dengan tajalli sebagai rahmat dari Allah seseorang akan terbimbing di dalam ucapan dan tindakannya. Tajalli ditandai dengan kemampuan membedakan antara yang haq dan bathil.

Allah mensucikan manusia
Bahwa sifat Allah sebagai Dzat Yang Maha Suci telah diperkenalkanNya di dalam Al Qur’an. Lebih dari itu, Allah mensucikan setiap orang yang dikehendakiNya dari perbuatan keji dan mungkar. Hal inipun telah difirmankanNya secara jelas seperti tertera pada ayat berikut. ini. “…. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. …” (Surat An-Nuur (24) : 21).

Tujuan taubat
Secara singkat tujuan dari bertaubat kepada Allah adalah kembali ke jalanNya, yakni jalan yang lurus. “Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”, (Surat (Az-Zumar (39) : 53 dan 54).

Ayat-ayat di atas menjelaskan beberapa hal tentang taubat, antara lain:
Pertama, seruan taubat ditujukan kepada hamba Allah yang melampaui batas. Tidak dapat disangkal setiap manusia di dalam kehidupannya ini pernah berbuat dosa yang melampaui batas, seperti durhaka kepada orangtua, mengambil harta milik kerabat, memakan harta anak yatim, membunuh, berzina, korupsi dan sebagainya. Hanya Nabi Muhammad S.a.w yang benar-benar terjaga dari perbuatan buruk, karena beliau adalah Nabi dan Rasul yang diutus untuk mencontohkan akhlak terhormat. Mustahil hamba terpilih, utusan Allah berbuat aniaya terhadap dirinya apalagi terhadap orang lain.

Kedua, Surat Az-Zumar (39) : 53 di atas dilanjutkan dengan seruan yang menyejukkan hati dan jaminan dari Allah agar tidak berputus asa dari rahmatnya, karena Allah mengampuni semua dosa. ‘Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. Dalam menyikapi ayat di atas sangat tergantung pada masing-masing diri. Akankah kesempatan berharga untuk bertaubat yang dikaruniakan Allah ini dilewatkan begitu saja? Ataukah tetap dengan kesombongan dengan niat bertaubat ketika usia tua nanti? Padahal usia senja itu belum tentu datang. Allah telah berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main. Hati mereka dalam keadaan lalai,” (Surat Al-Anbiyaa (21) : 1, 2 dan 3).

Dalam kehidupan, sering dijumpai orang yang sekarat dituntun agar dapat menyebut asma (nama) Allah dengan bersusah payah. Ada kelegaan jika orang yang sekarat itu dapat menyebut asma Allah ketika ia menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir. Sebaliknya, timbul kesedihan jika ia gagal menyebut asma Allah pada saat itu. Sudah sepatutnya dalam hal seperti ini setiap orang bertanya kembali kepada dirinya sendiri serta mengambil hikmah dari keadaan tersebut. Mengapa seseorang mesti menuntun atau mungkin pada kali lain ia dituntun menyebut asma Allah justru dalam keadaan kritis? Bukankah sekarang, selagi masih ada kesempatan seseorang dapat mengingat Allah sebanyak-banyaknya? Mengapa lalai? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab sendiri bagi orang yang meyakini kehidupan akhirat dan tidak ingin menyesal.

Ketiga, jika manusia bertaubat, maka sebenarnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Setiap orang dihimbau supaya kembali kepada jalanNya, yaitu kembali mengerjakan hal-hal yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang, serta bertawakal hanya kepadaNya. Berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi. Dari uraian di atas, bertaubat adalah upaya ke luar dari mengerjakan hal-hal yang batil dan mengerjakan hal-hal yang baik supaya dapat mengenal, menemui dan mencintai Allah. Awal dari beragama adalah mengenal Dzat Yang Hidup dan senantiasa mengurus makhlukNya. “… . Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (Surat An-Nuur (24) : 35).

Menjaga taubat
Upaya menjaga taubat lebih sulit dari pada bertaubat itu sendiri. Bertaubat dapat dilakukan dengan menanamkan keyakinan ke dalam hati paling dalam bahwa sejak saat keinginan tersebut diikrarkan, maka segala bentuk kebatilan ditinggalkan dan berbagai kebaikan dikerjakan. Inilah yang disebut dengan kembali kepada jalan lurus, dan ini pulalah hasil dari permohonan yang diucapkan minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam ketika mengerjakan salat. “Tunjukilah kami jalan yang lurus”, (Al-Faatihah (1) : 6). Oleh karena itu, seandainya seseorang masih melakukan perbuatan keji dan mungkar, seperti menggunjing, berzina, membunuh dan korupsi maka orang itu belum dapat dikatakan bertaubat. Salatnya pun belum membuahkan hasil, karena sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (Surat Al-‘Ankabuut (29) : 45).

Proses bertaubat dapat berlangsung sesaat, namun menjaga janji yang diikrarkan adalah selama hayat masih dikandung badan, yaitu selagi Dzat Yang Hidup Kekal masih mengaruniai kehidupan kepada jasad atau selagi Dzat Yang Hidup masih mengurus badan. Ibarat merebut predikat juara pada suatu cabang olah raga, maka memperebutkannya lebih mudah dari mempertahankan. Sebab, setiap juara masih harus menghadapi sejumlah lawan yang tangguh. “Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah lagi kekafirannya, niscaya tidak akan diterima taubatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong” (Surat Aali-‘Imraan (3) : 90 dan 91).

Dua ayat di atas memberitahukan bahwa taubat tidak dapat dipermainkan. Apabila seseorang bertaubat dalam arti ia menjadi beriman, ternyata kemudian kafir kembali dan semakin bertambah kekafirannya, maka Allah tidak mengampuninya. Kemudian jika ia dimatikan, Allah tidak mengampuninya, walaupun ia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi. Selanjutnya ayat-ayat ini secara tidak langsung memberitakan supaya setiap orang menjaga taubat yang telah diikrarkan. Sekali bertaubat, sesungguhnya taubat tersebut adalah untuk seterusnya.

Agar terjaga dari taubat, yakni tidak kembali melakukan larangan Allah yang akhirnya membuatNya murka, maka harus dilakukan tindakan pengamanan terhadap taubat tersebut. Langkah-langkah yang dapat ditempuh sebagai pedoman untuk tujuan ini antara lain adalah supaya selalu berserah diri hanya kepada Allah sambil selalu mengingatNya, berbuat kebaikan dan selalu bersama orang-orang yang beriman. “…. Sebenarnyalah, barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka berduka cita” (Surat 2: 112). “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar,” (Surat At-Taubah (9) : 119). “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru TuhanNya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Surat Al-Kahfi (18) : 28).

Cara mensucikan jiwa atau diri
Al Qur’an adalah pedoman manusia, kitab yang mulia dan lengkap. Oleh sebab itu, cara mensucikan jiwa pun telah dijelaskan di dalamnya. Langkah-langkah itu sebagai berikut:

A. Jika mensucikan jiwa diumpamakan dengan mandi, maka mandi menjadi perlu bagi orang yang badannya kotor. Demikian pula dengan mensucikan jiwa hanya perlu bagi orang yang meyakini jiwanya kotor dan perlu disucikan. Jika seseorang merasa dirinya suci maka tidak perlu baginya mensucikan diri. Namun hal ini adalah tidak mungkin, karena Allah telah membantah bahwa tidak seorang manusia pun bersih dari perbuatan keji dan mungkar. “…. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. …” (Surat An-Nuur (24) : 21).

B. Setiap orang yang beriman mesti meyakini bahwa Allah menyukai orang mensucikan dirinya. Orang tersebut adalah orang yang beruntung dan siapa mensucikan dirinya, maka ia mensucikan dirinya untuk kebaikan dirinya sendiri. “.... Dan Allah menyukai orang-orang yang selalu mensucikan diri” (Surat At-Taubah (9) : 108). “Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya” (Surat Asy-Syams (91) : 9). “…. Dan siapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan dirinya untuk kebaikan dirinya sendiri. …” (Surat Faatir (35) : 18

C. Mensucikan diri dikerjakan dengan berdoa dan bekerja. Manusia berdoa karena ia tidak mampu mensucikan dirinya sendiri, maka ia mesti berdoa kepada Allah, Dzat Yang Maha Suci supaya dirinya disucikan. Allah berjanji bahwa ia akan mengabulkan doa hamba-Nya (Surat Al-Mu’min (40) : 60). Sedangkan Allah tidak menyalahi janjiNya. Manusia mesti bekerja karena ia memang diperintahkan bekerja (Surat At-Taubah (9) : 105). Mensucikan diri tidak dapat dikerjakan dengan mengulang-ulangi ayat-ayat Al Qur’an sampai sekian ribu kali. Sebagai contoh: melafalkan “Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya” sampai mulut berbuih tidak akan menjadikan diri suci. Ayat ini adalah keterangan tentang orang yang mensucikan jiwanya. “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Dan ada orang-orang yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan ada kalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana” (Surat Al-Taubah (9) : 105 dan 106).

D. Ketika permohonan pembersihan jiwa diajukan kepada Allah, sipemohon hendaknya juga memohon kiranya ia diampuni, serta berjanji kepada Allah bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatan batil yang pernah dikerjakan. Ayat berikut adalah panduan yang dapat dihunjamkan ke dalam hati paling dalam ketika memohon ampunan. Mesti ada keyakinan bahwa Allah mendengar semua seruan, sekalipun hanya disampaikan dalam hati. Sehingga si pemohon tidak perlu memohon ampunan sampai berteriak. “Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (Surat Al-Israa (17) : 81).

E. Untuk sampai ke tingkat pembersihan jiwa ini, dengan sangat menyesal rincian cara dari satu tahap ke tahap berikutnya belum dapat dikemukakan dalam NOTE ini. Pembersihan ini memerlukan bimbingan tersendiri. Selain itu ada beberapa kalimat kunci yang harus dipahami. Proses pembersihan harus dilakukan secara terbimbing. Apabila kalimat kunci diketahui oleh orang yang belum berhak menerimanya dikhawatirkan dapat merugikan orang itu sendiri, (Surat An-Nisaa (4) : 58). Kalimat dimaksud diterangkan di dalam Surat Al-Baqarah (2) : 37. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (Surat Al-Baqarah (2) : 37). Hakikat dari beberapa kalimat yang diturunkan Allah kepada Adam tersebut harus diketahui dan dipahami terlebih dahulu. Kalimat yang bertujuan sama juga pernah diturunkan kepada Nabi Yunus. Namun karena Mukmin dan Mukminat sekarang adalah pengikut Nabi Muhammad Saw, maka syariat yang diikuti adalah syariat yang beliau bawa, (Lihat Surat Al-Hajj (22) : 67).

F. Berdasarkan pengalaman, lama pembersihan sangat beragam. Bagi peminat yang beruntung, pembersihan dapat diselesaikan dalam waktu 30 menit dan ada pula yang mencapai tiga hari, bahkan satu minggu. Cepat atau lambatnya masa pembersihan diantaranya ditentukan oleh upaya pemohon dalam memohon agar jiwanya dibersihkan Allah dari kotoran-kotoran yang ada.

Penutup
Sebagai penutup bahasan tentang taubat dan mensucikan diri, setiap jiwa hendaknya merenungi ayat berikut seraya mengikrarkan ke dalam hati dengan meyakini dengan sesungguhnya bahwa Allah mengetahui apa pun yang dibisikkan di dalam hati. “Katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi” (Surat Saba’ (34) : 49). Semoga Allah SWT membimbing setiap hambaNya yang beriman dan berbuat baik kepada CahayaNya yang Dia janjikan, (Surat An-Nuur (24) : 35), karena sesungguhnya tidaklah sama antara gelap dan cahaya, (Surat Faatir (35) : 20).


2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com

    Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
    -Situs Aman dan Terpercaya.
    - Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
    - Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
    - Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
    - Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
    -Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
    - 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI

    8 Permainan Dalam 1 ID :
    Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66

    Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
    BBM: 2AD05265
    WA: +855968010699
    Skype: smsqqcom@gmail.com

    BalasHapus